April 19, 2014
Home » Berita » Fatwa Larangan Mendengarkan Radio Roja

Fatwa Larangan Mendengarkan Radio Roja

AL-USTADZ DZULQARNAIN M. SUNUSI TENTANGHUKUM MENDENGARKAN RADIO ATAU MENONTON TV RODJA dan HUKUM MENGAMBIL ILMU DARI DAI IHYA AT-TURATS

HUKUM MENDENGARKAN RADIO ATAU MENONTON TV RODJA
Tanya: “Bolehkah kita mendengarkan Radio atau melihat TV Rodja, yang mana mereka berdakwah mirip atau sama dengan Ahlussunnah?”
Jawab: “Saya TIDAK MENASEHATKAN mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, SEBAHAGIAN MANJAHAJNYA TIDAK BENAR, dan SEBAHAGIANNYA TIDAK JELAS dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini.”
http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/Ustadz_Dzulqarnain/Tanya-Jawab-Tentang-Rodja/Hukum_Mendengarkan_Radio_atau_Menonton_Rodja-TV.mp3

Pada dauroh sehari di Cirebon (1433 H / 2012 M), selain diadakan tausiyah juga dibacakan hasil pertemuan / musyawarah para asatidzah di Cirebon (Kabupaten Kuningan) yang merupakan fawaid dari ‘umroh dan kunjungan para asatidz ke ‘Ulama Yaman dan Saudi ‘Arabia (1433 H / 2012 M). Berikut sedikit kutipan inti dari hasil musyawarah asatidz mengenai hukum mendengarkan radio hizbiyyin dan mendatangi kajian mereka (diambil dari rekaman):
“Dan kemudian sesi yang kedua adalah masalah beberapa faedah yang disampaikan para asatidzah diantaranya Ustadz Luqman, Ustadz Qomar, Ustadz Muhammad (‘Umar As Sewwed) dan tentunya sebagian yang tidak bisa saya sampaikan di sini. Diantaranya adalah pertanyaan Ustadz Luqman kepada Syaikh Ubaid tentang masalah radio (seperti radio rodja dan semisalnya) radio-radio yang disitu dikelola hizbiyyin, yang pengisinya turotsiyyin, kasani, turotsi..bagaimana pendapat syaikh tentang masalah radio yang seperti ini?

Jawaban Syaikh: “Tidak boleh bagi salafiyyin dan tidak boleh bagi thulabul ‘ilmi untuk mendengarkannya..dan juga tidak boleh untuk para DA’I untuk mendengarkannya KECUALI ia mendengarkan untuk MEMBATAHNYA!”
“Kemudian faedah ketika beliau (Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewwed) berkunjung ke Asy Syaikh Muhammad Muqbil bin Hadi, beliau bertanya tentang masalah dauroh-dauroh yang diadakan oleh hizbiyyin yang mengundang sebagian ‘ulama ahlussunnah, apakah boleh bagi salafiyyin untuk menghadiri muhadhoroh-muhadhoroh (ceramah-ceramah) yang panitianya adalah hizbiyyin?
Jawaban Syaikh: “Ini sungguh aneh, kalau seandainya panitianya adalah mereka (hizbiyyin)… kemudian yang hadir itu bercampur dan banyak mereka (hizbiyyin)…Jangan kamu perbanyak jumlah mereka! JANGAN HADIR….! JANGAN KAMU MEMPERBANYAK JUMLAH MEREKA!”
http://isnadalammaya.wordpress.com/2012/09/19/fatwa-ulama-tentang-mendengarkan-radio-hizbiyyun-dan-mendatangi-kajian-mereka/

LARANGAN MENDENGARKAN RADIO TURATSIYYAH – HALABIYYAH – MA’RIBIYYAH (semisal RODJA dll.) (Asy-Syaikh Al-’Allamah ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah)
Pertanyaan: “Di dekat kami ada radio yang dia ini pengikut At-Turotsiyyin seperti Abul Hasan dan Ali Al-Halaby dan ada sebagian Salafiyyin yang menanyakan tentang hukum mendengarkan radio ini. Dan tentunya di radio ini disebarkan perkataan Al-Halaby, Ar-Ruhaily dan selain keduanya, padahal Salafiyyin memiliki radio sendiri dan memiliki CD-CD yang merekam durusnya para ulama dan para da’i (Salafiyyin) Indonesia dalam berbagai bidang ilmu, Tauhid, Sunnah, Akhlaq. Maka apakah anda menasehati anak-anak anda di Indonesia untuk mendengarkan radio ini?”
Jawab: “Yang pertama, mencukupkan diri dengan mendengarkan radio Salafiyyin dan pada yang engkau sebutkan itu sudah cukup. Maka TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH.

Kedua, barangsiapa yang DIA INI MEMILIKI KEMAMPUAN KEAHLIAN/KAPASITAS LALU MENDENGARKAN RADIO INI DALAM RANGKA MEMBANTAHNYA MAKA TIDAK MENGAPA. JADI ORANG-ORANG AWAMNYA AHLUSSUNNAH TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO TERSEBUT.
Kewajiban kita hanya menjelaskan, dan termasuk kelembutan dan rahmat Allah kepada kita (yaitu) Allah tidak membebani kita untuk memberi hidayah kepada hati-hati manusia dan Allah tidak membebani kita agar kebenaran itu diterima oleh mereka….
(diterjemahkan secara bebas. Sumber: rekaman pertanyaan-pertanyaan Salafiyyin Indonesia pada malam Ahad, 15 Jumadil Akhir 1433H yang bertepatan dengan 5 Mei 2012)

http://www.darussalaf.or.id/hizbiyyahaliran/rekaman-dan-terjemahan-fatwa-larangan-syaikh-ubaid-untuk-mendengarkan-radio-turotsiyyah-halabiyyah-maribiyyah-semisal-rodja-dll/
Link Suara: http://bit.ly/NVrfUk

Demikian halnya pernyataan mufti wahabi salafi tempo dulu yaitu Muhamad bin Ibrahim bin Abdul Lathif Alu Syaikh, salah satu guru Syaikh bin Baz menyatakan; tidak layak mendengarkan radio walaupun utk mendengarkan al-Qur’an, berita dan muhadoroh ilmu, dan yang mendengarkannya adalah orang yang membinasakan agama dan ahlaknya.
Pernyataan tersebut tercantum dalam kitab Fatawa Wa Rasail karangan Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Latif Alu Syaikh juz 10 hal. 224 bab. Ke-2854 tentang Radio sebagaimana scan kitab dijelaskan sbb:

2854- اقتناء الراديو في بيت العائلة يفتحونه على ما أرادوا
( السؤال الثاني ) قوله : من أغرب المصنوعات الحديثة المذياع (الراديو) ولا يخفى أن عدم اقتنائه أصبح في حكم المتعذر لدى كثير من الناس ، فهل يسوغ ذلك إذا كان الغرض منه سماع القرآن والأخبار والمحاضرات العلمية ، لا سيما إذا عرف مقتنيه بالعقل والعدالة وعدم الانصياع إلى سماع المجون والأغاني الخليعة ؟
الجواب : الحمد لله . لا ينبغي للرجل اقتناؤه إلا رجل ، لا يبالي بعواقب الأمور والضرر على عوائله في أديانهم وأخلاقهم وفق الله الجميع للخير . والسلام عليكم .
2.854 – Perkembangan keberadaan radio di rumah suatu keluarga dapat membuka apa yang mereka inginkan
(Pertanyaan kedua) yang mengatakan: “Termasuk suatu keanehan memproduksi tekhnologi modern (radio) bukan rahasia lagi bahwa kurangnya masuknya informasi menjadi aturan yang mustahil bagi banyak orang, maka apakah diperbolehkan jika tujuan itu int mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an, berita dan mendengarkan ceramah agama, terutama jika dia mengetahui batasan akal dan keadilan dan tidak mematuhi kata-kata kotor yg didengar dan lagu cabul?”
Jawaban: “Segala puji bagi Allah, tidak ada orang yang bisa menjamin unt menjaga ketika hanya seorang pria, tidak peduli tentang konsekuensi dari hal-hal yg menimbulkan kerusakan dari dampaknya (mendengarkan radio) dalam agama mereka, dan bisa merusak akhlak mereka. Semoga Allah membantu kita semua untuk menuju kebaikan. Salam bagimu.”
Oleh karenanya, maka munculnya radio Rodja, TV Rodja dan lainnya adalah perbuatan yg harus dijauhi sejauh-jauhnya oleh saudara2 salafi wahabi karena ulama2 kalian MELARANGNYA, tetapi larangan tersebut tidak berlaku unt kami kaum ASWAJA yg suka BID”AH HASANAH dan si MARKONAH. Wallohu a’lam bish-Showab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>