July 11, 2014
Home » Al-kisah » Syam Sang Agen Ganda

Syam Sang Agen Ganda

 

Syam – Sang Agen Ganda? : Misteri G30S PKI (3)

Dalam tulisan sebelumnya menceritakan bahwa salah satu misteri peristiwa G30S PKI adalah keberadaan dan peran Syam Kamaruzaman (baca selengkapnya di Tokoh Misterius).

Diangkat Menjadi Ketua Inteljen PKI

Pada 1960-an dengan bentuk lebih jelas pada 1964 Syam diangkat menjadi ketua Biro Chusus (BC), suatu jaringan intelijen PKI yang hanya mempunyai hubungan langsung dengan Aidit selaku ketua Politbiro CC PKI. Tugas Syam, pertama mengumpulkan info untuk diolah dan diserahkan kepada Aidit. Kedua, membangun sel-sel PKI di tubuh ABRI dan membinanya. Tugas Syam yang lain mengadakan evaluasi dan melaksanakan tugas-tugas yang tak mungkin dilakukan alat-alat formal PKI. BC mempunyai aparatnya sendiri yang tidak diketahui oleh pimpinan formal PKI. Ia memberikan laporan, mengolah informasi dan menyampaikannya kepada Aidit secara langsung. Oleh Aidit bahan-bahan dan keputusan disodorkan pada Politbiro untuk disetujui dan dilaksanakan.

Menurut orang-orang PKI yang pernah dekat dengan dirinya, ia dengan enteng mengeluarkan pistol dan meletakkannya di meja jika kehendaknya ditentang. Menurut seseorang yang mengaku sebagai mantan agen CIA, Suharto mendapat perhatian cukup dari BC PKI dan dibina melalui Syam, Untung dan Latief. Dalam hal ini Suharto mendapat kategori sebagai ‘orang yang dapat dimanfaatkan’. Hal ini cocok dengan keterangan Untung dan Latief bahwa Suharto akan membantu gerakan mereka, dan dibuktikan dengan didatangkannya Yon 530 dan Yon 454 dalam keadaan siap tempur. Sedang yang lain menamainya sebagai trio sel PKI.

Pada tahun 1967 majalah Ragi Buana menamai Syam sebagai ‘double agent’ ia menjadi informan Kodam Jaya sejak 1955 sampai kudeta 1965. Untuk memperdalam ilmunya pada 1962 ia dikirim ke RRT, Korea Utara dan Vietnam, termasuk memperdalam bidang intelijen terutama menyangkut strategi mempersiapkan dan menggerakkan pemberontakan bersenjata. Di Vietnam ia melakukan pekerjaan praktek di lapangan. Majalah ini menyebut Syam dan Aidit telah terjebak ke dalam jaring-jaring spionase Washington, Peking dan Moskow. Sebutan double agent digunakan koran-koran dan radio termasuk radio Nederland ketika itu, selanjutnya pers tidak lagi menggunakan istilah tersebut. Rupanya Kopkamtib kemudian sangat berkeberatan akan penggunaan istilah itu yang dapat merugikan Jenderal Suharto, lalu melarangnya.

Sebagai Ketua BC PKI, Syam lapor langsung kepada Aidit. Karena Aidit satu-satunya pimpinan PKI yang membentuk BC serta mengetahui personelnya, maka BC ini merupakan partai dalam partai dengan Syam sebagai orang tertingginya. Seperti disebutkan oleh Sudisman, BC dibentuk tanpa persetujuan CC PKI, dalam hal ini Aidit telah melanggar konstitusi partai. Dengan demikian BC bukan aparat partai, tetapi aparat Aidit. Di pihak lain yang mengontrol seluruh struktur aparat dan sepak terjang BC bukan Aidit, tetapi Syam. Jika Syam seorang agen ganda, maka praktis seluruh struktur BC merupakan alat dalam kendali musuh PKI.

Peran Syam

Banyak saksi sejarah teman-teman Syam meragukan peran besarnya dalam G30S. Ia sama sekali tidak memberikan kesan sebagai pemikir, artinya ia sekedar wayang yang dimainkan oleh dalang mahir di balik layar sejarah. Di Yogya ia memang pernah berada di lingkungan olah pikir. Kadang-kadang ia datang ke kelompok diskusi Mahameru I, sebuah rumah di belakang SMA 3 Yogya, kemudian menjadi kantor PSI. Tempat itu untuk diskusi antara lain Sutan Syahrir dan HA Salim. Menurut Sumadi Mukajin, Syam dikenal pendiam, tertutup dan… agak goblok. Sedang Kelompok Pathuk kemudian berkembang menjadi salah satu simpul terkuat jaringan politik bawah tanah Syahrir. Di situ buku-buku Marx, Adam Smith, Machiaveli, Gandhi, Lenin dsb menjadi bahan kajian.

