Apollo Meminta Korban Tembakau

Apollo Meminta Korban Tembakau

BAGIKAN

apolloMunculnya ide, menaikkan harga rokok pada level Rp 50.000/bungkus, dinilai banyak pihak sebagai ide tidak wajar, mengada-ada, bahkan menurut saya penuh misteri dan tendensi. Ada agenda dibalik ide itu yang bisa berbahaya.

Menurut saya, Industri rokok kretek itu industri yang sangat tangguh. Mengapa karena ia nyaris seratus persen mengandalkan pada kekuatan nasional. Memang ada sebagian komponennya bisa diimpor, misal mesin. Tapi itu tidak mutlak menjadi penopang industri rokok.

Tembakau dari petani, kemudian dilinting oleh pekerja pabrik rokok, dibungkus, dijula dan dibeli masyarakat sendiri. Tembakau juga tidak impor, ditanam sendiri. Cengkeh juga demikian. Semua bahan dasarnya ada di sini, di Indonesia. Penikmatnya? juga masyarakat Indonesia.

Dari sisi mekanisme pasar, bukankah mata rantai industri seperti demikian adalah yang wajar, dan menunjukkan kekuatan dan ketangguhannya? Harga rokok juga variasi, mulai dari harga pualing murah sampai harga yang mahal (dalam batas harga pasar), untuk jumlah lintingan yang sama.

Para perokok tidak malu jika harus mengakui itu produk dari Kediri, Kudus, Tulungagung, Malang atau lainnya. Urusan image impor di sini lewat. Sampai-sampai Philip Morris harus mendekat ke Indonesia, agar lebih diterima, kesannya Malboro tidak impor, masih satu grup dengan Dji Sam Soe. Penikmat Malboro jadi nyaman, bukan bagian dari penggila asing.

Jika mekanisme pasar telah melahirkan industri nasional demikian hebat, mengapa pemerintah mau mengatur-atur harga rokok yang tidak wajar? demi alasan kesehatan? Toh banyak yang membantah, bahkan sebagian dokter membantah, justru menggunakan tembakau jadi bahan dasar terapinya.

Bagaimana nasib industri kulit? Industri mobil nasional? apalagi. Baru jadi janin mati mengenaskan, baru berkembang harus mendapat cap dari Singapore atau Itali agar kulitnya bisa diterima masuk Indonesia dengan baik.

Bagi anda yang bukan perokok atau bahkan membenci rokok atau menghindari merokok demi kesehatan, ya monggo. Tapi lihatlah dengan seksama, betapa tangguhnya industri rokok kita. Negara pun sangat bergantung kepadanya, sampai-sampai ada yang gila… mau mencekiknya dan mengorbankan demi pemujaan kepada dewa Apollo, padahal itu akal-akalan Apollo, dia sendiri butuh tembakau. Jika, para perokok selalu disudutkan sebagai pesakitan dan disakit-sakitkan, mengapa tidak mengeruk kantong mereka yang sehat untuk menutup pajak?

TINGGALKAN KOMENTAR