Bergaya Ilmiyah Menfitnah Ilmuwan

Bergaya Ilmiyah Menfitnah Ilmuwan

BAGIKAN
gambar di ambil dari google: Bergaya Ilmiyah Menfitnah Ilmuwan

Sebelum kita melangkah ke inti permbicaraan ada baiknya kita tahu kaedah penerjemahan yang legal itu yang bagaimana, sebab selama ini banyak sekali beredar dalam Dunia informasi baik melalui Media Buku dan Situs yang dalam menerjemahkan itu tidak memperhatikan dan mempedulikan Kaedah-kaedahnya, sehingga pada kalangan awam menengah dapat menimbulkan kegoncangan dan pada kalangan intlektual menimbulkan kerisauan Ilmiyyah.

Sering Kita Jumpai Orang-orang yang bergaya ilmiyah yang mencoba meruntuhkan kredibilitas seorang ilmuwan dengan cara mengutip perkataannya dalam bahasa Arab dan di terjemahkan dengan Bahasa Indonesia namun dengan metode terjemah yang tekstualis dan leterlijk atau secara Harfiyyah..

.

Sebenarnya Teori menterjemah hampir sama dengan kriteria mencari pacar bagi playboys, sebab disini harus menggunakan katagori cantik bukan lagi setia. Hal ini bisa kita simak dengan dua jenis cara menterjemah dengan baik, yaitu :

  1. Terjamah Maknawi merupakan sistematika mentarjemah dengan menggunakan pemahaman makna lalu diterapkan kedalam sebuah karya terjemah. jadi penterjemah harus pandai mengolah bahasa dengan tujuan keindahan dan memberikan kepuasan pemahaman pada pendengar atau pembaca.

 Dengan lebih spesifik, bila para ulama melakukan penaf­siran Alquran atau Hadits misalnya, dengan cara mendatangkan makna yang dekat, mudah, dan kuat; kemudian penafsiran ulama itu diterjemahkan dengan penuh kejujuran dan kecer­matan, maka cara ini dina­makan dengan terjemah tafsir atau terjemah Maknawi/Ma’nawi. dalam arti ulama itu mensyarahi dan menjelaskan maknanya ke dalam bahasa lain.

         2. Terjemah Lafdzi ialah cara mentarjemah dengan cakupan terbatas pada makna teks yang      akan diterjemah sehingga meninggalkan kesan bahasa yang indah sebab memiliki nilai keterbatasan pada teks asli ( model seperti ini dianggap seperti pacar yang terlalu setia sehingga kurang disukai oleh playboys) terje­mahan harfiah dengan penger­tiannya itu adalah mustahil untuk dapat dicapai dengan baik jika kon­teks bahasa asal dan cakupan semua maknanya tetap diper­tahankan. Sebab karakteristik setiap bahasa berbeda satu dengan yang lain dalam hal tertib bagian kalimat-ka­limatnya

Menerjemahkan Bahsa Asing (hususnya Arab) secara harfiah (Letterleijt) adalah suatu perkara  yang mustahil, mengingat penerjemahan semacam ini memerlukan beberapa persyaratan yang tidak mungkin dapat direalisasikan, yaitu:

 1.  Adanya mufradaat (sinonim) per-hurufnya antara bahasa penerjemah dan bahasa yang akan diterjemahkan

2. Adanya tanda baca yang sama pada bahasa penerjemah terhadap tanda baca pada bahasa yang diterjemahkan atau paling tidak mirip

3. Di dalam susunan katanya harus ada kesamaan antara kedua bahasa baik dalam kalimat, sifat atau pun tambahan-tambahannya.

Menerjemahkan secara harfiah bisa saja terealisasi pada sebagian ayat atau semisalnya akan tetapi sekali pun demikian ia tetap di tolak oleh Dunia Akademik  sebab tidak mungkin berfungsi menjadi makna yang sempurna .

