Home Al-kisah Dibalik Tembok Pesantren Putri

Dibalik Tembok Pesantren Putri

Perbedaan Toleransi Agama dan Pluralisme Agama

Pukul 5 sore matahari senja berada di ufuk barat barhiaskan lembayung kuning memancarkan keceriaan para santriwan yang sedang asyik barmain bola di atas sepetak sawah yang baru saja dipanen.

Hanya mengenakan kain sarung dangan kaos oblong mereka berlarian mengejar si kulit bundar walau harus sesekali kaki mereka terperosok didalam tela sawah yang semakin melebar karena entah berapa lama tidak tersiram hujan, semangat para santri tak juga surut meski waktu hampir magrib, karena dari balik dinding madrasah pondok putri, terlihat beberapa santriwati melihat pertandingan yang sedang berlangsung sambil sesekali memberikan support pada pemain kesayangan mereka, “Ayo rohman… kejar terus… kamu pasti bisa !!!

Teriak salah satu santriwati dari balik jendela kaca belakang madrasah memberikan support.

Rohman pun semakin lincah menggocek bola setiap kali namanya di elu-elu kan para penonton. Namun sayang Rohman terlena oleh pujian, Bola pun lepas diserobot Duki jagoan dari indramayu yang terkenal memiliki ilmu kanuragan lumayan.

Rohman mengejar Duki penuh dendam namun yang dikejar agaknya bukan tandingan, akhirnya…gooool !!!

Kesebelasan masduki pun memenangkan pertandingan sepak Bola Memperebutkan KANGKUNG & NCUNG CUP.

Sementara itu di sudut madrasah sebelah utara di tikungan tembok pondok putri agaknya pintu belakang kantin masih terbuka, terlihat tiga gadis santri dengan cekatan sambil sesekali di warnai derai tawa dan bersenda gurau melayani santriwati yang membeli lauk pauk untuk makan sore atau mungkin juga persiapan berbuka puasa sunnah Senin dan Kamis, karena kata Bu Nyai

“biar cepat pintar dan dapat ilmu manfaat,”

Aku barsama Navis teman setiaku asal kota batik, yang sama-sama mberung ( bandel ) dengan mantap dan penuh percaya diri melangkah mendekati pintu belakang kantin yang hanya terbuka bagian atas nya saja sedangkan bagian bawahnya tertutup. Mungkin dari semua santri putra yang menuntut ilmu di pesantren itu hanya aku dan Navis yang berani mendekati pintu belakang pondok putri, karena itu suatu pelanggaran Undang-Undang Pesantren

Dengan ramah Santri putri yang di panggil Iin mendekat sambil menyodorkan nampan yang berisi gorengan ba’wan makanan faforit ku yang sudah istiqomah di konsumsi tiap setelah kegiatan

Musyawaroh kitab-katab pelajaran, jam 11 malam, sambil memandang indahnya langit yang bertabur bintang di temani teh tubruk khas tegal gubug, apa lagi Bakwan madein Mbok Muner poko’e gak ada duanya.

“kalem aja Mbak, ga usah buru-buru sambil ngobrol sedikit boleh kan? Dari mana aslinya mbak ? Sudah lama mondok di sini ?

Sambil makan gorengan dengan santai kami meluncurkan pertanyaan dan rayuan yang sama sekali tidak satupun pertanyaan dijawab, keki juga sih…

Namun, pantang mundur !!!

Itulah semboyan ku dan Navis dalam hal ngejar target.

Karena itu antara aku dan dia selalu bersaing mendapatkan koleksi Foto-foto cewek sebagai tanda cinta mereka,ce illeeh, sebagai bukti agar diketahui teman2 santri, foto-foto cewek itu di pajang dibalik pintu lemari yang sering membuat pengurus marah-marah. tapi antara kami tetap dalam koridor “ sesama kawan jangan saling mendahului” itu sebuah komitmen kami berdua demi menjaga kesetiaan persahabatan.

“maaf kang, makan nya di pondok aja jangan disini, silahkan ambil berapa, kantin dah mau tutup”

“kami gak bakal pergi sebelum mbak kasih tau nama mba siapa,gimana?

Kata ku dengan nada mengancam. Dalam benak ku berharap dia mau berkenalan lalu setelah akrab dia mau jadi pacar untuk menambah koleksi ku, tiba-tiba dari dalam pesantren putri seorang Santri, tergesa-gesa serta ketakutan dengan nafas tidak beraturan.

“ Mbak Iin…! abah tahu ada santri putra disini, sekarang beliau sedang kemari.

“kang Tolong sampean cepat pergi, Abah pasti marah kalau tau sampean ada disini, bayar nya nanti aja”, kata mbak Iin panik.

“Makasih Mbak Iin yang cantik…lari…vis… ” langsung saja kami ambil langkah seribu ke arah pesantren putra dan langsung naik ke lantai dua komplek Arofah yaitu kamar dimana aku dan navis tinggal, dengan perasaan takut yang berkecamuk gak karuan aku mencoba melongok dari belakang komplek ke arah Pondok Putri karena khawatir jangan-jangan Abah Habib ngejar sampe pondok kami, karena jarak antara pondok Putra dan Putri sangat berdekatan hanya di pisah kan oleh sebuah tembok penghalang.

Ah… ternyata Abah tidak mengejar sampai pondok putra, lega rasanya hati ini. Akupun mengatur pernafasan dan detak jantung yang hampir copot.

“ Men, Vis tadi kalian kenapa dikejar Abah ? Beliau marah…”

Tanya Miftahuddin teman sekamar Navis asal Centigi Indramayu yang juga pengurus seksi keamanan yang biasa dipanggil Mistak.

“ Tuh, Emen godain santri putri, udah makan Ba’wan belum bayar lagi,”

“ Enak aja lo Vis… emang nya Abah bilang apa, Tak ?

Tanya ku penasaran

“ Sopo mau sing ngledeki santri ku ? Nek arep nglonthe ojo nang kene !!!

Kata Mistak sambil menirukan logat Abah.

“ Ah, yang bener kamu Tak, masa abah bilang begitu ? “

Tanya Navis tidak percaya

“ Benar Vis aku gak bohong karena pas kalian lari aku ada di sana, malah Abah nanya sama aku, katanya, siapa tadi? Santri bukan ?”

“ Terus kamu jawab gimana ? “ Tanya ku sambil menahan rasa penasaran luar biasa.

“aku jawab, mereka bukan santri sini Bah, lalu Abah pun kembali. Men emangnya tadi siapa yang di godain kalian? Cakep ga?

“ Ayu tenan Tak, poko’e nek kowe weruh mesti naksir deh..” kata Navis

“ Kalian ga nanya ? Namanya siapa gitu, dari mana asalnya “

“Udah Tak, kasian tuh Emen gak diladenin keburu Abah datang, tapi dia cantik banget, kalau ga salah temennya panggil dia Iin…

“iya kan Men ?“

 “Iin…? Itu mah adik ku, tahu… awas kalau kalian macam-macam lagi !!! gertak Mistak marah

 “ Inggih kang Mistak calon kaka ipar…hi…hi…hi…”

ledek Navis sambil lari ke kamar kecil agaknya dari tadi dia menahan pipis, aku pun ikut ngantri pipis juga …

Sambil keluar komplek, Miftahudin yang ternyata memang benar kakak dari Iin berteriak dengan logat brebes menirukan gaya kang Nasruddin

“ Aku ora sudi nduwe mantu reman ( preman ) !!!

Kami pun sontak tertawa di dalam kamar mandi sambil menjawab

“Inggih kakang ipar….!!!!

Suara tawa pun meledak dari kamar sebelah yang dari tadi mendengar percakapan kami

“Ha…ha…ha…….Tak, aku boleh ndaftar gak jadi adik ipar ???!!!

“Ora suddiii……

Suara adzan maghrib mengalun mendayu-dayu menggetarkan bilik2 pesantren membuat semua penghuninya berhamburan mengambil air wudlu, ada yang di bak khusus tempat wudlu, ada juga yang di sumur belakang pesantren yang dipercaya mengandung karomah karena airnya yang tak pernah habis meskipun dilanda musim kemarau cukup panjang, ada juga yang mengambil air wudlu dan mandi di Balong depan pondok yang diatasnya berdiri kantor Pon-Pes Putra, di kolam besar itu sebagian santri mandi dan berwudlu bahkan bersuci dari hajat besar setelah buang hajat di tela sawah setiap selepas panen musim kemarau, meskipun airnya tidak begitu jernih namun sebagian santri semakin asyik berendam dan berenang sehingga suara kang Jahol sang muadzin musholla mengumandangkan Qomat, sebagai pertanda Pak Kyai Adnani sudah rawuh (datang) dan sholat berjamaah pun segera dilaksanakan.

Kendati sholat berjamaah merupakan Peraturan Undang2 pondok namun beberapa santri masih tetap ada yang melanggar dengan mengadakan Jam’ah tandingan di kamar pondok, sebagai bentuk protes karena sudah kebiasaan, para Kyai dari luar pondok terlalu lama ditunggu jika mendapat giliran mengimami sholat berjamaah sehingga kang Jahol terlalu lama melantunkan Solawatan sampai kehabisan lagu hanya kerena menunggu sang Imam, tapi ini mungkin alasan yang dibuat2 walaupun 70% benar adanya, hanya karena menutupi rasa malas beberapa santri untuk melangkah ke Musholla, termasuk Aku dan Navis yang memelopori Jamaah tandingan Yang lagi-lagi di undang Pengurus untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kami.

Setelah Sholat Maghrib aku sengaja tidak mengikuti pengajian kitab Asybah Wan Nadzo’ir yang di asuh oleh guru faforitku Kang Ustadz Hafidh Mas’ud, biasanya aku berangkat ngaji paling akhir supaya santri putri sudah masuk semua dan aku bisa melihat dari luar majlis santri putri yang bisa di jadikan tambahan koleksi, lalu aku duduk dekat satir ( pemisah ) antara santri putra dan putri yang hanya terbuat dari kain. Tapi malam itu aku tidak hadir karena masih memikirkan peristiwa tadi sore.

Terbayang kemarahan Abah Habib suami Ibu Nyai pengasuh Pondok Pesantren Putri.

Abah Habib adalah tokoh Ulama yang sangat dihormati apa lagi dikalangan para Habaib baik dari Cirebon ,Tegal , Jakarta bahkan dari Solo dan Pekalongan pun banyak yang datang hanya untuk meminta Do’a dan tabarukan.

Terbayang dalam lubuk hati ku,

“ Abah adalah Dzuriyah Rosul dan termasuk Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah SWT sesuci2nya” sebagaimana tersebut di dalam Al Qur’an bahkan menurut salah seorang guru yang pernah kureguk sedikit ilmunya menerangkan:

 “ Meskipun sesorang yang ahli ibadah, ahli Ilmu dan hampir mendekati maqom ke walian tapi kalau dia tidak hormat pada Ahlul Bait yang sholeh bahkan menyakitinya maka dia tidak akan mendapatkan manfaat sedikitpun dari amalnya”

“Na’udzu billah…” dalam batinku berkecamuk berjuta penyesalan,” seorang yang hampir mendekati maqom kewalian saja apa bila menyakiti Ahlul Bait yang sholeh akan terancam, apa lagi aku makhluk yang hina dan selalu berkubang maksiat setiap saat, tiada secuil pun amal yang dapat ku andalkan untuk menghadap Nya sedangkan kini aku yang penuh dosa ini berani melukai perasaan seorang Ulama yang merupakan keturunan Rosul

“ Astaghfirullohal ‘adziim…”

Air mata yang selama ini kering, kini mengalir tak terbendung, tubuhku terguncang menahan tangis yang selama ini bisu,

Terbayang dosa2 yang pernah ku perbuat

“ ya Robb adakah ampunan mu atas dosa2ku… ?

Sebuah Tanya dari lubuk hati yang tak kan pernah ku tahu jawabnya.

“ Emen kenapa kamu nda ngaji ?”

