Aqidah Imam Ahmad

Aqidah Imam Ahmad

BAGIKAN

Sangat masyhur Mereka Menyebar Kebohongan Aqidah dikalangan pelajar bahwa Imam Ibnu taymiyyah mengambil madzhab Hambali sebagai Madzhabnya, bahkan beliau menisbatkan dirinya sebagai Al Hambali. Dan banyak juga yang berasumsi Aqidah Beliau ini bersesuaian dengan Aqidahnya Imam Imam Ahmad Ahli Tahrif Kata  mereka.

 

Aqidah Imam Ibnu Taymiyyah ini menjadi rujukan utamanya, terhusus aqidah yang masyhur dengan Tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah, Asma wa sifatnya. Apakah benar Aqidah Imam Ahmad memang sama seperti Aqidahnya Imam Ibnu Taymiyyah? Sebentar lagi anda akan membuktikannya sendiri.

 Aqidah Imam Ahmad

Dan perlu diperjelas sebelumnya Imam Ibnu Taymiyyah bukanlah murid langsung dari Imam Ahmad,  Ibn Taimiyah (w 728 H), sosok kontroversial, Konsep Aqidahnya telah dibantah oleh berbagai lapisan ‘Ulama Empat Madzhab; ulama madzhab Syafi’i, ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, dan oleh para ulama madzhab Hanbali.

 

Bantahan-bantahan aqidah kontroversialnya tersebut datang dari mereka yang hidup dengan Ibn Taimiyah sendiri maupun dari mereka yang datang setelahnya. Berikut ini adalah di antara nama-nama mereka dengan beberapa karyanya masing-masing[1]:

 

al-Qadli al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (w 733 H).

al-Qadli ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.

al-Qadli Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki.

al-Qadli Ahmad ibn ‘Umar al-Maqdisi al-Hanbali.

Dan banyak ‘ulama lagi yang membantah Aqidah Ibnu Taymiyyah ini dalam berbagai kitabnya.

 

Aqidah Imam Ahmad bukanlah seperti yang dituduhkan oleh para pengikut Ibnu Taymiyyah Yang Menafikan Arah Bagi Allah ini, Aqidah Imam Ahmad adalah sama seperti pada umumnya Aqidah Asy’ariyyah, berikut adalah laporan beberapa Ulama yang menjelaskan Aqidah Imam Ahmad yang sebenarnya:

 

 

 

فقد نقل الإمام أبو الفضل التميمي الحنبلي في كتاب” اعتقاد الإمام أحمد ” عن الإمام أحمد أنه قال: “والله تعالى لا يلحقه تغير ولا تبدل ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش، وكان ينكر- الإمام أحمد – على من يقول إن الله في كل مكان بذاته لأن الأمكنة كلها محدودة “.

Al Imam Abul Fadlol Attamimi bermadzhab Hambali menukilkan perkataan Imam Ahmad dalam kitab “I,tiqodul Imam Ahmad” (I,tiqodnya Imam Ahmad) seperti ini: dari Imam Ahmad bahwasanya beliau berkata: “Allah Ta’ala itu tidak ditemui oleh perubahan, pergantian, dan tidak pula batasan sebelum menciptakan Arasy dan sesudah menciptakannya, dan Imam Ahmad mengingkari kepada orang yang mengatakan bahwa Allah itu berada disetiap tempat dengan DzatNya, karena sesungguhnya semua tempat itu terbatasi”

 

Demikian juga Al Imam Al Hafidl Ibnul Jauzi al Hambali juga menjelaskan Aqidah Imam Ahmad ini dalam kitabnya yang berjudul “Daf’ Syubhit Tasybih”, dan perlu diketahui anda jangan sampai syubhat dengan dua nama yang sama sama Ibnul Jaizi ini, yang satu adalah Ulama Ahlussunnah yaitu:

