July 26, 2014
Home » Wacana » Walisongo (Keturunan) Orang China?

Walisongo (Keturunan) Orang China?

Walisongo (Keturunan) Orang China?

Pendahuluan

Tulisan ini adalah sebagai counter terhadap sebuah artikel dari situs www.akhirzaman.info yang memuat tulisan berjudul “Walisongo Penyebar Ajaran Sesat Perusak Islam dan Nusantara”. Dalam tulisan tersebut saya menangkan kesan dan memahami bahwa walisongo dianggap sebagai ulama yang turut serta memperlancar perdagangan candu di tanah Jawa. Catatan sejarah maupun tulisan-tulisan orang Belanda yang dikutip mengenai kebiasaan orang Jawa sebagai pemadat merupakan bentuk dari kuatnya kerjasama pedagang candu china dengan penguasa/raja-raja di Jawa. Walisongo adalah kelompok yang telah sukses melakukan itu semua. (Anda bisa membaca lengkap tulisan tersebut di http://www.akhirzaman.info/menukonspirasi/konspirasi-islam/2139-walisongo-penyebar-ajaran-setan-perusak-islam-dan-nusantara.html ).

Saya mencermati ada semacam logika yang hendak dibangun sehingga berujung pada kesimpulan bahwa walisongo penyebar ajaran sesat. Di awali dengan serangan bahwa referensi mengenai keberadaan walisongo selama ini sangat lemah dan tidak ilmiyah. Sehingga yang ada hanya mistik dan cerita rekaan belaka. Kemudian tulisan tersebut mengajukan sebuah sumber yang menyebutkan bahwa walisongo adalah keturunan china. Di sisi lain, mengenai hebatnya perdagangan candu di Jawa (dan Nusantara) yang dikuasai oleh cina (tentu kerjasama dengan VOC/Hindia Belanda). Para saudagar candu china tersebut berusaha memperkuat perdagangan tersebut. Bahkan jauh sebelum jaman VOC mereka sudah  memperkuatnya termasuk jaman Demak/Walisongo. Dus, kehebatan dagang candu oleh china tersebut diduga sebagai buah hasil kerja keras para leluhur mereka di Jawa, dan itu adalah jasa walisongo.

Secara sederhana logika yang dibangun adalah orang Jawa banyak menjadi pemadat candu, sedangkan perdagangan candu dikuasai oleh china. Para walisongo adalah orang (keturunan) china, jadi wajarlah mereka menjadi awal petaka dari kebiasaan orang Jawa tersebut. Sederhana bukan? Tapi jika anda adalah orang yang sedikit mau berpikir, tentu tidak akan sampai pada kesimpulan tersebut. Dan tulisan ini saya fokuskan pada persoalan apakah walisongo itu orang china (keturunan)? Sebab menurut saya dengan membantah premis ini, maka keseluruhan logika yang dibangun menjadi gugur dengan sendirinya.

 

Walisongo Keturunan China?

Asal usul atau silsilah walisongo sampai saat ini memang masih belum menemukan kata sama. Paling tidak ada beberapa versi, seperti versi yang menyebut walisongo itu keturunan orang arab, versi campuran maksudnya ada arab, persia, hindia dan lainnya. Versi lainnya adalah versi china. Salah satu contohnya anda bisa melihat dalam blog berikut : http://awichengho.multiply.com/journal/item/4/Wali_Songo_8_Wali_adalah_keturunan_Tionghoa_Cina?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Dari sekian versi, sosok sunan kalijaga seringkali dianggap berbeda. Ada yang menyebut orang Jawa asli, ada yang menyebut masih keturunan arab (bukan keturunan Nabi Muhammad tetapi juga ada yang menyebut masih keturunannya).