Berdasarkan hal ini, maka sekali pun menurut perasaan penerjemahan secara harfiah dapat dimungkinkan pada seabagian kata-kata akan tetapi menurut Akademik ia tetap dilarang, Sebab selain itu bahasa Arab banyak menyelipkan rahasia-rahasia bahasa yang tidak mungkin dapat digantikan oleh ungkapan lain dalam bahasa bukan Arab, kecuali bila memang dapat menerjemahkan satu kata khusus dengan bahasa orang yang diajak bicara agar ia memahaminya dengan tanpa menerjemahkan semua susunannya, maka ketika itu tidak apa-apa.

Nah setelah kita memahami hal2 penting di atas, sekarang mari kita coba untuk sekedar membandingkan hasil karya seseorang di bawah ini, dan setelah itu Anda akan tahu betapa Orang-orang yang bergaya Ilmiyyah dalam hujatannya kepada Seorang Ilmuwan sepeti ini dan sejenisnya justru secara tidak sadar telah memamerkan betapa dia dalam kegelapan Intlektual, namun begitu percaya dan yakin akan nilai kesalafan di dadanya dengan cara merampas hak paten Orang2 Salaf itu sendiri. Sebagai berikut:

  1. Al-Imaam Abul-Qaasim Al-Laalikaa’iy rahimahullah membawakan riwayat dengan sanadnya sampai pada Al-Imaam Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy rahimahullah sebagai berikut :

“Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Ahmad bin Ibraahiim Ath-Thabariy, ia berkata : Aku mendengar Ahmad bin Yuusuf Asy-Syaalanjiy berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah Al-Husain bin ‘Aliy Al-Qaththaan berkata : Aku mendengar ‘Aliy bin Al-Husain bin Al-Junaid berkata : Aku mendengar Ar-Rabii’ berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Barangsiapa yang berkata lafadhku dengan Al-Qur’an atau Al-Qur’an dengan lafadhku adalah makhluk, maka ia seorang Jahmiy (penganut paham Jahmiyyah)’.

Coba Anda perhatikan terjemah yg  tercetak tebal dari kalimat من قال لفظي بالقرأن  أو القرأى بلقظى مخلوق فهو جهمي

Inilah yang di sebut dengan terjemah leterlij atau harfiyyah di atas, dan terjemah seperti akan di tertawakan oleh Orang yang tahu karakteristik bahasa aslinya. Jujur saja, apakah Anda akan bisa memahami gaya bahasa Indonesia yang di hasilkan dari terjemah di atas? Ataukah dia memang sengaja berbuat curang untuk mendukung intlektual gelapnya?

Saya tidak akan menjelaskan perangkat apa yang harus di gunakan ketika ingin memahami kalimat tersebut, karena hal itu tidak mungkin dapat di laksanakan dalam waktu singkat dan sekedar uraian terbatas dalam tulisan.

Singkatnya dengan kaedah Gramatika Bahasa Arab sederhana saja kita akan bisa menerjemahkan seperti ini:

“Barang siapa yang mengatakan bahwa Aku (Allah) Berkata2 dengan Wujud Al Quran (yang di maksud Al Quran disini adalah mushhaf, artinya Al Quran yang berupa rangkaian huruf itu adalah hakikatnya Kata2 Allah pen) atau Al Quran itu Wujud/tampak/terlihat dengan Kata2ku (Artinya Al Quran itu adalah wujud dari Kata2 Allah), maka dia telah kafir”

Kenapa saya menerjemahkan Lafadl dg “Kata2”? inilah yg di sebut terjemah pemahaman atau makna, akan saya bawakan penjelasan dari ‘Ulama Faforit mereka sendiri walaupun dalam keterangannya juga mengandung tanaqudl (ketidak sesuaian antara yang satu dengan yang lainnya ketika menjelaskan Perkataan Imam Syafi,I tersebut sebagai berikut:

وقد قال الإمام أحمد : (( من قال: لفظي بالقرآن مخلوق؛ فهو جهمي، ومن قال : غير مخلوق؛ فهو مبتدع )). Yang ini tidak perlu lagi saya terjemahkan…………

فنقول : اللفظ يطلق على معنيين : على المصدر الذي هو فعل الفاعل، وعلى الملفوظ به:

“Kami jelaskan: Lafadl itu terikat pada dua pengertian:  pada sumber yang mana dalam hal ini adalah merupakan perbuatan / pekerjaan yang mengerjakan, dan  terikat pada apa yang di lafadlkan” اما على المعنى الأول الذي هو المصدر؛ فلا شك أن ألفاظنا بالقرآن وغير القرآن مخلوقة. لأننا إذا قلنا: إن اللفظ هو التلفظ؛ فهذا الصوت الخارج من حركة الفم واللسان والشفتين مخلوق.