  1.  Beliau bernama Jamaluddin Abu al Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali al Qurasyi al Baghdadi, dikenal dengan sebutan Ibn al Jawzi; al imam al hafizh al mufassir al ushuliyy al mutakallim. Salah seorang ulama Ahlussunnah terkemuka multidisipliner; ahli hadits (al Hafizh), ahli fiqih (al Faqih), ahli tafsir (al Mufassir), ahli teologi (al Mutakallaim), ahli sejarah (al Mu’arrikh), sufi terkemuka yang zuhud dan wara’. Lahir tahun 510 H, dan wafat pada 7 Ramadlan tahun 597 H.
  2. adalah murid Ibn Taimiyah, banyak mengambil kesesatan-kesesatan dari Ibn Taimiyah, benar-benar telah mengekor setiap jengkalnya kepada gurunya tersebut dalam berbagai masalah ushuliyyah.   Ia bernama Muhammad ibn Abi Bakr ibn Ayyub az-Zar’i, dikenal dengan nama Ibn Qayyim al-Jawziyyah, lahir tahun 691 hijriyah dan wafat tahun 751 hijriyah.

 

Adapun penjelasan Aqidah Imam Ahmad dari Imam Al Hafid Ibnul Jauzi sebagai berikut:

براءة أهل السنة عامة والإمام أحمد خاصة من عقيدة المجسمة وقال: ” كان أحمد لا يقول بالجهة للبارئ “.

“Semua kalangan Ahlus Sunnah bebas dari Aqidah Mujassimah, terhusus Imam Ahmad, dan beliau berkata: “Adalah Imam Ahmad, beliau tidak mengatakan penetapan arah kepada Yang Maha Mencipta”.

 

Berkenaan dengan Aqidah Imam Ahmad yang sebenarnya ini, para Imam dibawah ini, ialah:

الإمام الحافظ العراقي والإمام القرافي والشيخ ابن حجر الهيتمي وملا علي القاري ومحمد زاهد الكوثري وغيرهم عن الأئمة الأربعة هداة الأمة الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم

Beliau semua mengatakan kafirnya orang orang yang mengatakan adanya Arah dan pentajsiman kepada Allah. Bahkan yang mengarang Kitab Al Khishol, seorang Ulama Madzhab Hambali mengatakan:

 من قال: ” الله جسم لا كالأجسام  فقد كفر ” .

“Siapa yang mengatakan: Allah berjisim dan tidak seperti Jisim jisim (Mahluk), maka dia telah Kufur”.

 

Sebuah ungkapan yang masyhur dari seorang Ulama Madzhab Hambali yaitu Abul Fadlol Attamimi mengatakan tentang Aqidah sebagai berikut:

” مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك “

“Apa yang terlintas dalam hati maka Allah berbeda dengan itu semua”

Dan ini menjadi salah satu bukti bahwa dalam Madzhab Imam Ahmad Aqidahnya menyucikan Allah dari tempat, arah dan jisim. Dan untuk lebih membuktikan kebersihan Aqidah Imam Ahmad dari tuduhan salafi.wahhabi, Imam Ahmad sendiri mentakwilkan Ayat ayat Mutasyabihat dalam masalah sifat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hafidl Al Baihaqi:

روى الحافظ البيهقي، عن الحاكم، عن أبي عمرو بن السماك، عن حنبل، أن أحمد بن حنبل تأول قول الله تعالى: { وَجَاءَ رَبُّكَ } أنه: جاء ثوابه. ثم قال البيهقي: وهذا إسناد لا غبار عليه.

“Imam Al Hafidl Al Bayhaqi meriwayatkan dari Al Hakam, dari Abu  ‘Amru bin Simak dari Hambal dari Ahmad bin Hambal bahwasanya beliau mentakwilkan Firman Allah { وَجَاءَ رَبُّكَ } (Wa Ja-a Robbuka) dan datanglah Robbmu, bahwa maksudnya adalah: Datang pahala Tuhanmu. Kemudian Al Imam Al Bayhaqi mengatakan bahwa sanad dalam riwayat ini tidak ada debu sama sekali (maksudnya bersih dari cela)”

Sebenarnya masih banyak lagi riwayat yang membuktikanAqidah Imam Ahmad tidak sama seperti yang dipropagandakan oleh pengikut Imam Ibnu Taymiyyah,  Aqidah Imam Ahmad adalah mensucikan Allah dari arah, tempat dan bentuk.Masih Mengaku Bermadzhab Salaf?

TINGGALKAN KOMENTAR