            Kembali lagi mengenai apakah walisongo keturunan china? Dalam link di atas yang saya sebut sebenarnya sudah ada bantahan bahwa dari sekian versi, maka versi yang menyebut walisongo adalah keturunan china sangat lemah, mengapa? Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber akademik yang berasal dari Slamet Muljana, (Muljana, Slamet (2 Agustus 2010). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LkiS. hlm. xxvi + 302 hlm.. ISBN 9799798451163. Buku tsb merujuk kepada tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan, yang kemudian merujuk kepada seseorang yang bernama Resident Poortman. Namun, Resident Poortman hingga sekarang belum bisa diketahui identitasnya serta kredibilitasnya sebagai sejarawan, misalnya bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C. van den Berg. Sejarawan Belanda masa kini yang banyak mengkaji sejarah Islam di Indonesia yaitu Martin van Bruinessen, bahkan tak pernah sekalipun menyebut nama Poortman dalam buku-bukunya yang diakui sangat detail dan banyak dijadikan referensi.

Salah satu ulasan atas tulisan H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs berjudul Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries adalah yang ditulis oleh Russell Jones. Di sana, ia meragukan pula tentang keberadaan seorang Poortman. Bila orang itu ada dan bukan bernama lain, seharusnya dapat dengan mudah dibuktikan mengingat ceritanya yang cukup lengkap dalam tulisan Parlindungan* *Russell Jones, review on Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries written by H. J. de Graaf; Th. G. Th. Pigeaud; M. C. Ricklefs, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, Vol. 50, No. 2. (1987), hlm. 423-424.

Saya kira cukuplah bantahan tersebut untuk menjawab pertanyaan apakah walisongo keturunan china?. Jikalau ada catatan yang menyebut nama-nama walisongo dengan nama mandarin (china) bukan berarti mereka itu orang china. Bisa saja yang terjadi adalah si pencatat itu sendiri yang menggunakan dialek (lisan china/mandarin) atau memang orang china.

Dengan demikian, menyebut walisongo sebagai pembawa ajaran sesat  dan penghancur nusantara, karena mereka adalah orang china dan diyakini mempunyai keterkaitan dengan perdagangan candu di Hindia Belanda (Jawa), maka dengan sendirinya semua tulisan dalam artikel tersebut menjadi terbantahkan dengan sendirinya.

Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Hal ini dijelaskan—baik semua atau sebagian—dalam banyak sekali tulisan seputar Walisongo dan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Misalnya, dalam Ensiklopedi Islam; Târikhul-Auliyâ’ karya KH Bisri Mustofa; Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya KH Saifuddin Zuhri; Sekitar Walisanga karya Solihin Salam; Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya karya Drg H Muhammad Syamsu As.; Kisah Para Wali karya Hariwijaya; dan Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA.

Walisongo sangat peka dalam beradaptasi, caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi diisi pembacaan tahlil, doa, dan sedekah. Bahkan Sunan Ampel—yang dikenal sangat hati-hati—menyebut shalat dengan “sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang) dan menamai tempat ibadah dengan “langgar”, mirip kata sanggar.

Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan genteng bertingkat-tingkat, bahkan masjid Kudus dilengkapi menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren yang—menurut sebagian sejarawan—mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik cantrik dan calon pemimpin agama.

Penutup

Keberhasilan atau kegagalan seseorang hanya dinilai dari etnis, maka menjadi sebuah penilaian yang gegabah. Iblis dilaknat oleh Allah swt. bukan karena kebodohannya, tetapi karena kesombongannya yang sangat bangga dijadikan dari api. Sebaliknya menuduh kejahatan seseorang hanya karena dia orang etnis tertentu, sebenarnya sama saja berperilaku seperti iblis. Semoga tulisan singkat ini bisa memberi sedikit cahaya bagi mereka yang gelisah karena tokoh inspirasinya, yakni walisongo menjadi bahan hujatan dari mereka yang tidak berakal dan beradab. Oleh karena itu upaya untuk mengkaji catatan-catatan sejarah mengenai walisongo harus terus digiatkan sehingga tidak jatuh pada pengkultusan.

Wallahu ‘alamu bisshowab

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>