Home sastra Pentingnya Guru : Serat “Wulang Reh”

Pentingnya Guru : Serat “Wulang Reh”

Pentingnya Guru

Saat ini banyak orang menjadikan buku bacaan, video, koran, majalah, web dan sejenisnya sebagai sumber informasi. Bahkan yang lebih parah lagi adalah menjadikan itu semua sebagai guru. Artinya cukup membaca itu semua sudah cukup untuk menguasainya, memahami isinya dan menjadi landasan utama dalam beramal dan beribadah. Berbekal itu semua, mereka melakukan kritikan yang tajam kepada pihak-pihak lain yang tidak sejalan dengan apa yang sudah dipahami melalui sumber-sumber tersebut. Mereka lupa kepada sosok manusia yaitu guru yang bisa dijadikan pembimbing.  Tindakan seperti itu jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh para pujangga Jawa, seperti Susuhunan Pakubuwono IV (1768-1820) melalui karyanya yang sangat populer serat “Wulang Reh”. Serat tersebut dapat diterjemahkan sebagai “Ajaran” (Wulang) dari “Perilaku” (Reh- namun ada juga yang mengartikan memerintah). Melalui serat tersebut sang penulis memberikan nasehat atau ajaran yang dapat dijadikan bekal manusia mengendalikan dirinya, dan yang paling mendasar adalah keberadaan guru. Dengan pemahaman ini, maka dapat diterima mengapa pupuh (bait-bait) awal dalam serat Wulang Reh adalah mengenai sosok guru yang bisa dijadikan pembimbing bagi manusia.

Banyak orang pandai berbicara layaknya seorang pujangga atau ulama yang fasih melafalkan dalil. Namun sebenarnya adalah kefasihan tersebut justru menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Ada rasa untuk disanjung, padahal sebenarnya dicibir oleh kebanyakan. Begitulah gambaran manusia yang tidak berguru, tetapi belagu (bergaya). Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV menggambarkan dalam bait 01 berikut :

Pamedare wasitaning ati,

(inilah curahan hati – sang penulis)

cumantaka aniru Pujangga,

(bergaya layaknya pujangga)

dahat muda ing batine.

(yang ada dalam hati)

Nanging kedah ginunggung,

(tetapi harus disanjung)

datan weruh yen keh ngesemi,

(tak menyadari, semuanya mencibir)

ameksa angrumpaka, basa kang kalantur,

(memaksa diri merangkai kata yang ngelantur)

tutur kang katula-tula,

(perkataan yang carut marut)

tinalaten rinuruh kalawan ririh,

(jika dicermati dengan seksama)

mrih padanging sasmita.

(hanya- untuk menunjukkan isi hati saja- yang ingin dipuji)

Bagi umat Islam, Al Qur’an adalah petunjuk, dimana di dalamnya mengandung banyak pelajaran, rahasia, rasa dan sebagainya. Kesemuanya mampu dijadikan pedoman hidup bagi manusia. Tetapi banyak juga yang tersesat karenanya. Itu semua disebabkan oleh pemahaman yang asal-asalan, tanpa guru pembimbing yang mumpuni. Dalam bait 02 disinggung :

nanging ta pilih ingkang unginga,

(tetapi jarang orang mengetahuinya)

kajaba lawan tuduhe,

(kecuali dengan petunjuk)

nora kena den awur,

(tak bisa memahami dengan asal-asalan)

ing satemah nora pinanggih,

(akhirnya justru tidak ketemu hasil)

mundak katalanjukan,

(malah terjerumus)

tedah sasar susur,

(dalam petunjuk yang sesat)

Oleh karenanya, bagi Susuhunan Pakubuwono IV melalui serat Wulang Reh ini, mengingatkan betapa pentingnya guru dalam memahami agama dan kehidupan. Tidak sembarangan asal mencomot dalil dari Al Qur’an dan Hadist. Jangan gegabah ketika bertemu dengan orang yang pandai berdalil (Bait 05).

mun ana wong micara kaki,

(jika ada orang yang berbicara ilmu)

tan mupakat ing patang prakara,

(tetapi tidak sepakat akan empat perkara)

aja sira age-age,

(jangan tergesa-gesa)

anganggep nyatanipun,

(percaya kepadanya- ulama)

saringana dipun baresih,

(saringlah yang teliti)

limbangen lan kang patang :

(pertimbangkan empat hal dahulu)

prakara rumuhun,

(perkara awal – Al Qur’an)

dalil qadis lan ijemak,

(Hadits dan Ijmak)

lan kijase papat iku salah siji,

(dan Qiyas yang keempat)

ana-a kang mupakat.

(haruslah disepakati)

Begitulah nasehat dalam serat Wulang Reh, bahwa seorang yang berilmu agama mumpuni haruslah menguasai dan memahami Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Siapa saja yang menafikan salah satunya, maka jangan mudah dipercaya. Bahkan jika ingin mencari guru yang lebih sempurna dan mumpuni, maka perlu mencari yang bermartabat baik, paham hukum, ahli ibadah, sederhana, dan ahli bertapa (zuhud). Sungguh demikianlah guru yang benar-benar layak untuk diteladani dan dimintai bimbingan.

Namun, jaman sekarang, tidak demikian. Banyak sekali orang berguru kepada mereka yang hanya ahli berpidato, tetapi tidak memahami apa yang disampaikan. Sulit sekali mencari teladan. Jika hanya berguru pada buku, maka tunggulah saat kekacauan akan datang.

Wallahu ‘Alamu Bishshowab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *