Bank ASI

Bank ASI

BAGIKAN

Perbedaan Toleransi Agama dan Pluralisme Agama

ASI mencuat menjadi sebuah isu yang lumayan sensitif di kalangan umat Islam. Tulisan di bawah ini merupakan saduran dari sebuah site: http://fiqh.islammessage.com/NewsDetails.aspx?id=4375

Dengan demikian, segala kesalahan penerjemahan dan interpretasi menjadi amat mungkin terjadi dan karenanya mohon saya diingatkan dan ditegur.

=====

Tujuan dari dirikannya bank ASi itu adalah untuk membantu bayi yang amat membutuhkan ASI dan tidak bisa/terhalang mendapatkannya dari Ibu kandung karena alasan medis atua non medis. Termasuk dalam katagori yang membutuhkan ini:

1. Bayi yang lahir prematur

2. Bayi yang lahir dengan berat badan di bawah normal

3. Dan bayi dengan kondisi medis tertentu.

Untuk itu dibentuk lembaga pengumpul ASI dari Ibu yang baru saja melahirkan, dikumpulkan dengan standar medis sehingga steril dan aman di konsumsi bagi yang membutuhkan.

Persoalan muncul karena Islam mengangkat saudara sepersusuan satu derajat dengan saudara kandung, dan karena menjadi muhrim: tidak boleh dinikahi.

Maka berkatian dengan hal tersebut maka Majma’ Fiqh Islam di Jeddah pada Desember 1985 memutuskan bahwa bank ASi di haramkan karena dikhawatirkan terjadi pencampuran nasab antara yang donor ASI dan bayi yang mendapatkan donor tersebut.

Walaupun demikian, ada pandangan lain berkaitan dengan hal ini.Sebagian ulama membolehkan lembaga tersebut.Syeikh Yusuf Al-Qrdhawi dan Syeikh Musthafa Dzarqa. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi mendasarkan pendapatnya kepada argumen sebagai berikut:

Firman Allah SWT, “…ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan..”(An-Nisa: 23). Kalimat “menyusui” dalam ayat tersebut baru akan terjadi apabila sang ibu memberikan (maaf) payudaranya untuk dihisap dan bayi menghisap susu dari payudara tersebut.Tindakan tersebut pada gilirannya mengharuskan persentuhan langsung antara ibu yang memberikan ASI dan anak yang menerimanya. Akibat tindakan pemberian ASI tersebut akan menumbuhkan ikatan batin Ibu-ANak. Kondisi ini yang menjadi pangkal pengharaman ibu dan saudara sepersusuan dalam ayat di atas. Dan kondisi tersebut tidak akan terjadi hanya dengan pemberian ASI saja, tanpa ada persentuhan dan tindakan menyusui secara langsung.

Pendapat ini juga senada dengan pendapat I. Ibn Hazm al-Andalusi yang menyatakan bahwa “…karakteristik ASI yang mengharamkan tersebut adalah yang dihisap oleh sang bayi dari payudara sang Ibu susuan; dengan demikian siapa saja yang meminum susu seroang wanita dari tempat, atau memasukkannya ke dalam mulut dan tertelan, atau memakannya dengan menggunakan roti, atau meneteskannya di mulut atua di telinga atau di hidung, atau disuntikkan, maka ASI dalam semua kasus tersebut tidak menghasilkan keharaman nasab walaupun ASI tersebut adalah makanan bagi yang diberi.”

Kondisi persusuan yang dinyatakan oleh Syeikh Yusuf Qardhawi tersebut berbeda dengan pandangan sebagian besar ulama Syafi’i yang mendasarkan sebab hukum keharaman tersebut adalah akibat dari ASI yang menumbuhkan daging dan tulang atau karena ASI menjadi darah dan daging. Dasar pendapat tersebut adalah sabda Rasulullah SAW, “Yang dinamakan menyusui itu adalah yang menumbuhkan daging dan tulang. Menurut beliau (Syeikh Yusuf Al-Qardhawi), jika memang hal tersebut yang dijadikan alasan maka transfusi darah menjadi haram untuk dilakukan. Hal tersebut dikarenakan darah yang masuk dari darah orang lain akan terus bercampur dan dengan sendirinya mendarah daging dalam tubuh penerima.

 

Wallahu ‘Alam

Semoga Allah menjadikan tulisan ini rahmat bagi kita semua. Amin.

Artkel no 29

oleh aslimadu

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR