Hakikat Kesedihan Dan Penyesalan 2

Hakikat Kesedihan Dan Penyesalan 2

BAGIKAN

Hakikat Sebuah Kesedihan Dan Penyesalan 2Orang yang menempuh perjalanan kepada Alloh SWT juga akan menghadapi tahapan-tahapan nafsu dan tahapan-tahapan maqom. Dalam dunia Tasawuf ada tujuh macam nafsu dengan berbagai macam ciri masing-masing. Tahapan nafsu yhang paling bawah Nafsul Ammarah. Tanda atau perangai (watak) orang yang bernafsu ini banyak sekali diantaranya sifat kikir, Riya’, pemarah dsb. Kesemua sifat yang tercela (al-akhlaq almadzmumah) itu mesti diperangi dan diriyadhohi (dilatih). Dalam istilah ilmu Tasawuf proses ini dinamakan “Takholli”, yaitu merubah sifat-sifat tercela menjadi sifat-sifat terpuji atau akhlak al mahmudah, sehingga yang asalnya kikir menjadi dermawan, yang riya’ menjadi ikhlas, yang asal pemarah menjadi penyabar, yang sombong jadi tawadhu’. Kesemuanya itu harus dilatih dengan sungguh-sungguh untuk dapat meningkat ketahapan nafsu yang selanjutnya yang lebih tinggi yaitu Nafsu Allawwamah. Begitu pula halnya sifat-sifat nafsu lawwamah yang buruk harus dilatih agar menjadi sifat yang terpuji sehingga meningkat lagi menjadinafsu Muthmainnah dan begitu  seterusnya sampai ketingkat Nafsu Arrodhiyyah dan Mardhiyah.

Masa-masa yang berat dan bahaya adalah ketika seorang tengah mencapai nafsu Mulhimah, sebab ia diberi ke awasan (Mukasyafah) oleh Alloh SWT sehingga ia diberi kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang bersifat ghoib, mengetahui kehendak hati orang lain, serta dapattmenyibak sesuatu yang akan terjadi. Kesemua itu adalah hal-hal yang berbahaya, ia tidak boleh sembrono bahkan harus meneliti dirinya sendiri dengan misalnya: konsultasi pada guru (Mursyid Kamil), sebab keawasan-keawasan (pengertian yang masuk ke dalam hati) itu adakalanya:

1.      Pengertian yang berasal dari Alloh SWT yang disebut Warid Robbany.

2.      Pengertian yang berasal dari Malaikat yang disebut Warid Malaki.

3.      Pengertian yang berasal dari Syaitan yang disebut sebagai Warid Syaitoni.

4.      Pengertian yang berasal dari Jin yang disebut sebagai Warid Jinny.

5.      Pengertian yang berasal dari Nafsu yang disebut sebagai Warid Nafsy.

Demikian bahaya, karena orang yang pada tahap Nafsu Mulhimah itu belum bisa membedakan antara Wari-warid yang datang, apakah itu warid Robbany, Maliky, Syatoni, Jinny atau Nafsy. Sehingga orang tersebut tidak diperbolehkan untuk menggunakan pengertian (warid) yang diberikan padanya sebelum dicocokkan dengan syari’at (Alquran dan Al Hadits).

Dibandingkan orang yang jarang atau tidak pernah susah, orang yang diliputi kegelisahan (dalam pengertian diatas) itu lebih cepat sampai pada tujuan, yaitu wushul. Sebab secara psikis, kesusahan itu akan menjadi suatu pendorong yang memungkinkan seseorang untuk lebih memacu dirinya dan lebih bersemangat, melebihi jauh umumnya manusia, dalam menempuh suatu perjalanan. Jika diukur, seperti ilustrasi Abu Ali Ad-Daqqok diatas, orang yang sedih hanya memerlukan waktu sebulan untuk menempuh perjalanan menuju Alloh SWT, sedangkan orang yang tiada diliputi susah membutuhkan waktu bertahun-tahun. Misalnya, dua orang yang sama bepergian ke Jombang denga jalan kai, yang satu dalam kondisinya yang gelisah dan susah karena mendengar ibunya meninggal dunia sedang yang lain tidak. Dapat dibuktikan, tentu orang pertama yang dalam kegelisahan dan susah akan tiba lebih awal. Karena kondisi hatinya yang demikian (bayangan dalam hatinya hanya ada rumah dan segera ingin melihat ibunya yang terakhir kali) akan memacu dirinya untuk berjalan lebih cepat agar segera sampai, dan membuat ia tak sempat menikmati pemandangan di kanan kirinya, berhenti atau mampir. Berbeda dengan orang yang tidak dalan kesedihan seperti orang yang pertama, ia akan berjalan semaunya dengan sesantai-santainya, sebab tidak ada alasan baginya untuk memaksa dan mendorong dirinya agar berjalan lebih cepat ke Jombang.

Begitu pula perjalanan menuju Alloh SWT, kegelisahan yang tumbuh dari kesadaran akan kekurangan diri, akan mampu menjadi pendorong dan “cambuk” yang memacu langkah mengejar ketertinggalan, pada akhirnya akan sampai pada tujuan yang diharapkan dan inilah hakikat penyesalan.

Dalam kitab syarah Al Hikam disebutkan bahwa :

سمعت رابعة رضي الله تعالى عنها رجلا يقول واحزناه فقالت قل واقلة حزناه لو كنت محزونا لم يتهيأ لك أن تتنفس (الحكم ج : 1 ص : 63)

Robi’ah Al Adawiyah, seorang sufi wanita yang terkenal, mendengar ada seorang priaberkata : ‘alangkah sedihnya diriku’, Robi’ah berkata : ‘jangan berkata begitu, tapi katakanlah: Alangkah sedikitnya rasa sedihku’ karena jika memang engkau benar-benar sedih, itu berarti engkau sama sekali tidak punya kesempatan untuk bersenang-senang” (padahal engkau masih bisa tertawa bebas setiap hari).

Kesedihan yang dimaksud disini adalah kesedihan yang ditimbulkan karena keteledoran dalam beribadah, bukan karena memikirkan masalah duniawi, karena Alloh SW, telah menentukan dan mencukupi rizki manusia. Susah karena dunia artinya, susah memikirkan betapa sulitnya mendpatkan harta dunia, dimana dengan kesulitan itu diberi imbalan oleh Alloh SWT berupa dileburnya dosa. Sebab ada dosa-dosa tertentu yang tidak bisa dilebur dengan amal apapun, kecuali dengan susah dan jerih payah dalam mencari nafkah untuk keluarga, dengan catatan adanya keikhlasan didalam hati.

Jadi intinya adalah kita semua diingatkan agar selalu:

1.      Merasa susah, sedih dan menyesal apabila tertinggal (teledor) ibadah.

2.      Bersemangat untuk menutupi (mengqodho’) ibadah yang telah ditinggalkan

3.      Memohon kepada Alloh SWT supaya diberi semangat beribadah sebab apapun dan bagaimanapun usaha dan niat kita bila tidak diberi Alloh SWT maka hal itu tidak akan pernah terjadi.

TINGGALKAN KOMENTAR