July 23, 2014
Home » Al-kisah » Jejak Nasionalisme di Surabaya

Jejak Nasionalisme di Surabaya

Adu Ideologi demi Perubahan

 Jejak Nasionalisme

Liputan Jejak Nasionalisme berupaya melihat situs-situs bangsa, apakah sekadar menjadi warisan masa lalu atau justru memberikan spirit untuk kehidupan saat ini. Setelah laporan dari Boven Digoel, Papua (Mei), dan laporan dari Sulawesi Selatan (Juni), laporan kali ini akan bertumpu pada Kota Surabaya, tempat pergerakan untuk perjuangan kemerdekaan, di mana ideologi menjadi dasar pijakan bagi perubahan yang dicita-citakan.

Kota Surabaya menjadi titik balik bagi Sarekat Islam. Organisasi massa yang semula menaungi kepentingan kelompok saudagar pribumi ini menjadi kekuatan gerakan politik. Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menjadi legenda yang melekat dengan organisasi ini. Di kota inilah Tjokroaminoto menunjukkan dirinya sebagai tokoh besar.

Tidak bertumpu pada identitas priayinya, Tjokro berpijak pada ide dan gagasan. Islam dan sosialisme menjadi semangatnya membangun bangsa yang dicintainya. Dalam sejumlah pustaka disebutkan, rumah Tjokro di Peneleh VII, Surabaya, menjadi saksi bagaimana dialektika ideologi dan gagasan menjadi energi yang melahirkan kesadaran pentingnya identitas diri.

Pentingnya identitas diri itulah yang mendorong Tjokro menjadikan Islam sebagai inspirasi perjuangannya. Islam menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Kegagalan Boedi Oetomo sebagai salah satu pilar perjuangan bangsa karena terjebak sentimen priayi Jawa, membuka ruang bagi Sarekat Islam (SI) mengambil peran.

Pengajar Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menyebutkan, Tjokro berperan sentral dalam kebangkitan nasionalisme Indonesia melalui SI.Meskipun jejak nasionalisme di Surabaya tidak hanya menyangkut Tjokro, tokoh ini tetap menjadi penumbuh benih nasionalisme. Hal ini terlihat dari masifnya dukungan ke SI ketika itu.

Sejarawan Belanda, Korver (1985), yang menulis disertasi soal SI, menyebut organisasi ini mendapat dukungan dari ribuan orang dan mampu membuka cabang dengan pesat di beberapa daerah setelah kongres pertamanya di Surabaya.Kesuksesan SI ditumpukan juga pada kemampuannya menyatu dengan rakyat. ”Sarekat Islam tidak sekadar gerakan ideologi, namun juga gerakan langsung turun ke bawah dengan rakyat,” tutur Purnawan dalam buku yang ditulisnya, Dua Kota Tiga Zaman Surabaya dan Malang (2009).

Salah satu peran SI ketika itu adalah mendukung gerakan sejumlah kampung di Surabaya menuntut hak milik atas tanah mereka kepada pemerintah kolonial Belanda. Ini jadi pembeda dari gerakan Boedi Oetomo yang cenderung eksklusif. SI menjelma sebagai gerakan dengan ideologi kerakyatan.

Pindah ke SurabayaSI awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dibentuk akhir 1911 oleh Samanhoedi, saudagar batik asal Laweyan, Surakarta. Kampung ini dikenal sebagai salah satu pusat terpenting kerajinan batik Indonesia hingga kini. Saat itu, batik menjadi industri yang menyaingi tekstil Eropa.

Korver mencatat, pembentukan SI merupakan reaksi atas kegiatan orang Tionghoa dalam perdagangan batik. Para pedagang batik pun bersatu melindungi kepentingan mereka dari serangan tekstil yang diimpor pedagang Tionghoa. Faktor ekonomi menjadi latar belakang berdirinya SDI.

Dalam perkembangannya, SDI dinilai lemah ketika berhadapan dengan pemerintah kolonial. Organisasi ini mengubah strategi perjuangan dengan berganti nama menjadi SI yang mulai mengarah kepada gerakan politik. Di kongres pertamanya, 26 Januari 1913 yang digelar di Kebun Binatang Surabaya (Dierentuin Soerabaia), Tjokro terpilih sebagai ketua.

Purnawan mencatat, ribuan orang mendatangi kongres dan mendengarkan kepiawaian Tjokro dalam berpidato. Banyak pihak menilai, gaya pidato Tjokro memengaruhi gaya pidato Soekarno, sosok pemuda yang pernah tinggal di rumah Tjokro di Gang Peneleh.

Soekarno dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams mengakui hal ini.Salah satu kebijakan Tjokro setelah terpilih jadi ketua SI adalah memindahkan pusat kegiatan organisasi dari Surakarta ke Surabaya.

Inilah transformasi SI, dari organisasi yang berlatarbelakang kepentingan ekonomi para saudagar menjadi sebuah gerakan politik.Identitas Islam dalam nama organisasi adalah sebuah identitas perlawanan. Seorang peminat dan pemerhati masalah sejarah Kota Surabaya, Kuncarsono Prasetyo, menyebut identitas Islam yang disuguhkan Tjokro bukan bermakna untuk Islam itu sendiri, namun menjadi simbol identitas perlawanan kepada Belanda.

”Saat itu belum ada identitas Indonesia. Karena membutuhkan identitas, Tjokro menggunakan Islam sebagai identitas,” ungkap Kuncarsono.Ketika SI bergerak lebih politis dan menjadi partai politik tahun 1930, Tjokro menyebut betapa pentingnya nilai kemanusiaan dalam Islam. ”…dalam pada usaha kita menudju kehidupan Muslim jang sesungguh-sungguhnja itu, haruslah kita mengetahui sifat dan keadaan-keadaan pergaulan-hidup manusia,” jelas Tjokro. (HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perdjuangannja, Amelz).Selain pendekatan kerakyatan dan kemanusiaan, hal lain yang bisa dipelajari dari Tjokro dan peran SI adalah soal ide kebangsaan. Pergumulan ideologi menjadi santapan sehari-hari di Peneleh.

Sebagai pusat kegiatan partai, rumah Tjokro bagaikan sekolah politik. Dalam sejumlah literatur tentang tokoh yang memimpin SI di usia 30 tahun ini disebutkan, Tjokro membuka rumahnya sebagai tempat kos bagi pelajar yang sedang menimba ilmu di Surabaya.Di antara mereka, terdapat tiga pemuda yang kemudian tercatat sebagai tokoh pergerakan, yaitu Semaun yang berideologi komunis, Soekarno dengan ideologi nasionalisnya, dan SM Kartosoewirjo dengan Islamnya.

Dialektika ideologi di antara mereka bersama Tjokro yang cenderung Islam-Sosialis, menguatkan gagasan-gagasan besar yang mewarnai sejarah pergerakan Indonesia.”Rumah itu tempat berkumpul para tokoh nasionalis, agama, maupun tokoh kiri. Meskipun berbeda ideologi, tujuannya satu, demi perubahan,” ujar Harjono Sigit, cucu Tjokro.Sosok Tjokro di mata mantan Rektor ITS Surabaya itu tak ubahnya negarawan yang benar-benar menjadikan partai sebagai alat perjuangan, bukan alat mencari uang dan kekuasaan seperti saat ini. — Yohan Wahyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>