Ahlaq Menunjang Keberhasilan Tugas Dakwah Bukan Arogansi

Ahlaq Menunjang Keberhasilan Tugas Dakwah Bukan Arogansi

BAGIKAN


 

Ibnu Taimiyah hidup sekitar 700 H (661-728). Hampir 500 tahun madzhabnya nggak laku. Nyatanya Asy’ariyah yang berkembang luas dianut mayoritas hingga kini. Ini bukti faktual bahwa hujjah Asy’ariyah secara keseluruhan lebih kuat.

Tiba-tiba seorang baduwi Najd, Muhammad bin Abdul Wahhab (1115-1206 H) mengangkat kembali gagasan Ibnu Taimiyah itu. Mengapa? Karena di kalangan kaum baduwi Najd waktu itu sedang bangkit gerakan untuk mendirikan kekuasaan dibawah kaum baduwi, dipelopori oleh keluarga Su’ud. Kebangkitan ini secara emosional sangat signifikan karena sejak Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah orang baduwi berada di pusat kekuasaan. Dari Quraisy justru pindah ke Seljuk. Baduwi belum kebagian.

Karena itu, baduwi Najad dibawah keluarga Su’ud ngotot pengen bikin kerajaan sendiri, dan untuk itu mereka rela bekerja sama dengan kolonialis Inggris (melalui seorang top agent yang kemudian terkenal dengan nama: Lawrence of Arabia) untuk berkhianat kepada Daulah Utsmaniyyah.

Dengan mengeksploitasi jargon “Kembali kepada Qur’an dan Hadits”, Wahabisme menjadi tulang punggung ideologi bagi ambisi kaum baduwi dan keluarga Su’ud itu. “Kembali ke Qur’an dan Hadits” mereka hayati sebagai semangat untuk mengembalikan pusat kekuasaan Islam ke Hijaz –yang sejak paruh akhir kekhalifaan Sayyidina ‘Ali karromallohu wajhah dipindah ke Kufah dan oleh Mu’awiyyah dipindah ke Damaskus– dan menolak segala otoritas non-Arab (non-baduwi), Mereka menginginkan Wahabi Sebagai Peta Bid’ah Dunia.

Selanjutnya wahabis berkembang atas topangan politik. Dimulai dengan topangan kolonialis Inggris, dilanjutkan topangan keluarga Su’ud. Seandainya tak ada topangan politik itu, wahabisme mungkin sudah tamat karena tak punya kekuatan intrinsik dalam hujjah-hujjahnya sendiri.

Kini, ditengah konstelasi politik dunia yang sedang berubah, Kerajaan Saudi berambisi menundukkan seluruh dunia Islam dibawah dominasinya. Maka dipakailah resep lama, yaitu kampanye wahabisme secara gencar dan besar-besaran, termasuk di Indonesia.

Padahal, sebelum era 90-an, yakni sebelum pecah perang teluk, barisan kaum muslimin khususnya para pengusung al-haq di seluruh pojok dunia terfokus menghadapi geliat penyimpangan akidah, kaum kuffar, dan sekuler.

Namun tiba-tiba dunia seolah dikejutkan oleh fenomena lahirnya fikrah “salafy” ini.  Begitu fenomenal, sebab hadir dengan sebuah fikrah yang membuat banyak orang tercengang, tak percaya. Kelompok anak-anak muda yang sangat berani menyerang . menuding  dan menghujat ulama umat, tak terkecuali para ULAMA terdahulu yang banyak melahirkan karya-karya monumental bagi umat ini, seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam an-Nawawi dan selain keduanya –rahimahumullah-.

Ketidakpercayaan di sini dilatari oleh sebuah keyakinan umum, bahwa ulama merupakan mercusuar agama ini. Dipandang, dihormati, diberikan tempat layak dalam kapasitasnya sebagai pengarah dan penunjuk bagi umat.

Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Dakwah adalah Cinta, Sebagai dai tentu saja kita ingin mencapai kesuksesan dalam mencapai tugas dakwah. Salah satu bentuk keberhasilan dalam dakwah adalah berubahnya sikap kejiwaan seseorang. Dari tidak cinta Islam menjadi cinta, dari tidak mau beramal saleh menjadi giat melakukannya, dari cinta kemaksiatan menjadi benci dan tertanam dalam jiwanya rasa senang terhadap kebenaran islam, begitulah seterusnya.

Karena dakwah bermaksud mengubah sikap kejiwaan seorang madú (objek dakwah), maka pengetahuan tentang PSIKOLOGI dakwah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dengan pengetahuan tentang psikologi dakwah ini, diharapkan kita dapat melaksanakan tugas dakwah dengan pendekatan kejiwaan. Rasul Saw. Dalam dakwahnya memang sangat memperhatikan tingkat kesiapan jiwa orang yang didakwahinya dalam menerima pesan-pesan dakwah, tidak seperti Salafy Wahhabi yang pongah dalam berdakwah.

Wali Songo adalah contoh Konkrit seorang Da,i yang sangat memperhatikan kondisi psikologi Ummat di masalalu, dan dengan Cinta dalam Dakwah mereka berhasil mengislamkan sebagian besar Nusantara dalam waktu yang relatif singkat. Tak ada Arogansi dari merekaq ketika berdakwah, apalagi pemaksaan harus sama dan persis dengan Mereka, apalagi persis salafussalih?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR