PUASA BUKAN DIAWALI DARI ADZAN SHUBUH

PUASA BUKAN DIAWALI DARI ADZAN SHUBUH

BAGIKAN
MUKADDIMAH
Setelah diskusi panjang dengan kelompok Salafy Wahhabi yang rata-rata masih banyak awam tentang perkembangan Ilmu Falak, karena memang ilmu ini sepertinya tidak diajarkan di pendidikan salafy, berbeda dengan kalangan pesantren Salafiyah pada umumnya yang sudah diajarkan dasar-dasar astronomi di pesantren bahkan menjadi salah satu kajian wajib (Durusul Falakiyah) walau terkadang fan ilmu ini “agak dianaktirikan” para santri karena harus bergelut dengan rumus-rumus Matematika yang menjadi “musuh utama” sebagian para santri, namun dalam dunia nyata  mereka lebih wise dan lebih faham tentang memahami sunnatullah terutama yang berkaitan erat dengan masalah auqot dan penentuan awal bulan qamariyah utamanya awal ramadhan,awal syawal dan awal dzul hijjah. Sudah tidak menjadi rahasia umum kalangan salafy umum baik pengikut awam “muqollid” bahkan ustadznya sekalipun banyak mempertanyakan tentang peringatan akan awal berPUASA yang sering disebut dengan waktu imsakiyah, bahkan lebih jauh sudah memvonis sebagai bid’ah dholalah dan sebagai salah satu syareat baru,namun kalau dikaji lebih jauh ternyata jadwal imsakiyah lebih tepat dari pada realita yang diyakini oleh salafy pada umumnya, dimana salafy ketika ADZAN shubuh sudah tiba masih memperbolehkan makan dan minum.
MEMAHAMI AWAL BERPUASA
Dalam kitab-kitab FIQH RAMADAN sudah banyak dijelaskan bahwa awal berpuasa sebagaimana dalam surat Albaqoroh ayat 183 dimulai dari terbitnnya fajar sampai tenggelamnya matahari (sunset), dan terbitnya fajar (astronomical twilight) adalah fenomena alam dan sudah difahami oleh para ahli astronom maupun fuqoha-astronom sehingga berkembang ilmu falak sebagai salah satu ilmu astronomi, sehingga sudah lebih seribu tahun ini muncul jadwal waktu sholat dan berkembang terus sesuai dengan perkembangan teknologi, dahulu sebelum muncul teknologi sekarang ini muncul jam matahari yang lebih dikenal dengan Gnomon atau Bencet, dan sampai sekarang ini di beberapa pesantren dan masjid-masjid kuno masih banyak yang memakai tehnologi ini.
Di dalam DISKUSI DENGAN USTADL SALAFY yang kami ikuti para salafy tetep kukuh dengan “suudhonnya” tentang imsakiyah sebagai awal berpuasa padahal sudah jelas peran imsakiyah hanya sebagai peringatan akan adanya ‘fajar shadiq” , kalimat akan adanya fajar shadiq perlu kami tegaskan karena mereka berkeyakinan awal puasa adalah ketika adzan shubuh sudah tiba, padahal realitas yang ada waktu adzan shubuh sekarang ini sudah ditambah 2 – 3 menit karena adanya penambahan waktu ihtiyat untuk melaksanakan shalat shubuh, pada dasarnya jadwal auqot sholat yang telah di keluarkan Kementrian Agama setempat hampir jarang mencantumkan peringatan penambahan akan penembahan waktu ihtiyat 2 menit dan rata-rata berpedoman pada proses perhitungan dari Sa’adoedin Djambek salah seorang ahli falak terkemuka di Indonesia Adapun mengenai peran Jadwal auqot yang sekarang berkembang merupakan bentuk inovasi masyarakat Islam sebagai upaya memahami ayat-ayat kauniyah karena memang pada dasarnya waktu-waktu ibadah sebagian besar beradasarkan ayat-ayat kauniyah yang telah dihamparkan kepada kita dan tugas manusia untuk melakukan pengamatan dan observasi, kemudian dalam memahami tentang adanya periwayan akan awal puasa dilakukan ketika adzan shubuh berkumanadang pada dasarnya hal ini adalah suatu bentuk pembelajaran Nabi kepada ummatnya pada waktu itu akan pentingnya kedisiplinan  akan waktu ibadah dan bahkan perintah ini juga mendasari tentang kehati-hatian untuk mengawali berpuasa, sehingga para fuqoha kemudian memandang perlu untuk memberikan waktu imsakiyah, terutama bagi masyarakat pada umumnya.
Kesimpulannya ternyata dengan memperhatikan waktu imsak lebih aman dan terjaga serta lebih hati-hati dalam mengawali berpuasa, sedangkan sekarang apabila mengawalinya berdasarkan adzan waktu shubuh dari jadwal yang umum sudah tersebar, maka waktu fajar shadiq telah terlewati 2 – 3 menit, dan sesuai pula dengan pedoman bahwa dalam perkara-perkara ibadah sebaiknya berhati-hati.
 
BAPA’E OCHA   
Penulis adalah praktisi Falak sejak 1997 dan sekarang menjadi salah satu team falakiyah di salah satu ORMAS besar.

TINGGALKAN KOMENTAR