Adakah hubungan gempa dengan gerhana ?

Adakah hubungan gempa dengan gerhana ?

BAGIKAN

Gempa menjelang magrib tanggal 4 Juni 2012 yang terjadi diselatan Jawa yang menggetarkan Sukabumi hingga Jakarta bersamaan dengan gerhana bulan sebagian. Tentunya spekulasi menghubungkan gempa dengan gerhana menjadi perbincangan lagi. Diskusi dan perdebatan ini telah menjadi subyek perdebatan yang hebat selama bertahun-tahun.

:( “Lah hiya Pakdhe. Saya mau sholat Magrib jadi batal mendingan lari. Lah kan menyelamatkan diri dulu kan wajib, Pakdhe ?”

Sebagian besar bukti menunjukkan bahwa gempa bumi disebabkan oleh perubahan stres akibat deformasi karena gerakan lempeng litosfer bumi.

 

USGS memperkirakan besarnya gempa ini MW5.8 dengan kedalaman 80Km. Itulah sebabnya tidak terasa besar dampak goyangnya. Hasil momen tensornya menunjukkan gempa akibat gesekan zona subduksi kerak australia yang menunjam dibawah Pulau Jawa.

Pada saat gerhana, pasang laut memiliki tingkat kenaikan pasang-surut yang optimum, karena posisi bulan matahari dan bumi yang segaris. ini yang akan mempengaruhi gaya-gaya yang berlaku pada batuan (kerak). Namun, tarikan gravitasi bulan dan matahari diperkirakan tidak menimbulkan deformasi elastis dari bumi yang solid mirip dengan pasang surut laut. Jenis deformasi memang reversibel (dapat diulang, karena sifat elastisitas mirip seperti karet). Setelah gaya tidak lagi diterapkan, objek kembali ke bentuk aslinya. Pasang surut Bumi juga memiliki baik (14 hari) diurnal (12-jam) dan dua mingguan periode.

Graphic on how the Moon and Sun affect the tidesGerhana selalu terjadi bila bulan bumi dan matahari dalam posisi segaris. Dimana saat itu akan terjadi pasang naik-surut yang optimum.

Selain itu, pasang surut laut yang seolah-olah telah melakukan bongkar muat diatas kerak bumi sebagai perubahan tinggi permukaan laut. Namun diperkirakan tekanan akibat pasang surut Bumi hanya ~ 4 kPa, trerlalu kecil bila dibandingkan dari gaya akibat gerakan lempeng tektonik.

Gagasan bahwa pasang surut bumi dapat mempengaruhi aktivitas gempa bumi telah ada selama lebih dari 100 tahun, tetapi meskipun ini hubungan antara peningkatan aktivitas gempa bumi dan pasang surut maksimum belum jelas ditunjukkan.

Adakah korelasi antara pasang surut Bumi dan terjadinya gempa?

Beberapa penelitian melaporkan tidak ada korelasi antara gelombang bumi dan terjadinya gempa bumi, misalnya Kennedy et al, 2004..

Penelitian lain melaporkan korelasi positif kecil, misalnya Kasahara, 2002.

Gempa bumi terjadi ketika stres pada patahan melebihi ambang batas kritis untuk pecah sebuah patahan Hal ini juga diketahui bahwa penerapan stres tambahan ke sistem sesar yang dekat dengan kegagalan dapat memulai pecah dan menghasilkan gempa (jerami yang mematahkan punggung unta).

Ada kemungkinan bahwa pengangkatan akibat pasang surut bumi dapat mengurangi tekanan normal yang mempengaruhi  patahan secara bersamaan. Beberapa penelitian terbaru oleh Metivier dkk. (2009) menyajikan bukti untuk ini.

Namun, bahkan jika ada hubungan statistik antara pasang surut Bumi dan aktivitas gempa bumi, itu tidak benar-benar membantu dalam hal prediksi gempa, karena kita tidak memiliki cara untuk mengukur besaran gaya pada zona patahan.

Pada saat terjadinya supermoon, tarikan gravitasi bulan pada bulan perigeepun tidak cukup memiliki perbedaan gaya tarik yang besar dibandingkan dengan waktu lain secara signifikan, sehingga tidak mampu mengubah ketinggian pasang surut yang memicu gempa bumi.

:( “Wah pakdhe, kelamaan di Malesa trus bahasa Indonesianya kaco ! Jadi sebenernya ada hubungannya atau tidak sih ?”

Hubungan korelasi pasangsurut dan terjadinya gempa.

Secara ilmiah hanya diketahui hubungan korelasionalnya seperti diatas ini, artinya memang banyak kejadian gempa yang bersamaan dengan pasut. Tetapi tidak setiap pasut terjadi gempa. Gejala ini tidak dapat dipakai sebagai metode untuk meramalkan. Hanya untuk kewaspadaan.

Mirip seperti longsoran terjadi bila musim hujan, ini benar kan ? Tetapi apakah setiap hujan menyebabkan longsor ? Tentu tidak dan hingga kinipun hujan tetap tidak dipakai sebagai pertanda atau ramalan bakalan longsor. Hanya meningkatkan kewaspadaan saja.

Demikian juga gerhana yang terjadi pada saat pasut optimum, tidak dapat dipakai sebagai ramalan gempa.

Masih penasaran ?

Coba baca-baca tulisan dan paper ilmiahnya disini :

  • Cochran et al. 2004. Earth Tides Can Trigger Shallow Thrust Fault Earthquakes, Science, 306, 5699, 1164–1166.
  • Kasahara. 2002. Tides, Earthquakes, and Volcanoes, Science 297, 348
  • Kennedy et al. 2004. Earthquakes and the Moon: Syzygy Predictions Fail the Test, Seismological Research Letters, 75, 5
  • Metivier et al. 2009. Evidence of earthquake triggering by the solid earth tides, Earth and Planetary Science Letters 278 (2009) 370–375
  • Tanaka. 2010. Tidal triggering of earthquakes precursory to the recent Sumatra megathrust earthquakes of 26 December 2004 (Mw 9.0), 28 March 2005 (Mw 8.6), and 12 September 2007 (Mw 8.5), Geophysical Research Letters, 37, L02301

Bacaan terkait

TINGGALKAN KOMENTAR