Home Fiqih Ngaji Fiqih Dengan Kitab Taqrib | Siwak

Ngaji Fiqih Dengan Kitab Taqrib | Siwak

Bersiwak Atau Sikat Gigi

Bersama Kang As’ad

Ngaji Fiqih Dengan Kitab Taqrib | Siwak

  

  (فصل) والسواك مستحب في كل حال إلا بعد الزوال للصائم وهو في ثلاثة مواضع أشد استحبابا: عند تغير الفم من أزم وغيره وعند القيام من النوم وعند القيام إلى الصلاة.

Terjemahnya

 

(Pasal) Siwakan disunahkan dalam setiap keadaan kecuali setelah lingsirnya matahari bagi orang yang sedang berpuasa. Siwakan sangat disukai (disunahkan) pada tiga keadaan; yaitu ketika berubahnya kondisi mulut baik karena sebab diam yang lama atau yang selainnya, ketika bangun dari tidur, dan ketika hendak melaksanakan sholat.

 

 

Penjelasan

 

Pada pasal ini kita mempelajari tentang hukum dan hal-hal yang berkaitan dengan bersiwak/siwakan/sikat gigi. Jika pada artikel yang telah lalu kita telah membahas tentang air dan penyamakan, yang keduanya adalah perbuatan yang ditujukan untuk menghilangkan (mensucikn) najis, saat ini kita akan membahas perbuatan yang ditujukan untuk menghilangkan kotoran tetapi yang tidak dihukumi najis.

 

Secara bahasa as-Siwak maknanya adalah menggosok atau alat untuk menggosok, dan menurut syara’, as-Siwak maknanya adalah mempergunakan (menggosokkan) sebuah kayu atau yang semacamnya pada gigi dan sekitarnya untuk menghilangkan kotoran dan semacamnya yang disertai dengan niat. (Lihat, Hasyiah al-Baijuri juz 1 hlm 61).

 

Siwakan adalah merupakan salah satu syariat (ajaran) Nabi-nabi terdahulu sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi shalallahu’alaihi wasallam;

 

هو سواكي وسواك الأنبياء من قبلي (رواه الطبراني)

 

Artinya: Ia adalah siwakku dan siwak nabi-nabi sebelumku. (HR. Ath-Thabrani).

 

Siwakan atau sikat gigi disunahkan secara mutlak, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu’alaihi wasallam;

 

السواك مطهرة للفم مرضاة للرب (رواه ابن خزيمة وابن حبان والبيهقي والنسائ بإسناد صحيح)

 

Artinya: Siwak itu menjadikan mulut bersih dan diridlai Allah. (HR. Ibnu Huzaimah, Ibnu Hiban, al-Baihaqi, an-Nasai dengan sanad yang shahih).

 

Kesunahan bersiwak ditetapkan berdasarkan atas prilaku Nabi shalallahu’alaihi wasallam yang selalu merutinkannya (muwadzobah). Penyusun kitab al-Ghayah wa at-Taqrib menyampaikan bahwasanya kesunahan bersiwak adalah dalam segala keadaan. Kesunahan tersebut lebih dikukuhkan dalam tiga keadaan, yaitu;

  1. Saat berubahnya kondisi mulut baik karena diam yang terlalu lama atau karena meninggalkan makan atau yang selainnya, contohnya setelah makan makanan yang memiliki bau yang menyengat seperti; bawang merah, bawang putih, petai, jengkol, dsb.
  2. Ketika baru bangun dari tidur.
  3. Dan ketika hendak melaksanakan sholat baik sholat fardlu maupun sholat sunnah meskipun kondisi mulut tidak berubah (tidak berbau).

 

Pengukuhan tiga keadaan yang disampaikan oleh penyusun kitab al-Ghayah wa at-Taqrib di atas bukan merupakan pembatasan (qayyid), tetapi masih ada keadaan-keadaan lain yang seseorang sangat disunnahkan untuk melakukan siwakan, diantaranya adalah; Ketika hendak membaca al-Qur’an, ketika gigi sudah menguning, Ketika hendak tidur, ketika berwudlu, ketika hendak membaca hadits Nabi shalallahu’alaihi wasallam, ketika hendak belajar atau berdzikir, ketika hendak masuk Ka’bah, ketika kedatangan tamu, ketika hendak berkumpul (jima’) dengan istri, ketika hendak berkumpul dengan banyak orang, ketika dalam keadaan haus atau lapar, dan ketika menjelang sakaratul maut. (Lihat, Hasyiah al-Baijuri juz 1 hlm 62-65).

 

Untuk sholat-sholat yang memiliki banyak salaman seperti sholat tarowih dan sholat dluha, siwakan sangat disunahkan pada setiap kali selesai dua rakaat. Siwakan juga sangat disunahkan ketika hendak melakukan sholat jennazah juga ketika hendak melakukan thowaf dan ketika melakukan wudlu. (Lihat, Kifayah al-Akhyar hlm 32).

 

Tentang permasalahan, apakah dimakruhkan melakukan siwakan setelah lingsirnya matahari (zawal) bagi seorang yang berpuasa, dalam permasalahan ini terdapat khilaf di antara ulama. Menurut imam ar-Rafi’I pendapat yang rajih adalah dimakruhkannya bersiwak setelah lingsirnya matahari bagi orang yang berpuasa, pendapat ini di dasarkan pada sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam;

 

لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك. رواه البخاري. وفي رواية مسلم: يوم القيامة.

 

Artinya: Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari pada bau wangi minyak misik. Hadits ini diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, di dalam riwayat imam Muslim disampekan; Pada hari qiyamat.

 

Kemakruhan tersebut ditertentukan pada siwakan yang dilakukan setelah lingsirnya matahari/tengah hari (zawal). Karena perubahan bau mulut yang disebabkan berpuasa pada saat tersebut sangat tampak sekali. Tetapi apabila perubahan bau mulut yang terjadi setelah lingsirnya matahari disebabkan oleh sebab yang selain puasa, contohnya sebab tidur atau yang selainnya, maka tidak dimakruhkan untuk bersiwakan dengan sebab tersebut.

 

Menurut pendapat lain (qiil) tentang siwakan yang dilakukan setelah lingsirnya matahari adalah tidak dimakruhkan secara mutlak. Pendapat ini adalah pendapat yang ditarjih oleh imam an-Nawawi di dalam kitab Syarh al-Muhadzab, juga yang telah disampaikan oleh al-Aimmah ats-Tsalatsah. Al-Qadli Husain menyampaikan; kemakruhan melakukan siwakan adalah apabila dalam melakukan puasa fardlu, dan tidak dimakruhkan apabila puasa yang dilakukan adalah puasa sunnah, hal tersebut untuk menjaga dari terjadinya riya’. (Lihat, Kifayah al-Akhyar hlm 22).

 

Dalam melakukan siwakan, alat yang bisa digunakan ada banyak macamnya, diantaranya adalah dengan menggunakan kain yang kasar, dengan setiap hal yang dapat menghilangkan kotoran, dengan menggunakan kayu, dengan menggunakan kayu Arak (yang biasa disebut dengan kayu siwak).

 

Ketika bersiwak, yang lebih utama adalah dengan cara membasahi alat yang digunakan untuk bersiwak tersebut dengan air. Setelah melakukan siwakan, disunahkan untuk membasuh mulut dengan menggunakan air lalu mengulangi lagi siwakan untuk kedua kalinya.

 

Dalam bersiwak, disunahkan untuk melakukannya dengan tangan kanan, memulainya dari bagian kanan mulut, menjalankan alat siwak pada bagian atas rongga mulut dan gusi secara pelan-pelan. (Lihat, Kifayah al-Akhyar hlm 23).

 

Disunahkan untuk niat ketika melakukan siwakan dengan niat seperti; Nawaitu al-istiyak Lillahi Ta’ala (saya niat bersiwak karena Allah Ta’ala). Apabila seseorang yang melakukan siwakan dengan tanpa niat, maka siwakan yang telah ia lakukan tidak bernilai kesunahan dan tidak mendapatkan ganjaran. Hal ini apabila siwakan yang dilakukan tidak dalam sebuah rangkaian ibadah tertentu seperti wudlu, apabila siwakan yang dilakukan adalah setelah melakukan niat wudlu, maka siwakan tersebut akan tetap mendapatkan ganjaran meski tidak berniat siwakan. (Lihat, Hasyiah al-Baijuri juz 1 hlm 65).

 

Di dalam sikat gigi atau siwakan terdapat banyak sekali keutamaan-keutamaan, diantaranya adalah;

  1. Mendapatkan ridla dari Allah Ta’ala.
  2. Syetan benci terhadap orang yang melakukan siwakan.
  3. Mensucikan mulut.
  4. Meninggikan kehormatan.
  5. Membersihkan kecerdasan.
  6. Memfasihkan lisan.
  7. Menghilangkan lendir.
  8. Menajamkan penglihatan.
  9. Memperlambat tumbuhnya uban.
  10. Bisa menjadi sebab berlipat gandanya pahala ibadah.
  11. Memudahkan ingat untuk mengucapkan syahadatain ketika maut akan menjemput.
  12. Memudahkan keluarnya ruh dari jasad.

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalam siwakan atau menyikat gigi. (Lihat, Hasyiah al-Baijuri juz 1 hlm 65).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *