Home Ahlaq Bantahan Terhadap Wahhabi Yang Mencela Syi,ir Abu Nawas

Bantahan Terhadap Wahhabi Yang Mencela Syi,ir Abu Nawas

 Bantahan Terhadap Wahhabi Yang Mencela Syi,ir Abu NawasSyi,ir-Abu-Nawas

Ilahi lastu lil firdausi ahla * wa la aqwa ala naril jahimi,

fa habli taubatan waghfir dzunubi * fa in naqghoufiru dzamil adhimi,

Dzunubi mitslu adadi rimali * fa habli taubatan ya dzal jalali,

wa umrinafisun fi kulli yaumi * wa dzanbi zahidun kahifah dimami..

Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak * Muqirran bi dzunubi Wa qad di’aaka

Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun * Wain tadrud faman narju siwaaka..

Ya Tuhanku, ku tak pantas menghuni surga-Mu * Namun ku takkan kuat dengan api nerakaMu

Terimalah taubatku dan ampunilah dosaku * Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa

Dosa-dosaku sebanyak butiran pasir * Maka terimalah pengakuan taubatku Wahai Yang Agung.

Sedangkan umurku berkurang setiap hari * Namun dosaku terus bertambah bagaimanakah aku menanggungnya.

Wahai Tuhanku, hambamu yang penuh maksiat menghadapmu * Mengakui segala dosa, sungguh berdoa kehadapanmu.

Bila Engkau mengampuninya memang Engkau Maha Pengampun * Dan bila Engkau menolaknya maka kepada siapa lagi kami mengharapkan kepada selain Engkau.

Setiap kita melantunkan do’a dalam syi’ir abu nawas atau juga dikenal sebagai syi’ir i’tirof, tanpa terasa kita terhanyut dan teringat akan dosa-dosa kita. Namun ternyata ada juga yang dengki dan mencari-cari cela untuk mencela orang lain seperti di sini http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/syair-al-itiraf-pengakuan-abu-nawas.html?m=1

Di dalam blog itu, ada celaan sbb:

Sikap Pesimis dan terkesan plin-plan ( tidak konsisten ) terlihat dalam bait Syair* ABU NAWAS  ini

(Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka)

Jadi, maunya di mana ? Di Surga tidak pas, di Neraka juga tidak pas. [istilah dalam pribahasa : Hidup Segan, Mati Tak mau].

Saya merasa aneh, padahal di syi’ir tersebut tidak ada ungkapan yang inkonsistensi atau plin-plan.

Ungkapan di atas adalah ungkapan majaz, majaz secara garis besar, ada empat, Majas perbandingan, Majas sindiran, Majas penegasan dan Majas pertentangan. Dan ungkapan diatas termasuk kategori majaz perbandingan, yaitu Majaz Litotes. Majaz Litotes, adalah ungkapan bahasa yang merendah dengan tujuan rendah diri/ tidak sombong.

Ungkapan dalam syi’ir abu nawas tersebut adalah ungkapan sebagai bentuk kerendah diri an kita sebagai manusia di hadapan Tuhan kita.

Kalo saja BERDOA dengan tidak rendah diri, misal: Ya Allah masukkanlah aku ke surgaMu, karena amal dan ibadahku sungguh besar, dalam hidupku ku selalu beramal dan beribadah padaMu.

Maka niscaya Neraka tempatnya.

Benar dalam BERDOA  kita harus Optimis, harus Yakin, namun ingat, jangan sampai keyakinan kita itu ditunggangi oleh Ujub, Riya’, dan Takabbur.

Lalu berikutnya dalam blog tersebut berisi sbb:

Selanjutnya dalam syair Abu Nawas disebutkan;

Seandainya Engkau mengampuni Memang Engkaulah Pemilik Ampunan Dan seandainya Engkau menolak taubatku Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU

Silahkan baca link ini, “Jangan Berkata Seandainya”; http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2810-jangan-berkata-seandainya-.html

-

Saya telah membaca isi dalam link tersebut, namun ternyata isinya malah jadi senjata makan tuan, dengan kata lain secara tidak langsung dalam web itu, mendukung atau membolehkan perihal kalimat pengandaian dalam syi’ir abu nawas.

Di dalam web itu, disebutkan beberapa poin tentang kalimat pengandaian yang dilarang dan di perbolehkan. Pada poin Keenam: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan hanya sekedar pemberitaan, maka ini hukumnya boleh. Contoh: “Seandainya engkau kemarin menghadiri pengajian, tentu engkau akan banyak paham mengenai jual beli yang terlarang.”

Mari kita perhatikan, kalimat pengandaian dalam syi’ir abu nawas, itu hanya sekedar pemberitaan, atau pemberitahuan. Jadi sebenarnya bukan termasuk kalimat pengandaian yang terlarang sebagaimana menurut web tersebut.

Abu Nawas, dalam cerita yang masyhur memang dikenal sebagai orang yang pernah banyak berbuat dosa, namun pada akhirnya ia bertobat, dan syi’ir tersebut adalah curahan perasaan nya.

Hadanaallahu wa iyyakum ajma’in

wallahu a’lam bish shawab

Artikel 31 Oleh Mas Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *