April 23, 2014
Home » sastra » KOPI PAGI, ROKOK, DAN SECERCAH HIKMAH

KOPI PAGI, ROKOK, DAN SECERCAH HIKMAH

 

Apa yang ada dipikiranmu saat sang sohibul bait, orang yang lebih tua, yang dihormati ribuan orang, dan sering dipanggil kyai, menemuimu lalu dengan santai dan ramah mengambil lap dan membersihkan lantai teras tepat di depanmu saat engkau duduk menikmati kopi panas dan pisang goreng hangat di pagi hari, demi menghormatimu sebagai tamu yang, dari sudut pandang manapun, kualitasnya lebih rendah ketimbang sohibul bait?

Kita hidup di era ketika orang senang dipuji, diistimewakan, atau setidaknya dianggap istimewa, oleh orang lain, era ketika orang begitu mudah tersinggung saat “status sosialnya” disepelekan. Beliau, dengan tindakannya yang sederhana tanpa dibuat-buat dan sewajarnya, mengajarkan sebentuk antitesis dari narsisme sosial ini. Dengan caranya yang halus beliau menunjukkan kepada kami sebagian dari makna kerendahan hati yang sesungguhnya.

Kita tentu paham bahwa martabat orang tak diukur dari keglamoran lahiriah atau kemenonjolan duniawiah. Dan Barangkali kita semua juga sudah paham apa itu arti kerendahan hati, atau tawadhu’. Tetapi kita juga tahu pengetahuan ini tak selalu menjamin kita bisa menjalankannya dalam perilaku keseharian kita. Ada begitu banyak pengetahuan yang kita ketahui, tetapi begitu banyak dari kita yang belum bisa mengamalkannya, belum bisa menjadi bagian dari karakternya. Setidaknya bagi saya, dan barangkali bagi tiga kawan baik saya yang “tertimpa kesialan yang mbarokahi” karena merasa tak enak hati lantarab dilayani dengan begitu hormat oleh sohibul bait, beliau adalah salah satu dari sedikit orang yang telah menjadikan pelajaran kerendahan hati menjadi bagian utuh dari karakternya. Apa yang dilakukannya memberi contoh dari adab sosial dan ruhani yang sekarang semakin sedikit bisa kita jumpai.

Pelajaran ruhani tak selalu datang dari tindakan yang besar, dari kitab-kitab yang pelik; banyak hikmah justru datang dari peristiwa keseharian yang wajar – sebab bukankah setiap kejadian adalah ayat-ayat yang memberi petunjuk bagi sesiapa yang mau mentafakkurinya? Sesungguhnya ada banyak hal yang mempesona dan berkesan selama pertemuan 3 hari itu, tetapi hanya ini yang ingin saya tulis untuk berbagi. Rasanya sulit untuk tidak memuji beliau, dan bukan hal berlebihan jika kita mengapresiasi karakter ini. Secara pribadi, dan atas nama siapa saja yang bersedia saya wakili, saya haturkan terima kasih yang tiada terkira kepada sohibul bait, yang lebih akrab kami panggil “Abah” saja.

 

Bagi orang yg telah memakai kaca mata kuda seperti wahabi/salafi, tidak akan mampu menangkap bhw ada hikmah di balik semuanya.

MBAH KANYUT — Gunungpati, suatu pagi.

 

One comment

  1. SAHHHHHHHHHHHHHHHHHH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>