AKHIR PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 16

AKHIR PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 16

BAGIKAN

Artikel sebelumnya

PADA pertengahan abad 13, situasi di Timur Tengah semakin kacau. Kekaisaran Seljuk, yang menguasai Asia barat, mulai runtuh, dan pada 1244 dinasti baru Turki Muslim, yakni Khwarismian, menyerbu Yerusalem dan membunuh banyak orang Kristen. Sisa-sisa pasukan salib di Timur Tengah berusaha menjalin kerja sama dengan Muslim Syiria untuk mengusir Khwarismian, tetapi mereka berhasil mengalahkan pasukan gabungan Salib-Muslim Syiria dalam Pertempuran Harbiyah Oktober 1244. Peristiwa ini memicu Perang Salib Ketujuh, yang dimulai pada musim panas 1248 dan berakhir dengan kekalahan Raja Louis IX Perancis, pada 1250.

Akhir Perang Salib | Seketsa SejarahUntuk memahami kejadian sesudah Perang Salib Ketujuh, kita perlu menengok kembali pada suatu periode sebelum Perang Salib Ketujuh. Pada akhir 1240-an, Raja Louis IX sedang mempersiapkan diri untuk memerangi Muslim, dan ia mencari sekutu. Salah satu calon sekutunya adalah kelompok Hassasin, sebuah kelompok pembunuh bayaran dari Syiah Ismailiyyah. Kaum Ismailiyyah menolak kekuasaan Sunni Muslim yang berkuasa di Baghdad. Perlawanan Hassasin kepada Islam Sunni sangatlah sengit sehingga mereka sering bekerja sama dengan pasukan Salib. Tetapi kelompok Hassasin ini tidak bisa banyak membantu. Kejatuhan Bahdad dan kekhalifahannya ikut mengakhiri gerakan Hassasin. Calon sekutu lain adalah suku yang gemar perang, kaum Tartar atau Mongol, yang pada abad 13 berhasil mengalahkan Seljuk. Selama bertahun-tahun Mongol dipimpin oleh panglima hebat bernama Jenghis Khan, yang mulai menyerbu Turki sejak awal 1219. Di mata Louis IX, Mongol bisa diajak kerja sama karena mereka bukan Muslim dan menyembah banyak dewa. Louis percaya bahwa dia dapat mengajak Mongol masuk Kristen dan menjalin kerja sama dengan Mongol untuk mengalahkan Islam. Dia merasa yakin sebab beberapa tokoh Mongol sudah masuk agama Kristen Ortodoks Timur.

Raja Louis mengirim utusan kepada Mongol sebelum melakukan PERANG SALIB Ketujuh. Utusan itu pulang pada 1247 dan melaporkan bahwa Mongol tertarik untuk bekerja sama, tetapi Mongol lebih tertarik untuk menguasai wilayah Timur tengah. Mongol mengatakan bahwa aliansi itu akan mampu menggoyang kekuatan Muslim dan memudahkan Mongol untuk menguasai wilayah Muslim. Kemudian pada 1248 utusan Mongol menemui Louis saat sang raja itu berlabuh di Cyprus dalam rangka persiapan PERANG SALIB ketujuh. Utusan Mongol ini mengatakan bahwa pihak Tartar mau membantu Kristen membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Muslim. Dalam perundingan selanjutnya, Louis mengirim utusan bernama William Rubruck ke Mongol. Sementara itu paus juga mengirim utusan ke Asia untuk berdiskusi dengan Mongol soal perang ini.

William kembali dengan berita mengecewakan. Menurutnya, Mongol tidak mau masuk agama Kristen. yang lebih buruk, mereka menerima hadiah yang dikirim oleh Louis sebagai “pembayaran” dan menganggap Louis sebagai bawahan Mongol. Strategi Louis gagal. Seandainya Louis tidak memaksa Mongol masuk Kristen, sangat mungkin Mongol akan menjadi sekutu kuat pasukan Salib.

Louis berada di Outremer (koloni Kristen di Timur Tengah) selama empat tahun sesudah PERANG SALIB Ketujuh berakhir. Dia memperkuat benteng di beberapa kota yang masih dikuasai pasukan salib, seperti Acre, Tyre, Jaffa, dan Sidon. Dia juga berusaha mendamaikan pertengkaran antara baron/bangsawan salib yang berebut kekuasaan di wilayah itu. Tetapi akhirnya dia terpaksa harus kembali ke Perancis.

Setelah Louis kembali Perancis pada 1254, terjadi pertikaian sengit di Acre (sekarang masuk wilayah Lebanon). Pedagang dari Venisia dan Genoa, Italia, secara terbuka mengangkat senjata demi kepentingan bisnis mereka di kota itu. Ksatria dari Hospitaller mendukung orang Genoa, sedangkan Ksatria Templar mendukung orang Venesia, dan sering pecah perang terbuka di antara keduanya. Sepertinya semua sudah melupakan misi untuk membebaskan Yerusalem. Pada 1267 Louis IX yang gagal pada Perang Salib ketujuh,  menyatakan ingin kembali merebut Yerusalem. Dia berangkat pada 1270, namun dia meninggal di tengah jalan karena terkena penyakit.

Sementara itu, pasukan Mongoil di bawah pimpinan Hulagu Khan terus merangsek ke wilayah Timur Tengah. Mereka sudah berhasil menghancurkan Polandia dan Hungaria, dan pada 1243 mereka mengalahkan Seljuk di Anatolia (sekarang wilayah Turki Barat). Mongol menguasai Persia pada 1256 dan menghancurkan kekhalifahan Baghdad pada 1258. Semua negara Eropa gembira mendengar kabar ini karena Baghdad pada waktu itu adalah pusat kerajaan Islam. Kemudian Mongol menghancurkan kota Aleppo dan Damaskus di Syria.

Meski sudah meraih banyak kemenangan, Mongol belum puas. Sesudah menguasai Syiria, mereka bergerak untuk mengepung Mesir. Hulagu mengirim utusan ke Kairo, meminta Mesir menyerah. Namun pada waktu itu kekuatan militer di Mesir berada di tangan dinasti Mamluk. Pasukan Mamluk terdiri dari orang-orang Turki pilihan. Orang-orang Turki itu ditangkap saat masih anak-anak dan dibesarkan dalam disiplin dan latihan militer yang ketat. Karena tak tahu siapa ayah mereka, semua anak itu diberi nama Abdullah. Sebagai pengawal pribadi sultan Mesir, pasukan Mamluk dididik untuk setia sampai mati. Karena itu, jika seorang sultan meninggal, semua tentara Mamluk diganti dengan yang baru.

Semasa Perang Salib Ketujuh, sultan Mesir disingkirkan dari kekuaaan oleh Saifuddin Qutuz. Sebelum Qutuz dapat mengganti Mamluk, mereka menyadari bahwa Mamluk adalah pasukan khusus dan kuat dan tak perlu diganti. Mamluk sedang mencari-cari musuh untuk diajak berperang, dan munculnya Mongol membuat mereka memiliki musuh. Qutuz juga tahu dirinya menghadapi ancaman dari Mongol, maka ia tidak mengganti pasukan pengawal Mamluk dan bahkan ia menjadi panglimanya. Qutuz dan pengawal Mamluk tidak ingin menyerah kepada Mongol. Utusan Mongol dibunuh di Kairo dan pada 1260 pasukan Mamluk bergerak ke wilayah yang dikuasai pasukan salib untuk menghadang pasukan Mongol. Pasukan salib tidak mau terlibat, dan mereka merasa cukup menonton saja pertempuran itu.

Di balik naiknya Qutuz ke tampuk kekuasaan ada pendukung penting dari pengawal Mamluk, bernama Baybar. Baybar sendiri memegang kekuasaan melalui serangkaian pembunuhan politik. Baybar membantu Qutuz menjadi sultan dan bersama-sama mereka ikut bergerak melawan Mongol. Di Pertempuran Ain Jalut pada 1260, Baybar berpura-pura menyerang Mongol, lalu menarik mundur pasukannya. Mongol mengejarnya, namun rupanya itu jebakan. Pasukan Mongol dikepung oleh pasukan Mamluk, dan berhasil dihancurkan. Maka berakhirlah ancaman Mongol.

Baybar meminta diangkat sebagai gubernur Aleppo sebagai hadiah. Tetapi sultan yang curiga dan khawatir dengan ambisi Baybar menolak permintaan itu. Karena marah, Baybar membunuh sultan, dan bersama pasukan Mamluk ia merangsek ke Kairo dan mengangkat dirinya menjadi sultan Mesir. Sesudah itu ia bergerak menyerang Aleppo dan Damaskus dan berhasil menguasainya. Kini Mamluk yang menguasai Syiria.

Sesudah Baybar menguasai Mesir dan Syira, dan ia berganti nama menjadi Sultan Rukn al-Din Baybars Bunduqdari,  bagaimana akhir nasib kota-kota di Timur Tengah yang dikuasai Kristen?

Bersambung …

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR