Home mozaik Syekh Hasan al-Basri: Pemimpin Orang-orang Yang Menahan Diri

Syekh Hasan al-Basri: Pemimpin Orang-orang Yang Menahan Diri

HASAN AL-BASRI


Dunia ini – jika engkau mau merenungkannya – hanyalah tiga hari: hari kemarin, yang tak bisa kau harapkan untuk kembali; hari ini, yang mesti kau manfaatkan; dan hari esok, yang belum tentu engkau mencapainya – sebab mungkin engkau telah mati sebelum sampai.

::  Al-Hasan al-Basri

Salah Satu Wali Allah yang sangat dihormati oleh kaum sufi dan ulama pada umumnya. Beliau adalah salah satu dari delapan ahli zuhud pada zamannya yang berkesempatan bertemu dengan 130 Sahabat Rasulullah SAW dan 70 pejuang Badar. Beliau juga berguru langsung kepada Mahaguru Para Sufi, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib. Syekh Hasan al-Basri senantiasa tenggelam dalam kesedihan dan takut kepada Tuhan, sehingga “seolah-olah api neraka diciptakan khusus untuk dirinya.” Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya memuji Syekh Hasan al-Basri sebagai “Orang yang kata-katanya paling mirip dengan sabda nabi.”

Syekh Al-Hasan al-Basri lahir sekitar tahun 642 M (21 H) di Madinah. Ibunya adalah pelayan Ummi Salamah, salah satu istri Rasulullah SAW; ayahnya adalah Abu Hasan Yasar, dari Maysan, sebuah desa di dekat Basra. Nama Hasan (indah, bagus) diberikan oleh Sayyidina Ali, karena wajahnya yang rupawan. Beliau dibesarkan oleh Ummu Salamah dan disusui olehnya. Konon Ummu Salamah senantiasa berdoa kepada Allah agar Syekh Hasan al-Basri menjadi panutan umat.

Sebelum menjadi Sufi, beliau adalah pedagang permata yang biasa berbisnis dengan pedagang Byzantium. Pada tahun 658 beliau pindah ke Basra di Irak. Saat itu Basra adalah tempat bermukimnya banyak Sahabat Rasulullah. Tak lama kemudian Syekh Hasan al-Basri menjadi terkenal karena kejujuran, kesederhanaan dan kesalehannya. Beliau sangat menentang gaya hidup para bangsawan dan orang kaya yang saat itu suka hidup mewah dan berfoya-foya, melanggar norma-norma ajaran Islam. Khotbah-khotbahnya sangat berkesan dan ucapannya hingga kini menjadi mutiara hikmah yang dianggap klasik dalam ajaran Tasawuf.

Kritik Syekh Hasan al-Basri kepada penguasa lalim membuatnya harus berseteru dengan beberapa petinggi kerajaan. Beliau menghindari bergaul dengan para pejabat dan orang kaya. Beliau bahkan berani mengkritik Gubernur al-Hajjaj yang terkenal zalim. Akibatnya beliau dikejar-kejar dan terpaksa bersembunyi sampai al-Hajjaj meninggal dunia. Menurut satu keterangan beliau pernah menulis tafsir al-Qur’an dan sejumlah kitab ilmu kalam dan pemikiran politik, namun tak satupun yang tersisa, kecuali beberapa bagian khotbah dan nasihatnya. Banyak ucapan dan nasihatnya dimuat di berbagai kitab Sufi. Berikut beberapa ajaran dan nasihatnya yang terkenal.

Ajaran

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz pernah menulis surat kepada Syekh Hasan al-Basri untuk meminta nasihat. Dalam jawabannya, Syekh Hasan al-Basri menulis, “Wahai amirul mukminin, jika Allah bersamamu, apa yang mesti engkau takutkan. Dan jika Allah tak bersamamu, kepada siapa engkau mesti berharap?” Menurut Syekh Hasan al-Basri, ma’rifat adalah menghilangkan setiap kebencian di dalam diri. Beliau dikenal pula sebagai pemimpin orang-orang yang wara’, orang-orang yang menahan diri demi Tuhannya. Syekh Hasan al-Basri pernah ditanya, “Apa dasar agama?” Beliau menjawab, “Wara’. Kemudian ditanya lagi, “Apa yang menghancurkannya?” Beliau menjawab, “Tamak.” Beliau pernah ditanya tentang sabar, dan beliau menjawab: “Kesabaran ada dua macam. Pertama, kesabaran dalam kemalangan dan penderitaan; kedua adalah kesabaran mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang Allah … Betapa mulianya orang yang tak memikirkan kepentingan dirinya sendiri, sehingga kesabarannya adalah demi Allah semata, bukan untuk tujuan surga. Ini adalah tanda ketulusan sejati.”  Beliau juga berkata, “Warisan terbaik adalah ilmu, teman terindah adalah etika, bekal terbaik adalah takawa, barang dagangan terbaik adalah ibadah, utusan terbaik adalah akal, sahabat terbaik adalah akhlak al-karimah, menteri terbaik adalah lapang dada dan bijaksana, kekayaan paling utama adalah qana’ah, penolong terbaik adalah taufik, dan penasihat paling pandai adalah mengingat kematian.” Beliau juga memperingatkan, “Dusta adalah gabungan dari berbagai macam kemunafikan.”

Ketika beliau hendak meninggal, beliau tertawa. Tak seorangpun yang pernah melihat beliau tertawa seperti itu. Beliau meninggal dunia pada 728 M (`110 H) pada malam Jum’at bulan Rajab di Mekah. Makamnya berada di Basrah, dan hingga kini menjadi makam keramat yang dikunjungi ribuan peziarah dari seluruh dunia Muslim.

Mbah Kanyutz :: lereng merapi, Juli 2011

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *