April 18, 2014
Home » Ngaji » Fiqih » MEMBACA AL QURAN DI KUBURAN

MEMBACA AL QURAN DI KUBURAN

Hukum Membaca Al Quran di Kuburan

Masalah membaca Al Quran di Kuburan memang telah menjadi perdebatan, tetapi fakta yang ada adalah Yang namanya Kuburan itu ya tempatnya mayat, tetapi orang hidup kan bisa saja beribadah dimana saja, kecuali tempat tempat yang terlarang untuk itu dan ibadah tertentu juga. Jadi boleh saja Orang membaca Al Quran di Kuburan, terlepas membaca Al Quraan di Kuburan itu mempunyai maksud apa, sebab membaca Al Quran di Kuburan itu tidak pernah dilarang oleh Rosulullah.

 

Memang ada hukum yang melarang membaca Al Quran di tempat tempet tertentu atau beribadah di tempat terlarang, misalnya di WC baca Al Quran, atau di tengah tengah pasar melakukan Shalat Dhuha. tetapi di WC juga boleh Dzikir kan, di Pasar juga boleh membaca Shalawat kan? bukankah ini juga Ibadah? bahkan di FB sekalipun ketika anda mengetikkan Shalawat juga sebuah Ibadah kok, dan semua itu apa harus menunggu contoh dari para Salaf?

 

Baiklah sekarang memang lagi marak maraknya banyak pihak yang mencoba mencongkel congkel ajaran leluhur yang sudah sekian abad tertanam di masyarakat, salah satunya adalah membaca Al Quran di Kuburan, dan entah Hadits berikut ini menjadi dalil atau tidak, setidaknya saya jadi tahu bahwa membaca al Quran di kuburan itu mampu menjadikan sebab penghuni kuburan itu memperoleh manfa’at, lihat hadits berikut:

 

 

وأخرج سعد الزنجاني عن أبي هريرة مرفوعا: “من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب، وقل هو الله أحد، وألهاكم التكاثر، ثم قال: إني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات، كانوا شفعاء له إلى الله تعالى”.

 

مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح

“Sa’ad az-Zanjani telah meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu : “barangsiapa yang masuk area pekuburan, kemudian membaca Fatihatul Kitab (surah al-Fatihah), Qul huwallahu Ahad (al-Ikhlas) dan Alhaakumut Takatsur (at-Takatsur), kemudian berkata : sesungguhnya aku menjadikan pahala apa yang aku baca dari firman-Mu (al-Qur’an) ini untuk penghuni pekuburan yang mukminin maupun mukminaat”, maka mereka menjadi penolongnya kepada Allah Ta’alaa”.

Hadits yang lebih jelas mengenahi membaca Al Quran di Kuburan akan anda lihat berikut dan hanya akan saya terjemahkan matan haditsnya saja:

(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَحْمَدَ الذَّكْوَانِيُّ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ حِبَّانَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيِّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو مَسْعُودِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ خَالِدٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زِيَادٍ الْقَالِي الْخُرَاسَانِيُّ , بِجُنْدَيْسَابُورَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا ، فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ يس ، غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ آيَةٍ أَوْ حَرْفٍ “

“ Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ bersabda: Sesiapa yang menziarahi Kubur kedua orang tuanya atau salah satunya disetiap jum’at, kemudia ia membaca Surah Yasin disisi kuburnya atau di sisi kepalanya, maka Mayyit tersebut akan di ampuni sebanyak ayat atau Huruf (yang dibaca).

Hadits diatas terdapat dalam Kitab تنزيه الشريعة المرفوعة Oleh Ibnul ,Iroqi Hadits nomor 2037 dan dikitab     الأمالي الخميسية للشجري oleh Syaikh Yahya bin Husai Al Syajri hadits nomor 1480.

Lebih jelasnya Imam Al Thobroni dalam Mu’jamnya meriwayatkan sebuah hadits tentang membaca Al Quran di Kuburan sebagai berikut:

إذا مات أحدكم فلا تحبسوه وأسرعوا به إلى قبره وليُقرأ عند رأسه بفاتحة الكتاب وعند رجليه بخاتمة البقرة في قبره

 

 

“Ktika salah satu kalian mati, maka janganlah menahannya, dan bersegeralah kekuburannya agar kalian membacakan Surat Al Fatihah di sisi kepalanya, dan akhirnya surat Al Baqoroh di sisi kakinya didalam kuburnya”

Kemudian ada lagi hadits yang lebih jelas tentang membaca Al Quran di Kuburan, dan hadits tentang membaca Al Quran di Kuburan ini diriwayatkan oleh banyak Imam, yaitu Imam Ahmad dalam musnadnya bahkan ditulang dalam tiga tempat, Imam Thoyalusi, Imam Abu Dawud hadits nomor 3121dalam bab Janaiz,  Ibnu Majah hadits nomor 1448, Nasai dalam amalan sehari semalam, Ibnu Hibban, Al Bayhaqi, Al Baughowi, Al Thobari dan Al hakim:

اقرءوا يس على موتاكم

 

    Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Nabi Saw. telah bersabda: “Bacalah surat Yaasiin untuk orang yang mati di antara kamu.” (Riwayat Imam Abu Dawud; kitab Sunan Abu Dawud, Juz III, halaman 191)

 

Imam Abu Dawud telah memberikan judul hadis ini dengan Babul qira-ati ‘indal mayyiti, artinya: Bab “Membaca Al-Qur’an Dekat Orang Mati”. Sehubungan dengan hadis tersebut, seorang ulama besar yang bernama Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani berkata:

 

    Hadis ini derajatnya hasan. Tidak ada bedanya antara bacaan Yaasin dari jamaah yang hadir dekat orang mati atau di atas kuburnya dengan membaca seluruh ayat Al-Qur’an, atau sebagiannya bagi orang mati, di masjid atau di rumah. (Kitab Adz-Dzakhiratuts Tsaminah, halaman 43)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

 

يُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـمْكُثَ عَلىَ اْلقَبْرِ بَعْدَ الدُّفْنِ سَاعَـةً يَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ وَيَسْتَغْفِرُلَهُ. نَـصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ قَالوُا: يُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـقْرَأَ عِنْدَهُ شَيْئٌ مِنَ اْلقُرْأَنِ وَاِنْ خَتَمُوْا اْلقُرْأَنَ كَانَ اَفْضَلُ . (المجموع جز 5 ص 258)

 

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai menghatamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

 

 

وَيُـسْـتَحَبُّ لِلزَّائِرِ اَنْ يُسَلِّمَ عَلىَ اْلمَقَابِرِ وَيَدْعُوْ لِمَنْ يَزُوْرُهُ وَلِجَمِيْعِ اَهْلِ اْلمَقْبَرَةِ. وَاْلاَفْضَلُ اَنْ يَكُوْنَ السَّلاَمُ وَالدُّعَاءُ بِمَا ثَبـَتَ مِنَ اْلحَدِيْثِ وَيُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَقْرَأَ مِنَ اْلقُرْأٰنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوْ لَهُمْ عَقِبَهَا وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّاِفعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ. (المجموع جز 5 ص 258)

 

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

 

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

 

قَالَ: وَلاَ بَأْسَ بِالْقِراَءَةِ عِنْدَ اْلقَبْرِ . وَقَدْ رُوِيَ عَنْ اَحْمَدَ اَنَّـهُ قَالَ: اِذاَ دَخَلْتمُ الْمَقَابِرَ اِقْرَئُوْا اَيـَةَ اْلكُـْرسِىِّ ثَلاَثَ مِرَارٍ وَقُلْ هُوَ الله اَحَدٌ ثُمَّ قُلْ اَللَّهُمَّ اِنَّ فَضْلَهُ لأَهْلِ الْمَقَابِرِ .

 

“al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur. (al-Mughny II/566)

 

 Lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

 

وَذَهَبَ اَحْمَدُ ابنُ حَنْبَلٍ وَجَمَاعَةٌ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ اَصْحَابِ الشَّاِفـِعى اِلىَ اَنـَّهُ يَـصِلُ . فَاْلاِ خْتِـيَارُ اَنْ يَـقُوْلَ الْقَارِئُ بَعْدَ فِرَاغِهِ: اَللَّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ . وَالله اَعْلَمُ

 

Imam Ahmad bin Hambal dan golongan ulama’ dan sebagian dari sahabat Syafi’i menyatakan bahwa pahala do’a adalah sampai kepada mayit. Dan menurut pendapat yang terpilih: “Hendaknya orang yang membaca al-Qur’an setelah selesai untuk mengiringi bacaannya dengan do’a:

اَللَّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ

Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan al-Qur’an yang telah aku baca kepada si fulan (mayit)”. (al-Adzkar al-Nawawi hal 150)

 

Dan Hadits berikut ini menceritakan tentang mayyit yang membaca Al Quran sendiri di kuburannya, dan bacaannya itu bermanfa’at bagi dirinya sendiri

 

عن ابن عباس قال : إن بعض أصحاب النبي جلس على قبر وهو لا يحسب أنه قبر، فإذا فيه إنسان يقرأ سورة الملك حتى ختمها، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هي المانعة، وهي المنجية تنجيه من عذاب القبر).

بشرى الكئيب بلقاء الحبيب

المؤلف : السيوطي

“Dari Ibnu ‘Abbas berkata: Sesungguhnya ada Sahabat Nabi yang duduk diatas kuburan dan ia tidak menyangka kalau yang diduduki itu adalah kuburan, tiba tiba di kuburan itu ada seseorang yang membaca surat Al Mulk sampai Khatam, kemudian sahabat itu sowan kepada Nabi Muhammad SAW dan melaporkan peristiwa tersebut. Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Surat Almulk itu pencegah dan Surat itu penyelamat yang menyelamatkan mayyit dari siksa kubur”

 

Jika memang hadits hadits diatas oleh sebagian golongan bukanlah dalil yang melegalkan membaca Al Quran di Kuburan, setidaknya anda harus menghargai orang yang mengambil Hadits diatas sebagai dalil doooong, jangan sok menang sendiri gitu. Kok kayak kalian itu menjadi perwakilan para Salaf secara resmi saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>