“Kamu sendiri Vis, gak ngaji… kenapa? Jawabku balik nanya

“ Kejadian tadi sore membuat aku resah, Men… kayanya kita berdosa banget sama Abah, aku takut Abah ndak ridlo sehingga Ilmu kita tidak menfaat, menurut kamu enaknya kita harus bagaimana, Men? ”

“ Mau tidak mau kita harus minta maaf secara langsung sama beliau Vis,”

“emangnya gak ada cara lain, kecuali itu? Aku takut banget Men, bisa-bisa kita dihajar habis2an,selain itu kita juga malu banget sama santri putri, karena mereka pasti tahu kalau kita di ta’zir sama Abah.”

“ Tapi Vis, kesalahan kita sama Abah gak bakal bisa di ampuni sebelum Abah mengetahui apa kesalahan kita, pokoknya kita harus Showan Abah untuk minta maaf sekarang juga apapun resikonya…”

Navis pun perlahan mengangguk setuju walau rasanya berat banget.

Dengan pakaian rapi kami melangkah memasuki gerbang pondok putri dengan membawa pikiran yang semrawut, dari dekat terdengar suara santri putri lalaran sambil menunggu musyawaroh pelajaran di mulai

Disamping pintu gerbang sebuah kertas menempel bertuliskan

“ Bagi tamu laki-laki dilarang masuk dan harap menunggu di kantor”

“ Cari siapa ? Ada perlu apa? Gak lihat tulisan itu?

Suara halus namun tegas penuh wibawa seorang perempuan dari belakang mengagetkan kami yang sedang melongok kedalam komplek santri putri, degan mengenakan kacamata tebal sambil membawa sebuah map biru mungkin dia salah satu pengurus atau mungkin juga Ustadzah pondok putri

“ Ada perlu sama Abah, beliau ada ?

“ Abah baru saja keluar mengendarai motor Vespa tapi saya nggak tahu beliau pergi kemana ? “

Jawab perempuan tersebut ramah, eh ternyata dia baik juga mungkin dia melihat penampilan kami yang kaya santri beneran plus rada ganteng2 gitu…

“ Oh, ya sudah Mbak lain kali saja Insyaallaah kami kemari lagi,

Makasih atas informasi nya Mbak,”

Kata ku sambil berbalik, dan tak lupa lebih dahulu melemparkan senyuman menggoda, Navis melirik ke arahku lalu mencubit perut ku

“ Gila kamu Men… Pengurus di godain juga,”

“Kau jangan suudzon Vis, aku tadi bukannya godain, tapi Idkholussuruur…membahagiakan orang lain kan sama dengan sedekah, siapa tau dia bahagia dan…

“ kepencut sama kamu ? Gitu kan maksud lo…. Sergah Navis sambil menendang bokongku, tapi sayang aku lebih dahulu lari, Navis pun mengejar.

“ Makan gak Men,Vis ? kalian dari mana ? kaya nya ko cape banget kaya habis di kejar setan.”

Tanya Bi Suratmi pemilik warung makan langganan santri meskipun sering kali rasa asin lebih mendominasi setiap masakannya tapi semua santri sangat memakluminya, karena Bi Suratmi seorang Janda yang sudah memiliki 7 orang anak,dan 4 cucu.

“ Tuh setan gundul yang ngejar2 aku “ jawab ku sambil menunjuk kepala Navis yang kojak mengkilap,

“ Bocah edan …” ucap Bi Suratmi sambil senyum-senyum

“ Makan Bi… biasa, pake oreg sama telor ceplok, Kamu pesan apa Men ? Ujar Navis ngos-ngosan sambil mengenyot es buntel produksi Masduki.

“ sama aja Bi…”

Jawabku sambil menikmati Opak aci sebagai makanan pembuka,tak lama kemudian gadis bernama Kiki cucu pertama Bi Suratmi muncul dengan membawa dua piring berisi pesanan,

“ Bi…Cucunya nambah demplon aja buat aku aja ya Bi…”

Kata Navis sambil melirik nakal kearah Kiki

“ Jangan mau Bi… mereka itu play boy tengik Hi…hi…hi…”

Tiba-tiba Miftahuddin muncul dari belakang warung,

Bi Suratmi pun hanya tertawa ngekek disamping Kiki yang hanya senyum malu-malu.

“ Men, tadi aku kepondok putri menemui adikku ternyata kasus tadi sore membuat pondok geger, Ibu Nyai ikut marah banget sama kalian”

Miftahuddin memulai pembicaraan dengan pelan tapi serius seakan takut kedengaran orang lain.

“ Tak, memangnya Ibu Nyai sudah kenal sama aku dan Navis ?

“ Kenal orangnya sih nggak, tapi ciri-ciri kalian semua dah tahu, dua santri mberung yang satu gondrong dan yang satu plontos siapa lagi kalau bukan kalian…sebelum kasus ini sampai ke telinga Mbah Yai, mendingan kalian secepatnya minta maaf,”

“ Barusan aku sama Emen kesana Tak, mau menyerahkan diri dan minta maaf, tapi Abah sedang pergi,” ujar Navis sambil mengunyah telur Ceplok yang masih hangat.

“ Ya sudah, pokok nya kalian mesti kesana minta maaf sama Abah dan Bu Nyai kalau kalian gak mau kwalat, apa lagi kalau sampai Mbah Yai dengar…wah , habis lah kalian.”

“ inggih Tak, makasih atas nasehatnya, ngomong2 tadi Iin adikmu nitip salam buat aku ndak ? tanya Navis sambil menyulut rokok Ardath lalu menghembuskan asap rokok dengan santai.

 “ Ndlagdag (brengsek) kamu Vis, diajak ngomong serius malah nanya begitu, nih bayarin es sama pisang goreng dua…”

 Sambil menggerutu Miftah ngleos meninggalkan Navis yang Cuma cengar-cengir sambil mengelus2 kepala botaknya.

 Dua pertiga malam berlalu, jam duduk berbentuk micky mouse diatas lemari, sebagai hadiah Ulang Tahun ke 19 dari pacarku anak tegal gubug blok 4, yang baru saja berangkat mondok ke kaliwungu, menunjukkan pukul 3.00 namun kedua mata ini begitu sulit terpejam, buku kecil yang berisi bait2 sya’ir Alfiyah ibnu malik dengan setia menemaniku, tapi entah malam ini tidak satu pun Bait Alfiyah singgah di otak ku meskipun berulang kali ku baca dan kubaca, dalam benak ku hanya ada satu ganjalan yaitu bayangan kemarahan Abah dan Ibu Nyai, meskipun Beliau bukan Kiyai dan Nyai tempatku mesantren, namun kesalahan yang kuperbuat sehingga membuat beliau marah itulah yang membuat hatiku selalui dihantui rasa bersalah.

Angin dingin menembus tulang, suasana sepi sesekali terusik oleh suara deru kereta api dari arah timur desa lalu hening pun kembali sepi, aku beranjak dari kamar yang berukuran 3×3 m dengan empat buah lemari besar dan kecil tempat pakaian berjejer dan satu buah lemari yang tidak berpintutempat bermacam2 buku dan kitab2 , sebuah foto Lelaki mengenakan sorban penuh kharisma terpajang di tembok kamar dengan bingkai kayu ukir bertulis nama Mbah Yai pendiri Pondok Pesantren tempatku menuntut Ilmu,

“ Maaf kan aku, Ma… santrimu yang selalu membuat mu malu,”

Sebening air memaksa bergulir dari sudut mata ku Sambil menatap kediaman Mbah Yai, lampu depan lemari kitab menyala pertanda Mbah Yai sudah bangun dan mungkin sedang muthola’ah kitab2 sementara para santri masih lelap tertidur kecuali beberapa santri yang mendapat kan giliran piket jaga malam, yang mungkin saat ini masih ngobrol ngalor nngidul sambil ngopi di teras belakang pondok, perlahan kaki ku melangkah menuruni satu demi satu tangga yang berkelok, lalu aku berhenti dan duduk termenung di atas balong sambil menerawang jauh.

“Besok aku harus menemui Abah untuk minta maaf, sanksi apapun yang akan Abah berikan aku siap menerima untuk menebus kesalahan ku dengan keridoannya,”

Batin ku tak henti2 nya memikirkan kesalahan ku, tiba-tiba…

“ Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun 3x “

kesunyian terhempas berita kematian yang di sampaikan oleh Mang Kasan.

