cinta ilahi management function ala ma’ruf al karkhi

cinta ilahi management function ala ma’ruf al karkhi

BAGIKAN

Wali Allah terkemuka dari Baghdad ini termasyhur bukan hanya di kalangan kaum Muslim, tetapi juga Nasrani dan Yahudi. Namanya dijumpai di hampir semua silsilah Tarekat (silsilah Ma’rufiyyah) yang mu’tabarah, sehingga beliau juga disebut sebagai “induk tarekat”atau “ibu dari segala silsilah”  (umm al-salasil). Beliau dikenal luas karena perilakunya yang penuh perikemanusiaan dan rendah hati, dan salah satu dari tokoh besar Futuwwah (ksatria sufi) dalam sejarah Tasawuf.

Abu Mahfuzh Ma’ruf ibn Firuz al-Kharki, lahir di Karkh, sebuah wilayah diBaghdad, sebagai putra dari Firuzan Ali Kharki. Orang tuanya semula adalah penganut Nasrani. Tetapi kemudian mengikuti jejak Syekh Ma’ruf al-Kharki untuk masuk Islam. Beliau mempelajari Tasawuf pertama kali kepada seorang Wali Allah agung, Daud at-Tha’i.  Di bawah bimbingannya Syekh Ma’ruf melakukan disiplin diri (mujahadah) dan riyadhah yang keras, sehingga ketabahannya dikenal luas di mana-mana. Kemudian beliau menjadi pelayan bagi Imam Riza, yang dikenal sebagai Imam Syi’ah ke delapan. Setiap malam Syekh Ma’ruf selalu terjaga dan beribadah, atau melayani setiap tamu yang singgah ke rumahnya. Beliau meninggal setelah mendapat serangan yang sebenarnya ditujukan kepada Imam Riza. Dalam serangan itu Syekh Ma’ruf menderita patah tulang rusuk dan sekarat. Menjelang wafatnya, salah seorang muridnya, SARI AS-SAQATHI, menanyakan wasiat terakhirnya. Syekh Ma’ruf meminta agar pakaiannya disedekahkan.

Saat beliau meninggal, yakni pada 200 H/815 M, semua orang dari berbagai agama datang berziarah, sebab masing-masing kaum agama yang berbeda-beda itu mengklaim bahwa Syekh Ma’ruf adalah termasuk dalam golongan mereka. Mereka bahkan berebut ingin memanggul kerandanya. Namun Syekh Ma’ruf pernah berpesan, “Jika ada suatu kaum yang dapat mengangkat kerandaku, maka aku adalah termasuk golongan mereka. Pada akhirnya, orang-orang Nasrani dan Yahudi tidak kuat mengangkatnya – dan orang Islam sajalah yang bisa.

Ajaran dan karamah

Syekh Ma’ruf termasuk salah satu Sufi generasi awal yang mengajarkan cinta Ilahi. Menurutnya orang tidak bisa mempelajari cinta sebab cinta adalah anugerah Ilahi dan bukan semata-mata hasil dari jerih-payah manusia. Syekh Sari as-Saqathi pernah bermimpi melihat Syekh Ma’ruf al-Kharki berada di bawah Arasy Ilahi. Lalu Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Siapakah dia itu?” “Engkau lebih tahu, Ya Allah,” jawab para malaikat. Allah berfirman, “Dia adalah Ma’ruf al-Kharki. Dia mabuk cinta kepada-Ku, dan dia hanya sadar setelah bertemu dengan-Ku.” Syekh Ma’ruf juga mengajarkan agar orang senantiasa menolong orang-orang miskin dan mencintai mereka, sebagai diajarkan oleh Rasulullah saw.

Karamah Syekh Ma’ruf yang termasyhur adalah doanya yang amat mujarab. Melalui kekuatan doanya beliau bisa menyadarkan orang-orang yang tersesat. Karenanya, para peziarah yang mengunjungi makamnya menyebut makam Syekh Ma’ruf sebagai “obat yang mujarab,” sebab banyak doa yang terkabul berkat wasilah dan berkah spiritual Syekh Ma’ruf. Dikisahkan suatu ketika Syekh Ma’ruf bertemu dengan serombongan orang yang bersenang-senang dengan bertingkah maksiat. Murid-murid Syekh memintanya agar beliau berdoa supaya mereka dilenyapkan saja.” Tetapi Syekh Ma’ruf justru berdoa, “Ya Allah, karena Engkau telah memberi mereka kebahagiaan di dunia, maka berikan pula kebahagiaan untuk mereka di akhirat nanti.” Murid-muridnya heran dan protes, namun Syekh Ma’ruf meminta mereka bersabar, sebab rahasia doa ini akan terbuka sebentar lagi. Begitu rombongan orang yang bersenang-senang itu berjumpa dengan Syekh, mendadak mereka langsung memecahkan botol anggur yang mereka minum, dan jatuh berlutut di depan Syekh. Mereka langsung bertobat dan menjadi muridnya.