Berita Dan Tasawauf

Berita Dan Tasawauf

BAGIKAN

Saya, mungkin juga termasuk anda, adalah orang yang suka berita. Tetapi kalau tiap hari harus memelototi berita rasanya bosan juga. Kejenuhan secara perlahan dan pasti akan hinggap dalam mata kita. Media massa selalu berusaha menyajikan berita-berita yang luar biasa, berita panas, jika perlu bombastis.

Berita Dan Tasawuf

Sebuah peristiwa bisa menjadi berita besar seringkali karena berkaitan dengan subyek berita itu sendiri.

Seperti berita mantu Pak Hatta Rajasa. Mantu merupakan hajatan yang biasa-biasa saja. Tapi karena Pak Hatta Rajasa, seorang menteri, maka bisa menjadi luar biasa. Apalagi plus, sedikit bumbu aroma mantu politik, jadi tambah seru. Hal lainnya adalah berkaitan dengan peristiwa itu sendiri yang luar biasa, seperti berita korupsi, jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak. Di saat saya dan anda sudah jenuh dengan berita politik, maka kita disuguhi berita soal korupsi. Begitu berita besar lain belum tersajikan, tema korupsi dibuat berseri-seri, seri Nazarudin, seri Anggie, seri-seri lainnya. Semua menyedot perhatian kita. Dan bodohnya saya adalah, ketika sudah jenuh dengan berita, tetap saja tertarik dengan berita, dengan harapan ada seri-seri berita yang tidak monoton. Sesuatu yang bikin kita bosan, tetapi tetap saja dicari.

Infotainment yang bagi sebagian kalangan tetap dimasukkan sebagai berita. Sadar bahwa berita berdasarkan peristiwa atau fakta sering membuat jenuh orang, maka infotainmen lebih memilih tokoh, khususnya artis sebagai pokok berita itu sendiri. Sisi-sisi artis, apa saja bisa menjadi berita. Bahkan hal sepele, soal sepatu bisa menjadi luar biasa ditangan para awak media infotainmen. Kehidupan glamour, kesuksesan, kekayaan dari artis menjadi daya pikat yang kuat. Seolah para pembaca/penonton membayangkan seolah dia juga bisa menjadi artis. Kalau perlu meniru model rambut atau pakaian sudah cukup untuk mengidentikkan dirinya seperti artis yang disuka. Begitu sederhana, namun sangat menghibur dan menjadi pelipur duka lara keseharian. Sisi yang kurang layak disajikan pun tetap saja menjadi hal luar biasa dalam infotainmen. Percekcokan rumah tangga artis, selingkuh dan perceraian adalah aib yang disukai untuk didengar. Repotnya, banyak di antara kita menjadikannya ukuran menilai sesuatu menjadi lumrah dan biasa, karena artis juga biasa cekcok, kawin cerai. Sekali lagi, daya tarik model infotainmen ini malah yang disukai. Cukup anda menjadi penonton setia infotainmen, kenal banyak kehidupan artis, sedikit meniru gaya artis, menjadikan anda merasa seolah-olah jadi artis itu sendiri.

Berita sebuah fakta atau peristiwa akan mengajari kita mengenal dunia sekitar kita, mengajari kita menganalisa sebuah peristiwa dengan konstruksi logika media, yang tetap saja memberi peluang adanya gosip dan spekulasi. Bagaimanapun tetap memberi peluang kita menjadi lebih pandai. Sementara infotainmen, memberi kita hiburan dan motivasi yang luar biasa, bisa melupakan sejenak kesusahan hidup sehari-hari. Orang tidak perlu pandai, tetapi cukup bahagia.

Tasawuf kadang terpahami oleh saya, mungkin anda tidak jauh berbeda, adalah laiknya berita. Membosankan dan terlalu memeras pikiran. Kita selalu menuntut perubahan terus-menerus. Latihan-latihan ruhani yang menuntut disiplin tinggi membuat kita jenuh dengan latihan tersebut. Menuntut hasil yang jelas berbeda dan berubah. Naik derajat dengan pasti. Pokoknya harus naik level. Padahal tasawuf tidak mudah dijalani. Satu latihan saja membutuhkan waktu bertahun-tahun, tanpa kepastian keberhasilan dan kelulusannya. Bagi yang tidak tahan dengan hal demikian seperti saya, memandang taswauf seperti infotainmen menjadi penghibur semata.

Kisah, cerita para tokoh sufi selalu kita buru. Sementara ajaran, laku, dan latihan-latihan sebagai proses pendidikan hanya diperhatikan sambil lalu. Gaya hidup para sufi yang digambarkan aneh-aneh menjadi ukuran dan label. Dengan penguasaan kita pada kisah hidup seorang sufi sudah menjadi bekal lebih untuk disebut sebagi ahli tasawuf. Jika sudah demikian, maka saya sudah menjadi tukang cerita saja, menjadi pekerja infotainment dari tasawuf yang begitu mulai. Oh betapa malangnya…….

TINGGALKAN KOMENTAR