“Ada kalanya maksud dari lafadl itu adalah dalam pengertian yang pertama, maka tidak ragu lagi jika Lafadl2 kita (yang kita ucapkan pen) dengan Al Quran atau selain Al Quran adalah Mahluq. Karena Kami mengatakan: Lafadl adalah dalam pengertian Melafadlkan, dan ini adalah Suara yang keluar dari gerak mulut, Lisan dan dua bibir adalah Mahluq”

فإذا أريد باللفظ التلفظ؛ فهو مخلوق ، سواء كان الملفوظ به قرآناً أو حديثاً أو كلاماً أحدثته من عندك. – أما إذا قصد باللفظ الملفوظ به ؛ فهذا منه مخلوق، ومنه غير مخلوق، وعليه؛ إذا كان الملفوظ به هو القرآن؛ فليس بمخلوق.

“Jika yang di maksud dlam Lafadl itu adalah “Talaffudl” (melafadlkan) maka lafadl itu adalah Mahluq, baik yg di lafadlkan itu berupa Al Quran atau Hadits, atau Perkataan dari Anda sendiri, adapun jika yang di maksud “Lafadl” yang di maksudkan itu adalah yang di lafadlkan dengannya, maka lafadl dari yang di lafadlkan tersebut adalah Mahluq, dan dari Lafadl itu sendiri bukan Mahluq , dan atas dasar inilah jika yang di lafadlkan tersebut adalah Al Quran, maka itu bukan Mahluq”

Demikian ini cuplikan penjelasan dari:

شرح العقيدة الواسطية فضيلة الشيخ العلامة محمد الصالح العثيمين

Sumber: http://www.al-sunna.org

Kemudian terjemah berikut yang senada tidak akan saya jelaskan kembali, karena kasus yang sama:

Perkataan ini juga diriwayatkan dari AbInu Zur’ah dan ‘Aliy bin Khasyram” [Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Al-Laalika’iy, hal. 354 no. 599, tahqiq : Ahmad bin Mas’uud Al-Hamdaan; desertasi S3 Univ. Ummul-Qurraa].

‘Aliy bin Ahmad bin Yuusuf Al-Hakkaariy rahimahullah juga membawakan perkataan Al-Imaam Asy-Syafi’iy di atas dengan sanad Al-Laalika’iy sebagai berikut :

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nashr Ahmad bin Al-Khidlr Al-Faariqiy dan Abul-Hasan ‘Aliy bin Al-Husain Al-‘Ukbariy, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Qaasim Hubatullah bin Al-Hasan bin Manshuur Al-Faqiih Ath-Thabariy Asy-Syaafi’iy rahimahullah : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Ahmad Ath-Thabariy, ia berkata : Aku mendengar Ahmad bin Yuusuf Asy-Syaalanjiy berkata : Aku mendengar ‘Aliy bin Al-Husain bin Al-Junaid berkata : Aku mendengar Ar-Rabii’ bin Sulaimaan berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy radliyallaahu ‘anhu berkata : Barangsiapa yang berkata lafadhku dengan Al-Qur’an atau Al-Qur’an dengan lafadhku adalah makhluk, maka ia seorang Jahmiy (penganut paham Jahmiyyah)” [I’tiqaad Asy-Syaafi’iy oleh Al-Hakkaariy, hal. 23, tahqiq : Al-Barraak].

Demikan Anda bisa lihat secara detail, karena artikel ini saya copas langsung dari sini semoga setelah ini tidak di hapus sebagai barang bukti, walaupun sebenarnya saya mengharapkan untuk di hapus saja agar tidak memakan korban klagi.