Terdapat persamaan modus operandi antara percobaan kudeta 3 Juli 1946 yang telah menculik PM Syahrir dengan G30S. Mula-mula Letkol Suharto berada dalam satu kubu dengan atasannya Komandan Divisi Mayjen Sudarsono. Mereka, termasuk pasukan Suharto menduduki RRI dan Kantor Telepon Yogya pada 2 Juli 1946. Anehnya kemudian Letkol Suharto berbalik menangkap kelompok yang mencoba melakukan kudeta. Ketika itu Syam sebagai intel Batalion 10 pimpinan Letkol Suharto. Rupanya G30S merupakan ulangan permainan politik semacam itu.

Bagaimana sebenarnya hubungan Syam dengan Letkol Untung cs? Menurut Kolonel Latief, Syam telah memotong jalur atau melakukan intersepsi terhadap pasukan Lettu Dularip. Ia mengenal Syam sebagai intel pembantu atasannya Letkol Untung. Ketika Dularip bertanya bagaimana caranya mengajak para jenderal itu untuk menghadap Presiden Sukarno, maka Syam tegas menjawab dengan mantap, “Tangkap, hidup atau mati”. Syam sendiri di Mahmilub menyebutnya sebagai perintah Aidit, sesuatu yang bertentangan dengan perintah Letkol Untung. Tidak ada bukti dan alasan apa pun juga yang dapat diketengahkan apa sebabnya G30S membunuh para jenderal yang diculiknya dalam keadaan terpaksa meskipun beberapa orang memang melawan. Dengan demikian ini merupakan skenario aslinya.

Siapakah sebenarnya yang memerintahkan Syam melakukan tindakan semacam itu? Yang pasti tindakan itu sama sekali tidak menguntungkan gerakan G30S. Berbagai pengumuman Dewan Revolusi termasuk pembentukan Dewan Revolusi itu sendiri yang sama sekali tidak menyebut nama Sukarno sangat tidak menguntungkan baik G30S secara keseluruhan maupun Untung cs dan Aidit. Dengan telah ditembakmatinya Aidit tanpa diajukan ke pengadilan maka Syam mempunyai kesempatan untuk memonopoli seluruh keterangan tentang G30S dalam hubungannya dengan PKI. Hanya Syam sebagai Ketua BC PKI dan Aidit sebagai Ketua Politbiro PKI yang mengetahui seluk beluk biro tersebut dalam hubungan dengan peristiwa G30S serta hubungannya dengan sejumlah perwira militer.

Demikianlah keterangan-keterangan Syam dalam persidangan Mahmillub, baik sebagai terdakwa maupun saksi telah memonopoli fakta-fakta yang seluruhnya menjurus kepada digiringnya Aidit dan PKI sebagai terdakwa yang sebenarnya, dengan pion-pionnya Letkol Untung dan kawan-kawannya. Maka Syam bertindak baik sebagai dirinya maupun sebagai Aidit tanpa secuwil pun keterangan Aidit.. Nama Syam berada dalam daftar gaji Kodam Jaya. Di Kodam Jaya Syam berhubungan dengan Latief, di samping hubungannya dengan Kostrad. Agar lebih meyakinkan maka dalam semua proses kemunculan Syam, ia dilukiskan sebagai seorang komunis sejati yang amat dekat dengan Ketua Aidit. Syam selalu mengakui dia yang memberikan perintah, dan perintah itu semuanya berasal dari Aidit. Pendeknya Aidit merupakan dalang seluruh peristiwa. Ia toh tidak akan membantahnya dari kubur.

Begitu Syam mempunyai kesempatan bicara, ia begitu bernafsu menceritakan apa saja yang ia ketahui tentang G30S. Di pengadilan ia menyombongkan dirinya sebagai otak di belakang gerakan. Buku Putih menyebutkan salah satu pekerjaan Syam melakukan penyusupan ke tubuh Angkatan Bersenjata dan melakukan apa yang disebut pembinaan. Dalam kenyataannya ia telah melakukan pembinasaan, bukan pembinaan terhadap sejumlah besar personel ABRI yang berhaluan kiri dan pendukung BK. Rupanya ia memang mempunyai misi melakukan infiltrasi ke tubuh ABRI untuk mencari tahu dan mengidentifikasi siapa-siapa yang termasuk 30% personel simpatisan PKI yang telah mencoblos palu-arit dalam pemilu 1955, untuk didepak, dihukum dan dilenyapkan sebagai kelanjutan rasionalisasi yang tak tuntas masa pemerintahan Hatta. Dengan demikian ia membentuk BC sebagai partai dalam partai dengan pola yang sama seperti yang dilakukan AD yakni negara dalam negara. Demikian analisis MR Siregar tentang peran besar Syam bagi PKI.

