Cara Memulai Ide Penulisan

Cara Memulai Ide Penulisan

BAGIKAN

Dan tulisan ini untuk siapa saja yang ingin belajar menulis. Darimana kita harus memulai ide penulisan itu?, mudah mudahan ada manfaatnya.

Darimana kita mulai menulis? demikian sms pagi yang kuterima saat sedang asyik menulis sesuatu untuk pekerjaan kantor. ini pertanyaan umum bagi penulis. tak peduli engkau penulis amatir, profesional atau penulis bangkotan, engkau akan selalu terbentur dengan persoalan klasik ini.

jawabanku sederhana saja. kita bisa mulai dari mana saja. menulis itu sama seperti pekerjaan lainnya, entah engkau sedang kalut, bingung, atau susah. pak pos akan tetap mengantar surt meski hatinya sedang galau atau susah. seorang perajin mebel ukir jepara harus tetap berkarya meski sudah tiga hari kepalanya pusing karena tak mendapat “jatah” dari istrinya yang sedang mengambek. lantas mengapa berhenti menulis hanya karena sedang pusing, atau tak punya ide? seperti kata kawan saya, seorang penulis terkenal, yang dibutuhkan adalah “tindakan,” “action.” jangan biarkan tangan menganggur, atau hanya memelototi layar blog yang kosong melompong hanya karena tak punya ide.

Tetapi jika tak punya ide apapun, apa yang mesti ditulis? mungkin begitu pertanyaan selanjutnya. aku jawab, apa saja. Saat tak punya ide, tulis saja apa yang terlintas dalam benakmu. Biasanya ide akan muncul di tengahtengah kebingungan menulis. oh ya, tentu jangan takut jika tulisan jadi buruk. menulislah dengan buruk. itu saran kawan saya. Demikianlah, dari tulisan buruk akan muncul ide. dan tidak usah cemas soal tulisan buruk — toh ia masih bisa diedit, dimodifikasi, atau dihapus sama sekali.

Dulu, saat masih sekolah, aku sering menulis hal hal sepele. semisal, tentang hujan pagi hari. atau bahkan sekadar bercerita tentang seekor semut yang bergotongroyong mengangkut makanan. menulis halhal ringan, seperti menulis catatan harian, adalah bentuk melatih memperlancar menulis. jika ada orang bilang tak punya waktu untuk latihan menulis, itu adalah dalih kemalasan. berlatih menulis setiap hari tak butuh waktu berjamjam. Jika dalam sehari engkau bisa berjalanjalan, nongkrong ngopi dan merokok, nonton tivi, tidurtiduran, mengapa tak ada waktu untuk sekadar berlatih menulis?  aku menulis halhal sepele bertahuntahun. yang penting tak ada beban. kadang kita belumbelum sudah membebani diri sendiri dengan muatan macammacam: aku ingin menulis bagus, aku ingin menulis yang menarik, menulis indah, menulis yang puitis, jadi penulis terkenal, dan lainlain. Yang kita lupa, beban beban semacam itu sesungguhnya adalah hasil dari kerja keras kita dalam berproses. Kita tak pernah tahu akan seperti apa jadinya diri kita ketika terus menerus berproses menulis. Aku tak pernah berpikir jadi penulis terkenal, tetapi seperti kata pepatah yang sedang populer, man jadda wa jada, man shabara zhafira, proses keistiqomahan menulis menyebabkan dunia tulis-menulis sebagai wasilah untuk mendapatkan nafkah.

Ada pelajaran menarik dari kawan penulis.  begini:

Ada sesuatu yang sederhana yang kerap lolos dari pengamatan kita. Saya akan mengambil diri saya sendiri sebagai contoh. Ketika ditanya: bagaimana caranya agar tulisan kita dibaca orang? Hati saya tidak bereaksi. Datar dan hambar. Yang sibuk berputar untuk menjawab adalah kepala saya. Sementara ketika ditanya: apa motor yang menggerakkan saya berkarya, yang bisa membuat saya menggelepar seperti cacing kena garam, yang mampu membuat rahang saya kejang karena gemas, yang bisa melesatkan saya menembus atmosfer bahasa? Hati saya seketika tergetar. Ada sesuatu yang hidup, yang dahsyat, yang langsung mengaliri tubuh saya. Sementara kepala saya cuma bisa kelimpungan mencari penjelasan yang memang di luar kesanggupannya.

Sesuatu itu, teman-teman, adalah sesuatu yang paling penting untuk ditemukan. Sisanya bonus. Kepala Anda tidak bisa menjawabnya. Hanya hati yang tahu. Di titik pertemuan antara Anda dan bara api yang membakar jiwa Anda itulah kabut kepenulisan akan meluruh dengan sendirinya. Anda seketika bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Mana yang esensi dan mana yang aksesoris.

Pengetahuan itu seperti harta. dan harta itu seperti makanan. jika engkau menyimpannya saja, ia akan membusuk. seperti harta yang harus terus disalurkan, seperti makanan yang harus diolah dan di makan, demikian pula pengetahuanmu perlu diperlakukan dengan cara yang sama. membiarkan pengetahuan hanya ada di kepala, hanya akan menyebabkan pengetahun menjadi fosil, benak menjadi penuh dengan pengetahuan usang. Dengan menulis, pengetahuan di otak akan tersalurkan, dibagikan, dan diambil oleh orangorang yang tau cara mengambil manfaatnya. Dan dengan menyalurkan pengetahuan, sama artinya mengolah pengetahuan menjadi sesuatu yang bergizi, menyerap saripatinya, dan membuang yang tak perlu. maka muatan otak akan berkurang, dan siap diisi pengetahuan baru. demikianlah. Untuk mendapatkan pengetahuan baru, kita tak boleh membiarkan pengetahuan bersemayam dan memfosil di benak. Pengetahuan yang memfosil hanya berguna untuk diperdebatkan, tetapi tak bisa dipakai menghadapi realitas yang terus berkembang. Jika benak penuh oleh pengetahuan yang telah memfoisl, masih adakah ruang bagi pengetahuan  baru? cangkir kopi yang penuh dan dingin, tak bisa  ditambah kopi panas lagi. jika dipaksa, air kopi yang panas dan segar akan meluber.

Demikianlah. seperti sahabat saya pernah menuliskannya: sesuatu yang kacau pun tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali. Lebih baik menghasilkan draft tulisan yang buruk ketimbang hanya merenungi kertas kosong atau layar kosong selama berjam-jam.

BAGIKAN
Artikulli paraprakPenyakit Para Guru
Artikulli tjetërTanya Jawab Bid’ah

4 KOMENTAR

  1. mas,kayakny Mas harus lebih banyak belajar lagi deh mengenai tata bahasa,topik,dan pemilihan bahasa yang tepat..kadang2 titik koma tdk jelas sehingga satu kalimat jadi rancu pemaknaannya.
    tapi,apapun itu,salut ya atas keberaniannya.

TINGGALKAN KOMENTAR