Yang sangat tidak etis ketika Orang yang bergaya Ilmiyah ini mengikutsertakan Nama Seorang Ilmuan untuk di jadikan tumbal keteledorannya dalam memahami dan Tauhid kebanggaanya, lihat berikut:

Selanjutnya, saya akan mengajak Pembaca budiman untuk membandingkan dengan perkataan Al-Baijuriy – seorang pembesar madzhab Asy’ariyyah – dalam kitab Hasyiyyah Al-Baijuriy ‘alaa Jauharit-Tauhiid dalam permasalahan yang sama. Ia berkata :

 

“Madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah menyatakan bahwa Al-Qur’an dengan makna al-kalaamun-nafsiy (yaitu : yang berasal dari diri Allah ta’ala) bukanlah makhluk. Adapun Al-Qur’aan dengan makna lafadh yang kita baca, maka ia adalah makhluk. Akan tetapi terlarang untuk dikatakan : Al-Qur’an adalah makhluk – yang dimaksudkan dengannya adalah lafadh yang kita baca, kecuali dalam konteks pengajaran. Karena, perkataan tersebut bisa disalahartikan bahwa Al-Qur’an dengan makna kalam-Nya ta’ala (al-kalaamun-nafsiy – Abul-Jauzaa’) adalah makhluk. Dengan alasan itulah para imam melarang terhadap perkataan Al-Qur’an adalah makhluk” [hal. 160].

“Kesimpulan (dari pembicaraan ini), bahwa setiap nash yang nampak dari Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan huduutsul-Qur’aan (maksudnya : kemakhlukan Al-Qur’an – Abul-Jauzaa’) dibawa pada pengertian lafadh yang terbaca, bukan pada al-kalaamun-nafsiy. Akan tetapi tetap terlarang untuk dikatakan : Al-Qur’an adalah makhluk, kecuali dalam konteks pengajaran sebagaimana yang telah lalu (penyebutannya)” [hal. 162].

Jika demikian, bukankah perkataan Al-Baijuriy di atas – yang ini banyak diikuti oleh kaum Asy’ariy dahulu maupun sekarang – dapat diklasifikasikan sebagai perkataan Jahmiyyah ?. Tentu saja dengan catatan bahwa kita menganggap ‘aqidah Al-Imaam Asy-Syaafi’iy merupakan representasi dari ‘aqidah Ahlus-Sunnah.

Kembali saya bawakan i’tiqaad Al-Imaam Asy-Syaafi’iy sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Imaam Al-Baihaqiy rahimahumallah :

وقد ذكر الشافعي رحمه الله ما دل على أن ما نتلوه في القرآن بألسنتنا ونسمعه بآذاننا ونكتبه في مصاحفنا يسمى كلام الله عز وجل وأن الله عز وجل كلم به عباده بأن أرسل به رسوله صلى الله عليه وسلم

“Dan telah disebutkan oleh Asy-Syafi’iy rahimahullah keterangan yang menunjukkannya bahwa apa yang kita baca di dalam Al-Qur’an dengan lisan-lisan kita, kita dengar melalui telinga-telinga kita, dan kita tulis di dalam mushhaf-mushhaf kita; semua itu dinamakan Kalamullah ‘azza wa jalla (bukan makhluk – Abul-Jauzaa’). Dan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah berbicara dengannya kepada hamba-hamba-Nya melalui pengutusan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Al-I’tiqaad wal-Hidaayah ilaa Sabiilir-Rasyaad oleh Al-Baihaqiy, hal. 108, tahqiq : Ahmad bin ‘Ishaam Al-Kaatib, Daarul-Aafaaq, Cet. Thn. 1401, Beirut].

Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan tambahan pengetahuan kita tentang apa dan bagaimana ‘aqidah Asy’ariyyah itu…..