Seluruh pengakuan dan “pengakuan” serta tindakan Syam tidak secuwil pun merupakan pembelaan terhadap PKI atau Aidit. Sebaliknya ia terus menerus mendiskreditkannya. Dengan demikian ia tidak bekerja untuk PKI atau Aidit. Maka tidak aneh jika banyak orang termasuk para pengamat dan pakar mempertanyakan orang misterius ini, dan untuk siapa ia bekerja. Seluruh proses Mahmillub diarahkan untuk menggiring pembenaran tuduhan terhadap PKI serta menjeratnya dari segi hukum, sedang di lapangan dilakukan pembantaian tanpa ampun. Dengan demikian seolah segalanya dilandasi hukum.

Kegiatan Setelah Gagal

Berbeda dengan tokoh PKI lain yang terus terbaca gerak geriknya selama buron seperti ditulis Buku Putih, tampaknya buku ini “kesulitan” menjelaskan sepak terjang Syam di Jawa Barat sebelum ditangkap pada tahun 1967. Bersama itu intelijen militer mampu mengikuti terus kegiatan bawah tanah pimpinan PKI kecuali Syam. Begitu hebatkah jenderal intel PKI ini berkelit bagaikan siluman hingga kegiatannya tidak terdeteksi?

Baru saja didemonstrasikan betapa konyol dan cerobohnya rancangan dan jalannya peristiwa G30S, sejak dari penculikan, eksekusi para jenderal dan pengumuman-pengumuman RRI Jakarta atas nama Letkol Untung dengan Dewan Revolusinya, buruknya logistik dsb. Seperti disebut Jenderal Nasution, mereka tidak membuat rencana alternatif, dan ini berarti secara strategis sudah suatu kegagalan. Selanjutnya ketika komandan kontrol G30S menghubungi tiga sektor yang telah mereka bentuk, sebagai disebut Brigjen Suparjo, semuanya kosong. Bukankah ini salah satu indikasi kuat Syam sebenarnya berada di kubu lain yakni kubu Jenderal Suharto, yang kegiatan sebenarnya juga untuk sang jenderal? Dia sendiri yang melakukan sabotase terhadap gerakan yang dikendalikannya. Gerakan ini dirancang untuk gagal. Maka Latief berkeyakinan Syam tidaklah bertindak atas nama pribadi, dan yang dituding olehnya tak lain daripada Jenderal Suharto.

Betapa rumitnya hubungan Syam yang konon pernah mengenyam pendidikan intelijen di Vietnam, Korea Utara dan Cina ini, sekaligus juga pendidikan Seskoad. Dunia intelijen memang selalu ruwet tidak sederhana, berliku-liku, terbuka untuk segala hal dan kemungkinan yang paling kontradiktif pun serta hampir-hampir mokal, tetapi tertutup rapat bagi dunia luar. Seorang ksatria pahlawan penumpas kudeta militer berlumuran darah mungkin sekali adalah salah satu pelaku utama di baliknya, suatu ironi yang menjungkirbalikkan segala hal. Dan itu bernama dunia intelijen.

Menurut keyakinan sementara orang seperti tersirat dalam buku Hanafi dan Subandrio, bertahun-tahun Syam sebenarnya telah memasang jebakan untuk Aidit dengan menjalin hubungan pribadi maupun hubungan organisasi partai. Hubungan itu terus meningkat dengan meningkatnya keterampilan Syam dalam bidang intelijen yang telah digaulinya sejak jaman revolusi fisik. Begitu hebatkah tokoh ini, atau dan begitu bodohnyakah DN Aidit sebagai Ketua Politbiro beserta pendukungnya?

Ada ‘Tiga Orang Syam’?

Syam ditangkap pada 8 Maret 1967 di Cimahi. Berdasarkan dokumen-dokumen CIA yang telah dibuka untuk umum seperti dicatat oleh Peter Dale Scott, pesakitan itu merupakan orang ketiga yang diidentifikasi oleh pihak AD sebagai orang yang bernama ‘Syam’. Jadi paling tidak ada tiga orang ‘Syam’. Ia ditahan di RTM Budi Utomo Jakarta pada 27 Mei 1967. Beberapa bekas tahanan politik yang pernah berkumpul atau dekat dengan sel tempat Syam, menyatakan selama ditahan ia bertindak seperti seorang bos. Ia dapat mondar mandir dengan leluasa di tahanan, mengenal banyak petugas militer seperti berada di lingkungannya sendiri. Banyak tahanan politik yang dianggap cukup penting dibawa ke RTM untuk dapat diidentifikasi oleh Syam agar bisa “mendapatkan tempat yang tepat”. Sering ia tiba-tiba tidak berada di tempat tanpa diketahui oleh orang lain akan keberadaannya.

