Bersuci / Thaharah

Bersuci / Thaharah

BAGIKAN

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

A       Thaharah yang dalam Bahasa Indonesia “Bersuci” secara bahasa adalah bersih, bebas dari kotoran inderawi seperti bersih dari hadas dan kotoran; dan bersih dari kotoran maknawi seperti bersih dari penyakit hati, bangga diri, sombong, dengki dan pamer.

B       Thaharah atau Bersuci secara syara’ adalah menghilangkan hadas, atau menghilangkan najis, atau hal-hal yang semakna dengan keduanya (yakni hadats dan najis) atau hal-hal yang serupa dengan keduanya. Ini adalah definisi Imam An-Nawawi, guru besar madzhab Syafi’i.

 

Penjelasan definisi

1.      Menghilangkan hadats / Bersuci dari Hadats : seperti dengan cara berwudlu atau mandi besar.

2.      Menghilangkan najis / Bersuci dari Najis : seperti istinja’ dengan menggunakan air, mencuci pakaian yang terkena najis.

3.      Yang semakna dengan menghilangkan / Bersuci dari hadats : seperti tayammum; wudlu yang dilakukan oleh orang yang berpenyakit beser kencing. Karena dengan bertayammum, hadas belum hilang, tayammum diperintahkan agar diperkenankan melakukan shalat. Demikian juga wudlu bagi orang yang berpenyakit beser kencing, wudlunya tidak bisa menghilangkan hadas, karena air kencing terus menerus keluar.

4.      Yang semakna dengan menghilangkan najis / Bersuci dari Najis : istinja’ (Cebok) dengan menggunakan batu, karena sisa najis masih ada, tetapi diperbolehkan sebatas untuk hajat, karena ada keringanan (rukhshah) berdasar nash syari’at (yakni hadis).

5.      Yang serupa dengan menghilangkan hadas / Bersuci dari Hadats : seperti mandi-mandi sunnah (kriteria mandi sama seperti dalam mandi besar, tetapi tidak ada hadas besar yang dihilangkan, karena memang tidak sedang ber-hadas besar); wudlu yang diperbaharui (yakni, orang yang masih memiliki wudlu, tetapi berwudlu lagi untuk tujuan tertentu, shalat kedua atau kepentingan lainnya. Kriteria wudlu pembaharuan ini tidak beda dengan wudlu yang digunakan untuk menghilangkan hadas kecil. Dalam hal ini tidak ada hadas kecil yang dihilangkan, karena memang tidak sedang berhadas kecil)

6.      Yang serupa dengan menghilangkan najis / Bersuci dari Najis : seperti basuhan kedua dan ketiga dalam menghilangkan najis (ini jika basuhan pertama telah mampu menghilangkan najis. Dan memang berapapun basuhan, yang bisa menghilangkan najis itulah yang dianggap basuhan pertama. Dalam basuhan kedua dan ketiga hal ini, tidak ada najis yang dihilangkan, tetapi bentuk basuhannya sama seperti basuhan pertama. Basuhan kedua dan ketiga ini hukumnya sunnah.)

Bentuk-bentuk thaharah / Bersuci ada 4 (empat) :

1.      Wudlu

2.      Mandi

3.      Tayammum

4.      Menghilangkan najis

Media thaharah / Bersuci ada 4 (empat) :

1.      Air, jika suci dan mensucikan (air mutlak)

2.      Tanah, jika suci, mensucikan, murni (tidak bercampur), dan berdebu

3.      Penyamak, jika kesat dan mampu menghilangkan sisa-sisa darah dan lendir dari kulit bangkai.

4.      Batu untuk istinja’, jika mampu menghilangkan kotoran, padat, suci dan bukan benda terhormat (semisal, bukan makanan, bukan kertas bertuliskan ayat-ayat Qur’an)

Catatan:

A       Hadas adalah sebuah keadaan yang mencegah keabsahan shalat seseorang. Sifat hadas ini tak terlihat. Hadas ada dua macam, hadas kecil, dihilangkan dengan cara wudlu; dan hadas besar, dihilangkan dengan mandi. Jika diungkapkan hadas saja (tanpa embel-embel “kecil” atau “besar”, maka yang dikehendaki adalah hadas kecil)

B       Najis adalah sesuatu yang dianggap jijik yang mencegah keabsahan shalat, di saat tidak ada dispensasi.

C       Istinja’ adalah menghilangkan sesuatu yang keluar dari dua jalan (jalan pelepasan depan dan belakang)

D       Memperbaharui wudlu (tajdidul wudlu) hukumnya sunnah jika wudlu pertama telah digunakan untuk sesuatu yang membutuhkan wudlu. Misal, sehabis wudlu pertama lalu shalat. Setelah shalat, seseorang ingin shalat lagi, maka ada kesunnahan untuk memperbaharui wudlu dengan melakukan wudlu kedua kalinya meskipun belum berhadas. Jika dengan wudlu pertama belum digunakan untuk apa-apa, lalu wudlu lagi, maka wudlu kedua ini tidak bisa disebut “memperbaharui wudlu” yang hukumnya sunnah, bahkan “pembaharuan wudlu” semacam ini hukumnya makruh. Karenanya, ada kesunnahan melakukan shalat sunnah 2 rakaat sesudah wudlu (biasa disebut shalat sunnah li syukril wudlu’).

Wallaahu a’lam bish-shawaab.. (imm)

* Disarikan secara bebas dari At-Taqrîrât as-Sadîdah fî Masâil al-Mufîdah

Artikel ini terkirim via form kontak Antar Kopi pada Warkop Mbah Lalar dari Warkoper

TINGGALKAN KOMENTAR