Warkop menjawab: Lalu di mana letak kesalahan kitab Imam Bayjuri tersebut? Apakah kita harus yakin jika ucapan basmalah misalnya yang kita lafadlkan dari bibir kita itu adalah Kalam yang Qadim? Apakah Mushhaf yang terangkai dari bebrapa Huruf, yang ada permulaannya, yang ada akhirnya, yang bisa saja sobek, yang bisa terbakar adalah Kalamullah yang Qadim? Hebat dong percetakan2 Mushhaf itu ternyata bisa memproduksi Kalam Allah!!! Apakah ini justru bukan pelecehan kepada Dzat Yang Qadim? Apakah harus di jelaskan kembali perbedaan Al Quran Kalamullah dan Al Quran sebagai Mushhaf? Bukankah Kitab Al Bayjuri itu justru mempertegas penjelasan Al ‘Utsaimin? Lalu bagaimana pula dengan Tokoh mereka yang menjelaskan seperti di atas? Jahmiyahkah Al ‘Utsaimin?  Inilah beberapa tanda Tanya yang bernada jawan atas artikel Sok Ilmiyah yang menghujat Seorang Ilmuwan. Sebenarnya perselisihan semacam ini telah di selesaikan para pendahulu kita Ratusan tahun yang lalu!!!!

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

2 KOMENTAR

  1. Terima kasih sudah ditunjukkan linknya. Hanya saja saya pingin tertawa (tanpa harus : he…he…he…), Anda menterjemahkan :

    من قال لفظي بالقرأن أو القرأى بلقظى مخلوق فهو جهمي

    “Barang siapa yang mengatakan bahwa Aku (Allah) Berkata2 dengan Wujud Al Quran (yang di maksud Al Quran disini adalah mushhaf, artinya Al Quran yang berupa rangkaian huruf itu adalah hakikatnya Kata2 Allah pen) atau Al Quran itu Wujud/tampak/terlihat dengan Kata2ku (Artinya Al Quran itu adalah wujud dari Kata2 Allah), maka dia telah kafir” [selesai kutipan].

    Ini namanya penta’wilan yang luar biasa. Namun sayangnya tidak sukses. Di antara hal paling lucu dan menyedihkan dari hal-hal lucu dan menyedihkan yang Anda katakan adalah Anda menterjemahkan :

    Man qaa lafdhiy….

    dengan : “Barang siapa yang mengatakan bahwa Aku (Allah) Berkata2 dengan Wujud Al Quran (yang di maksud Al Quran disini adalah mushhaf, artinya Al Quran yang berupa rangkaian huruf itu adalah hakikatnya Kata2 Allah pen)….”.

    Perhatikan kata-kata yang bercetak tebal. Lucu. Itu Imam Asy-Syaafi’iy sedang mengingkari orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Kok perkataan itu dinisbatkan pada Allah. Waduh-waduh… ngawurnya kok ya nemen ya…

    Lafdhiy diterjemahkan dengan Aku (Allah) berkata-kata.

    Al-Qur’an diterjemahkan jadi wujud Al-Qur’an. Padahal jauh sekali. Kemudian dita’wil dengan : “yang di maksud Al Quran disini adalah mushhaf, artinya Al Quran yang berupa rangkaian huruf itu adalah hakikatnya Kata2 Allah pen”. Sekali lagi, jauh sekali.

    Al-Qur’an bi-lafdhiy diterjemahkan : ‘Al Quran itu Wujud/tampak/terlihat dengan Kata2ku’.

    Fahuwa Jahmiy diterjemahkan : ‘maka dia telah kafir’. Padahal Jahmiy itu nisbat kepada kelompok Jahmiyyah yang menafikkan sifat-sifat Allah, termasuk menafikkan sifat Kalaam.

    Kalau itu memang yang benar menurut Anda, ya monggo saja. Kita semua jadi bisa saling mengukur kemampuan dan pemahaman. Saya tidak memaksa Anda harus setuju dengan saya. Hanya saja saya beri tahu bahwa : Terjemahan Anda itu ‘ngaco’. Maaf.

    dari: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/paham-asyariyyah-adalah-cucu-paham.html

    • ini namanya terjemah dengan metode pemahaman mas kalo leterlij ya seperti ini:
      من قال لفظي بالقرأن أو القرأى بلقظى مخلوق فهو جهمي

      “barang siapa yang mengatakan kata kataku dengan Al Quran (kata kata Allah itu dengan Alquran) atau Al Quran dengan Kata kataku itu adalah Mahluq, maka dia Jahmi”

TINGGALKAN KOMENTAR