Sangat umum diketahui para tapol, ada sejumlah orang yang dekat dengan para pejabat, memberikan berbagai informasi yang benar maupun karangannya sendiri, ketika diminta atau tidak untuk meringankan dirinya sendiri dan memberatkan orang lain. Bahkan beberapa orang dijadikan interogator dan ikut menyiksa teman-temannya sendiri, ikut serta dalam operasi penangkapan dsb. Orang semacam itu biasanya disebut pengkhianat, biasanya dengan cepat dapat diketahui oleh tapol yang lain. Syam jauh lebih rumit dan lebih “besar” daripada sekedar kelompok ini.

John Lumengkewas, seorang mantan Wakil Sekjen PNI dan ditahan selama 7 tahun menuturkan kesaksiannya ketika ditahan di RTM tentang tokoh Syam. Ia punya pengetahuan ensiklopedis bagi orang-orang yang dituduh PKI. Ia mendapat perlakuan istimewa di RTM, berbeda dengan tapol lainnya. Fasilitas di selnya mewah untuk ukuran waktu itu, menu makanannya berbeda, ia bebas berada di luar sel, akrab berbincang-bincang dengan petugas. Dia sebentar-sebentar dipanggil oleh petugas dari pintu blok, lalu pergi ke kantor RTM. Nampak sekali Syam sudah lama berhubungan dengan kalangan ABRI tertentu. Oei Tjoe Tat SH, mantan Menteri Negara yang juga pernah ditahan di RTM, menggambarkan Syam sebagai orang yang tidak tahu diri. Kalau ia keluar untuk diperiksa, orang lain menjadi tidak tenteram karena ulahnya. Ia orang misterius yang dijauhi oleh para tahanan yang lain.

Syam dijatuhi hukuman mati oleh Mahmillub pada 9 Maret 1968. Di tahun-tahun berikutnya ia menyombongkan diri kepada rekan-rekannya di penjara bahwa ia masih bertahan hidup meski sudah dijatuhi hukuman mati. Ia selalu memiliki informasi untuk diberikan dalam kesaksian terhadap orang lain yang diadili selama bertahun-tahun. Ia mulai masuk penjara Cipinang pada 27 Oktober 1972. Menurut kesaksian para tapol, Syam dan komplotannya Subono masih bisa keluar penjara serta menulis laporan untuk kepentingan AD. Bahkan pada awal tahun 1980, ia keluar masuk di berbagai instansi militer. Menurut keterangan seorang mantan perwira Kopkamtib, Syam memang dipakai sebagai informan militer.

Berdasarkan catatan, Syam diambil dari Cipinang pada 27 September 1986 jam 21.00 oleh petugas Litkrim Pomdam Jaya atas nama Edy B Sutomo (Nrp.27410), lalu dibawa ke RTM Cimanggis. Tiga hari kemudian tengah malam bersama dua kawannya ia dibawa dari Cimanggis dan pada jam 01.00 sampai ke Tanjungpriok. Mereka diangkut dengan kapal laut militer ke sebuah pulau di Kepulauan Seribu dan dieksekusi pada jam 03.00. Tak ada keterangan mengapa pelaksanaan eksekusi terhadap Syam – dan sejumlah tokoh yang lain – terus diulur-ulur hingga 14 tahun dihitung dari sejak masuk Cipinang, bahkan 18 tahun bila dihitung sejak vonis Mahmillub.

Adakah itu Syam yang asli atau ‘Syam’ yang lain? Agaknya akan tetap menjadi misteri sebagaimana misteri berbagai hal seputar G30S. Menurut pengakuan Latief ketika ditahan di Cipinang pada 1990 ia berada satu blok dengan Syam. Sementara itu seorang pejabat di lingkungan Depkeh RI menyatakan Syam dikeluarkan dari Cipinang pada September 1986 atas izin Presiden Suharto. Antara dua keterangan ini sekedar perbedaan waktu, mungkin saja Latief tidak akurat. Jalannya peristiwa menunjukkan peran agen Syam menjadi salah satu kunci penting keberhasilan operasi yang sedang dilancarkan oleh sahabat lamanya, Jenderal Suharto. Mungkinkah orang yang agaknya tahu betul akan “isi perut” Suharto dalam hubungan dengan G30S dibiarkan hidup bebas? (Petikan dari Harsutejo, “Sejarah Gelap G30S” – revisi)

 

Wallahu ‘Alam Bishshowab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>