Al Ghofiqi Bin Harb

Al Ghofiqi Bin Harb

BAGIKAN

Tokoh yang kedua yang tak kalah misteriusnya adalah Al Ghofiqi bin Harb, ialah orang yang secara jelas terlibat dalam pembunuhan Kholifah Utsman seperti penuturan Syaikh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa Al Nihayah 10/227 sebagai berikut:

الغافقي بن حرب العكي ممن ساهمو في قتل الخليفة عثمان بن عفان وهو من الخوارج في عصر الخليفة علي بن أبي طالب. بعد استشهاد عثمان بقيت المدينة خمسة أيام وأميرها الغافقي ابن حرب

“Al Ghofiqi bin Harb Al ‘akky adalah orang yang mengambil bagian dalam pembunuhan Kholifah ‘Utsman bin ‘Affan, ialah bagian dari khowarij dizaman Kholifah Ali bin Abi Tholib. Setelah penyaksian Utsman ia menetap di Madinah selama lima hari, dan amir madinahnya adalah Al Ghofiqi bin Harb”

Dalam Tarikh Thobari 5/107 disebutkan;  Al Ghofiqi adalah orang pertama yang memukul Sayyidina ‘Utsman dengan besi  dan menendang  Al Quran hingga berhamburan dan menginjak injaknya dengan kakikinya, ketika beliau dalam kesetiaannya membaca Al Quran.

Lagi lagi informasi tentang Alghofiqi ini juga minim, siapa ia, berasal dari mana, dan kenapa ia sampai berhasil menjadi pemimpin para pemberontak dari Mesir menurut beberapa kitab sejarah? Siapa orang berpengaruh ini?

Ada memang yang menginformasikan bahwa ia adalah Amir wilayah Hamlah, lalu hamlah ini daerah mana?

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya,  seperti Ibnu Sabak, iapun tidak diketahui apa perannya setelah Sayyidina Utsman wafat dalam Syahidnya, tak diketahui pula kabar beritanya apakah ia juga ikut dibunuh oleh para penuntut kematian Beliau sebelum Sayyidina Ali di kukuhkan menjadi Kholifah atau sesudahnya.

Dan kenapa para pembangkang ini tidak disebut Khowarij, padahal sangat jelas kegelapan mata para pemberontak yang tidak punya hujjah apapun kecuali hasrat membunuhnya seperti yang terekam dalam musnad Annasai dan Imam Ahmad sudah sangat cukup memberikan alasan, bahwa merekalah khiwarij di zaman Kholifah Utsman.

لايحل دم امرئ إلا بإحدى ثلاث رجل زنى بعد إخصانه،فعليه الرجم أو قتل عمدا فعلبه القود أوارتد بعد إسلامه, فعليه القتل”.

“Tidak halal darah seseorang kecuali sebab salah satu dari tiga, zina muhson, waka wajib baginya dirajam, atau membunuh (mukmin) dengan sengaja, maka wajib baginya hukuman gantung, atau telah murtad setelah islamnya, wajib baginya dibunuh”

فوالله ما زنيت في جاهلية، ولا إسلام، ولا قتلت أحدا فأقِد نفسي منه، ولا ارتددت منذ أسلمت، إني أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، فبم تقتلوني

“Maka demi Alloh, aku tiada berzina baik saat dalam jahiliyah maupun setelah Islam, dan aku tidak membunuh siapapun, maka aku menyelamatkan diriku darinya, dan aku tidak pernah murtad selama dalam islamku, sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Utusannya, maka kenapa kalian mau membunuhku? ”

Sayyidina Utsman berpidato demikian ketika para pemberontak semakin ketat mengepung rumahnya, namun para pemberontak itu tidak mampu membantah, namun juga tidak  menggubrisnya.

TINGGALKAN KOMENTAR