“ Telah berpulang ke Rahmatulloh Almukarrom Kyai Haji Al Habib…”

bagai tersambar petir tubuh ku lemas tak berdaya mendengar berita wafat nya seorang ulama yang sangat Alim, zuhud, berwibawa di hormati dan di segani…

Tak terasa air mata bercucuran tak terbendung merasakan penyesalan yang semakin dalam.

Rembulan dilangit suram terhalang mendung tebal seakan ikut merasakan kesedihan Umat islam atas kepergian seorang Ulama yang sangat di cintai, kumandang subuh Kang Jahol menyayat hati, akupun melangkah menuju musholla untuk Sholat berjamaah meski tak terbiasa melakukannya, Sholat shubuh pun berjalan sangat khidmat suara isak tangis para jama’ah mewarnai suasana Shubuh pagi itu,

Pondok Putri berselimut duka, ratapan dan tangisan membaur mangiringi kepergian sang guru,

Di dalam rumah duka terbujur, sosok tubuh tertutup kain tebal, di wajahnya tersisa senyum kemenangan saat2 terakhir menghadapi syakarotul maut, di sekeliling nya duduk melingkar beberapa santri membacakan surat Yasiin dengan disertai isak tangis termasuk aku yang sejak malam tadi memikirkan penyesalan yang kemarin sempat membuat Abah marah, sedangkan kata maaf beliau belum ku raih,

“ Abah… mafkan kesalahan ku…”

Dalam batinku merintih “ jangan kau biarkan Rosululloh menahan Syafaat hanya karena engkau memendam kebencian pada ku, Abah…”

Mendung semakin menggelayut tebal seakan tak sanggup lagi menahan beban kesedihan, mungkin ia pun tahu salah satu Hadits Nabi yang berbunyi :

“ Man lam yahzan bimautil ’Ulama fahuwa munafiq .“

Barang siapa yang tidak merasakan kesedihan sebab wafat nya Ulama maka dia adalah orang yang munafik.

Para penta’ziyah berduyun2 dari berbagai daerah memenuhi jalanan menuju komplek pesantren putri di antara nya dari golongan para Haba’ib bahkan dari Yaman Hadromaut pun nampak hadir untuk mengiring kepergian Habib yang Kharismatik itu, aku masih tetap termenung di sisi jasad Abah sambil tak henti2 membaca ayat2 Al Qur’an dan memanjatkan do’a untuk beliau,

“ Jenazah siap di mandikan,”

Ujar salah satu Kyai yang mungkin beliau teman dekat Abah, karena sejak subuh beliau ada di sisi jenazah.

Beberapa orang berebut masuk lalu mengerumuni Jasad Abah yang mulia, termasuk aku yang mengharap bisa ikut mengangkat Jasad Abah, Aku sangat beruntung karena posisiku dibagian kepala sehingga aku dapat memandang wajah Abah sepuas2nya untuk yang terakhir kali dan mengangkatnya bersama2 menuju pemandian Jenazah yang terletak tepat di samping gerbang pondok putri, disisi lain hati ku sangat resah karena sejak tadi sepasang mata yang layu namun tajam menatap ke arahku dari balik satir pemisah antara penta’ziah laki2 dan wanita. Jasad Al Habib di letak kan di atas sebuah tempat khusus untuk memandikan jenazah, beberapa orang berebut untuk dapat sekedar menyentuh bahkan hanya mendapatkan air dari bawah pemandian bekas memandikan beliau, sedangkan aku, lagi2 sangat beruntung karena bisa mengusap rambut dan kepala beliau mungkin Allah mengizinkan aku untuk yang terakhir kali berbuat bakti pada Abah bahkan mencium kepala Abah tanpa harus ber desak2an, kembali air mata membanjiri pipi manakala teringat kemarahan Abah, lalu ku usapkan air bekas menyiram kepala abah yang mulia keseluruh bagian wajah dan kepala ku dengan berharap Allah memberikan berkah asbab kecintaan ku kepada salah seorang Ahlul Bait Nabi SAW.

