ALJABAR, TRIGONOMETRI & ASTROLAB

ALJABAR, TRIGONOMETRI & ASTROLAB

BAGIKAN

ALJABBAR, TRIGONOMETRI & ASTROLAB (Dalam Pandangan Sejarah I)

Pada abad kesembilan enam fungsi trigonometri modern – sinus dan kosinus, tangen dan cotangen, secan dan cosecan – telah diidentifikasi, sedangkan Ptolemy hanya tahu fungsi akord tunggal, yakni pertambahan (+), pengurangan (-), perkalian (x), dan pembagian (÷)

Dari enam istilah Aljabar ini, lima berasal dari bahasa dasar Arab; hanya fungsi sinus diperkenalkan ke oleh peradaban Islam dari India. Etimologi dari kata sinus adalah kisah yang menarik. Kata Sanskerta adalah ardhajya, yang berarti “akord setengah,” yang dalam bahasa Arab disingkat dan diterjemahkan sebagai jyb. Dalam vokal Arab tidak berbilang. Dan kemudian kata itu dibaca sebagai jayb , yang berarti “saku” atau di Eropa Abad Pertengahan “kantong”, yang kemudian diterjemahkan sebagai sinus, kata Latin untuk teluk.) dari abad kesembilan dan seterusnya pengembangan trigonometri bola yang cepat. Astronom Islam menemukan rumus trigonometri sederhana, seperti hukum sinus, yang juga memecahkan permasalahan perhitungan lingkaran & segitiga dengan proses lebih sederhana dan lebih cepat.

Salah satu contoh yang paling mencolok dari warisan astronomi Islam modern adalah nama-nama bintang. Betelgeuse (Bayt al Jauzi), Rigel (Ar Rijal), Vega (al Wiqo), Aldebaran (Al Difaron) dan Fomalhaut (Fam al Hauth) adalah salah satu nama yang secara langsung berasal dari bahasa Arab atau terjemahan bahasa Arab dari deskripsi Yunani Ptolemeus.

Dalam buku Ptolemeus Almajesty telah memberikan katalog lebih dari 1.000 bintang. Revisi kritis pertama katalog disusun oleh ‘Abd al-Rahman al-Sufi, seorang astronom Persia abad ke-10 yang bekerja di Baghdad. Dalam Al-Sufi Kitab “Su-war al-kawakib (Buku Konstelasi dari Bintang Tetap) tidak menambahkan atau mengurangi bintang dari daftar Ptolomeus, juga tidak melakukan reposisi mereka sering membingungkan, dan membuktikan bahwasanya besaran dan ukuran bintang ditingkatkan serta identifikasi yang lebih akurat.

Selama bertahun-tahun diasumsikan bahwa al-Sufi telah membentuk nomenklatur bintang di Barat. Banyak astronom moderen yang membuat deskripsi bintang yang mereka kombinasikan dengan representasi indah al-Sufi bergambar rasi bintang. Sementara itu bintang nomenklatur Arab menitis ke Barat dengan alat lain: pembuatan astrolab.

Astrolab adalah peta bintang yang pada dasarnya adalah model setengah bola dua dimensi dari langit utara dan selatan. Sebuah astrolab khas terdiri dari serangkaian pelat kuningan bersarang dalam matriks kuningan yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai (“rahim” yang berarti) ‘umm’. Piring paling atas, yang disebut ‘ankabut’ (berarti “laba-laba”) atau dalam bahasa Latin yang Rete, adalah jaringan terbuka dari dua atau tiga lusin jarum penunjuk yang menunjukkan posisi bintang-bintang tertentu. Di bawah Rete adalah satu atau lebih pelat padat, masing-masing diukir dengan sistem koordinat benda lagit yang tepat untuk pengamatan pada lintang tertentu: lingkaran ketinggian yang sama di atas cakrawala (analog dengan garis lintang terestrial) dan lingkaran azimut sama sekitar cakrawala (analog dengan bujur baris). Dengan memutar Rete sekitar poros pusat, yang merupakan kutub utara langit, gerakan harian bintang-bintang pada bujur falak dapat diejawantahkan.

Meskipun astrolab dikenal dari zaman kuno, instrumen tanggal awal yang telah diketahui berasal dari periode Islam yang salah satunya dibuat oleh Nastulus di era 315 Hijriyah (927-28 M), dan sekarang menjadi salah satu peninggalan Museum Nasional Kuwait. Pada periode tersebut abad ke-10 hanya beberapa gelintir astrolab Ara, dari sekian banyak dari abad 11 dan 12, hanya 40 yang selamat pasca serangan Mongol atas Baghdad. Kemudian beberapa dari mereka dibuat di Spanyol pada pertengahan abad ke-11 yang memiliki gaya khas Maroko.

Risalah awal yang masih ada di Arab mengenai astrolab ditulis oleh salah satu astronom Khalifah al-Ma’mun itu, Isa bin ‘Ali di Baghdad. Kemudian anggota dari sekolah Baghdad, terutama al-Farghani, juga menulis di astrolabe. Risalah al-Farghani tersebut sangat mengesankan secara matematis pada waktu itu, ia diterapkan instrumen untuk masalah dalam astrologi, astronomi dan ketepatan waktu.

Kemudian risalah dibawa oleh orang Eropa ke Spanyol, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad 12 dan 13. Hal ini bagi muthalib Eropa merupakan pekerjaan yang paling populer, sekitar 200 salinan manuskrip Latin yang digarap oleh mereka.

Ada artikel lama keliru dikaitkan dengan salah seorang seorang astronom Yahudi bernama Masaeliah abad kedelapan yang berpartisipasi dalam risalah Baghdad; mungkin adalah seorang nara sumber bunga rampai Astrolab. Pada sekitar 1390 risalah ini merupakan sumber untuk sebuah esai tentang astrolab oleh penyair Inggris Geoffrey Chaucer. Memang, Inggris tampaknya telah berpartisipasi dalam pengenalan astrolabe dari Spanyol ke Kristen Barat pada abad 13 dan 14 meski terlambat. Kegiatan ilmiah berpusat di Oxford pada saat itu memberikan kontribusi terhadap lonjakan minat dalam masyarakat terhadap Astronomi. Dan Perguruan Tinggi Merton dan Oriel di Oxford masih mempunyai astrolab dari periode abad ke-14.

Dalam satu set Astrolab mereka akan kita temukan nama-nama bintang Arab yang ditulis dalam huruf Latin Gothic. Termasuk astrolab di Merton College, misalnya, adalah nama-nama Arab yang telah berevolusi menjadi nomenklatur modern yang standar: Wega (Al Wiqo), Altair (Al Thohir), Algeuze (Bayt al Jauzi), Rigil (Ar Rijal), Elfeta (Al Fita), Alferaz (Al Fairouz) dan Mirage (Miraq). Inilah tradisi Islam Timur dalam astrolab, yang ditularkan melalui Spanyol ke Inggris, yang merupakan sebagian nama daripada bintang navigasi saat ini berasal dari aksara Arab, baik yang asli atau terjemahan bahasa Arab dari deskripsi Yunani Ptolemeus.

4 KOMENTAR

  1. assalamu’alaikum…
    mbah nyuwon tulong…krim script daftar isi model nggen sampeyan,kangge blog kulo…di kirim lewat email nggeh mbah….
    mugo2 dados manfa’at….

TINGGALKAN KOMENTAR