Buku BEST SELLER Bukan Jaminan Menjadi BEST TELLER

Buku BEST SELLER Bukan Jaminan Menjadi BEST TELLER

BAGIKAN

Pengantar

Sebuah buku yang best seller (laris manis terjual) bisa menjadi sumber finansial bagi penulisnya dan bahkan berlimpah ruah. Paling tidak itu terbukti pada JK Rawling penulis buku fiksi Harry Potter. Dia termasuk orang terkaya di dunia versi majalah FORBES, edisi Maret 2010, dengan total kekayaan lebih dari Rp 10 triliun. Hampir sebagian besar kekayaannya bersumber dari royalty buku dan film.

Profesi sebagai penulis seolah-olah begitu menggiurkan dan menarik minat banyak orang. Kisah sukses JK Rawling dan tokoh-tokoh lain yang karyanya menjadi BEST SELLER menjadi sumber penghasilan/juru bayar bagi dirinya yang besar (BEST TELLER). Tidak mudah untuk menggapai itu semua, butuh perjuangan keras, pantang menyerah dan penuh kreativitas.

Di Indonesia, penulis semacam Ary Ginanjar dengan ESQ-nya atau Hermawan Kertajaya dengan MarkPlus-nya adalah para penulis. Mereka dulunya juga bukan apa-apa (penulis hebat), tetapi toh akhirnya menjadi orang kaya, dan salah satu pintunya adalah sebagai penulis buku.

Problematika Best Seller

Namun demikian, kisah-kisah kegagalan, frustasi dan antipati terhadap dunia tulis menulis juga banyak beredar dan sering saya dengar. Sebagai pengamat dan pernah menjadi penulis buku yang tidak best seller saya mencoba mengumpulkan, apa kira-kira yang bisa menjadikan mereka sukses :

 1)    Aturan hukum dan sosial budaya masyarakat

Ketika buku karya anda laris terjual di pasaran (best seller) tidak secara otomatis mendatangkan keuntungan besar pula kepada anda. Banyak faktor yang menentukannya. Faktor aturan hukum merupakan faktor kunci dalam hal ini. Para penulis di Eropa atau Amerika bisa terlindungi karyanya dan mendapatkan imbalan yang sangat layak atas jerih payah tersebut. Itu semua dilindungi oleh peraturan perundangan serta penerapannya yang maksimal. Maka jangan heran, jika JK Rawling duduk manis menunggu bukunya menjadi BEST Teller yang siap mengisi rekeningnya terus menerus. Bandingka dengan di Indonesia, pembajakan, plagiat begitu mudah dilakukan dan tidak diperlakukan sebagai kriminal. Penegakan hukum belum maksimal, meski sudah ada Undang-undang tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual.

Di sisi lain, kondisi sosial masyarakat juga menentukan. Tingkat kesadaran hukum, minat baca sangat menentukan. Ketika minat baca tinggi, masyarakat di Barat mencari buku-buku yang sah dan resmi, itu artinya memberikan royalty kepada penulis. Penerbit demikian pula, berlaku fair memberikan royaltynya kepada penulis. Di Indonesia? Meski sistem pembelian penerbit atas naskah penulis adalah sebagian cash dan royalty, belum tentu pembayaran royalty dilakukan dengan sepenuh-penuhnya (mungkin anda pernah mendengar kisah Pramudya A.T yang protes soal royalty).

2)    Buku dengan tema menarik dan “sangat dibutuhkan”

Buku-buku yang menjadi best seller biasa adalah buku yang menarik minat baca masyarakat (pasar), apakah menariknya itu sebab kontroversi, menyentuh simpati, tragis atau apapun. Yang penting lagi adalah dibutuhkan. Menggabungkan 2 nilai, menarik dan dibutuhkan tidak mudah. Banyak buku dibutuhkah, tetapi disajikan dengan tidak menarik, dari judul, desain, penataan isi dan isinya sendiri. Ada juga buku menarik tetapi tidak dibutuhkan banyak orang. Misalnya buku soal rahasia sex raja-raja firaun, tidak semua kalangan membutuhkan itu.

 3)    Tidak berhenti di buku

Banyak keberhasilan para penulis buku, khususnya yang saya sampaikan di atas, bukan semata-mata karena bukunya itu sendiri. Tetapi aktivitas lainnya yang berkaitan dengan buku. Buku Harry Potter tidak akan menghasilkan demikian besar uang, jika tidak dilanjutkan dalam bentuk sebuah film layar lebar yang bagus. Tulisan-tulisan Hermawan Kertajaya di Jawa Pos juga tidak akan berarti apa dari sisi finansial, jika tidak diikuti konsultasi marekting melalui MarkPlus. Demikian pula Ary Ginanjar, buku tentang ESQ jauh lebih berarti baik dari sisi kualitas, maupun finansial ketika itu diterjemahkan dalam bentuk-bentuk pelatihan leadership.

4)    Manajemen marketing yang komprehensive

Mempromosikan sebuah buku, meski itu sangat bagus bisa kurang laku, jika tidak diimbangi dengan marketing yang plus dan komplit. Banyak saat ini bermunculan para penulis buku yang sekaligus sebagai motivator dalam bidang masing-masing. Jika anda membaca bukunya, anda mungkin menganggap biasa-biasa saja. Tetapi karena dilakukan promosi yang menarik, massiv dan diikuti kegiatan bedah buku dengan gaya motivasi, maka buku itu menjadi nampak menarik dan akhirnya dibutuhkan banyak orang. Bisa saya sebut di sini adalah apa yang dilakukan oleh beberapa kenalan saya, Kirana Kejora dengan buku Elang-nya, yang ditata promosinya melalui manajemen khusus, dari desain, launching, kegiatan bedah buku dan sebagainya. Semua menjadi satu paket. Seperti juga Laksita Utama Suhud penulis buku Start Up Business Wizard dan Lupeng Magnum penulis Takonology, berkisah banyak pengalamannya, bahwa setelah buku selesai dicetak, diterbitkan dan dijual, maka penulis harus melakukan promosi dalam berbagai bentuk kegiatan. Tanpa itu buku tidak akan berarti apa-apa. Dan dari pengalaman mereka, dari kegiatan itulah dana-dana masuk ke rekeningnya.

 

Penutup

Masih banyak hal yang bisa menjelaskan mengapa para penulis di Indonesia masih enggan “meyakini” bahwa buku merupakan sumber penghasilan yang sangat menjanjikan (menjadi best teller). Maka, kreativitas menciptakan peluang yang berkaitan atau berkorelasi dengan buku yang ditulisnya adalah sebuah langkah cerdas untuk mengatasi problem sosial dan hukum di Indonesia.

Anda tertarik dan mau mencoba? Pikirkanlah dengan matang, jangan sampai anda jatuh ke dalam kubang idealisme yang memiskinkan.

TINGGALKAN KOMENTAR