Sebuah Masjid di tengah sawah yang merupakan tinggalan Al-Habib berdiri kokoh ,tak satupun berfikir bahwa suatu saat Masjid tersebut akan menjadi Masjid Jami’ yang dapat di gunakan untuk Sholat Jum’at warga setempat yang bermukim di sebelah timur kali gede. sedangkan warga masyarakat yang bermukim di sebelah barat kali gede mereka melaksanakan Sholat Jum’at di masjid Besar hal itu terjadi 9 tahun kemudian ketika kali gede dilanda banjir , jembatan penghubung dua blok, runtuh.

Di sebelah kiri dan kanan pengimaman masjid terdapat dua buah kamar yang dihuni beberapa santri putra.

Kini masjid tersebut penuh sesak para Muhibbin dan para santri yang ingin mengikuti Sholat Janazah.

Tung…tung…tung…

Kentong masjid di pukul tiga kali pertanda Sholat Jenazah segera di laksanakan.

“Sawwuu shufuufakum…” ( luruskan dan rapatkan barisan )

Seorang Habib bertubuh tinggi besar berjanggut tebal warna pirang putih dan hitam mengenakan Jubah dan sorban warna putih dipadu selendang tebal warna biru menyampir di bahu sebelah kanan begitu berwibawa, dan kedua mata yang teduh dengan wajah yang penuh dengan sifat2 mulia menandakan kedalaman ilmunya, bertindak sebagai Imam Sholat jenazah.

Ada satu keajaiban terjadi ketika pemakaman Abah berlangsung.

Kuburan tempat pembaringan terakhir di genangi air cukup banyak kemudian air dari dalam kuburan pun di kuras dengan menggunakan ember, namun air tak kunjung surut. Lalu dengan menggunakan mesin sedot air, tapi alat itupun tidak sanggup

Menguras air tersebut, akhirnya berdasarkan kesepakatan keluarga dan ahli waris, jenazah Al Habib harus di kebumikan saat itu juga tanpa perlu menggali makam lain, para penta’ziah yang hadir menunggu dengan berdebar2 apa yang akan terjadi.

“ Mana mungkin kuburan seorang Ulama besar bisa seperti ini”

Ujar seorang bapak di belakangku

“ Mungkin Abah punya kesalahan dalam hidupnya, sehingga jasad nya mesti ditenggelamkan dalam kuburnya”

“Huss…kamu kalo ngomong jangan sembarangan gak boleh suudzon, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi,”

Dari arah Masjid, jenazah Al-Habib diusung diatas keranda, suara tahlil pun menggema mengiringi langkah demi langkah para pemikul keranda menuju arah liang lahat yang telah dipersiapkan, namun sayang genangan air seukuran betis orang dewasa belum juga surut. Perlahan keranda diturunkan di sebelah barat liang lahat, kumandang Adzan menyayat hati mengantar kan Jasad Al-Habib yang diangkat oleh beberapa keluarga dekat memasuki liang peraduan terakhir, air mataku kembali tak terbendung menyaksikan jasad Al-Habib untuk yang terakhir kali nya, perlahan jenazah diturunkan….

“ Subhaanallaah…!!! “

Kalimat itu terlontar dari bibir para penta’ziah yang menyaksikan langsung surutnya air ketika Jenazah Al-Habib di letak kan di liang lahat.

“ Subhanallah… ini benar2 karomah yang nyata”

Dalam hatiku membatin sambil menyeka air mata yang tak henti mengalir, berbagai perasaan antara Haru sedih takjub bahagia melebur menjadi sebuah kekuatan ruhani sehingga mendorong sifat-sifat buruk keluar dari dalam hatiku lalu merangsang perbuatan terpuji senantiasa menghias hari-hari ku ,diantara kerumunan para penta’ziyah, nampak seorang laki-laki berpakaian serba putih berselimut cahaya dengan senyum bahagia menghias bibirnya seraya melambaikan tangan ke arahku, tanpa sadar bibirku bergerak

 “ Assalaamu alaika yaa Habiib “

 “ Terimakasih , Abah….

 “ Selamat jalan wahai Kekasih Allah,……………”

 Intaha………..

===

Kisah ini di dedikasikan untuk para santri dan alumni PP.Nahjul Hidayah dan Al Hidayat Rembes Tegalgubug Cirebon

 

Artikel No.25

Oleh : Azmat Maula

 

Comments
  1. RadityaNugraha.salaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *