April 19, 2014
Home » Ngaji » Fiqih » ITTIBA’ DAN TAQLID

ITTIBA’ DAN TAQLID

TENTANG TAQLID DAN ITTIBA’

(dalam dialog ini, wahabi membolehkan orang sholat membelakangi qiblat. Wal ‘iyadzu billah..!!)

DIALOG INI KELANJUTAN DIALOG TENTANG IJTIHAD DAN TAQLID

Taqlid dan ittiba'

Dari kitab : Al La Madzhabiyah, Akhtoru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syari’ah Al Islamiyah

Sunni : dari mana anda mengetahui perbedaan antara Taqlid dan Ittiba’.

Wahabi : Perbedaannya ialah dari segi bahasa.

Kami (sunni) pun mengambil kitab-kitab Lughah agar ia dapat menetapkan perbedaan makna bahasa dari dua kalimat Taqlid dan Ittiba’ tersebut, tetapi ia tidak menemukan apa-apa.

Sunni : Sayyidina Abu Bakar r,a pernah berkata kepada seorang arab baduwi ( pendusunan) yang menentang pajak dan perkataannya ini pernah di akui segenap sahabat :

اذا رضى المهاجرون فانما أنتم تبع

.

Artinya : “Apabila para muhajirin telah rela, kamu sekalian harus menyetujui/ittiba’ (mengikuti)“.

Abu Bakar mengatakan ittiba’ dari kalimat  tabaun (mengikuti ) yang mempunyai arti menyetujui (muwafaqah).

Wahabi : kalau begitu , perbedaan makna kedua kata tersebut adalah dari istilah dan bukan hak saya untuk membuat suatu istilah.

Sunni : Boleh-boleh saja Anda menjawab istilah, tetapi istilah yang anda buat tetap tidak akan mengubah hakikat sesuatu . Orang yang anda sebut muttabi’, (Orang yang berittiba’) kalau dia mengetahui dalil dan cara melakukan istinbath darinya, berarti dia adalah mujtahid. Akan tetapi, bila tidak tahu dan tidak mampu melakukan istinbath, berarti dia mujtahid dalam sebagian masalah dan muqallid dalam masalah lain. Oleh kerana itu, bagaimanapun juga pembahagian tingkatan seseorang hanya ada dua macam , yaitu mujtahid dan muqallid, dan hukumnya sudah cukup jelas dan diketahui.

Wahabi : sesungguhnya muttabi/orang yang berittiba’ adalah orang yang mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya, kemudian menguatkan salah satu darinya. Tingkatan ini berbeda dari taqlid.

Sunni : kalau yang anda maksudkan membedakan pendapat para imam mujtahid ialah membedakan mana yang kuat dan mana yang lemah dari segi dalil , berarti tingkat ini lebih tinggi daripada ijtihad. apakah anda mampu  berbuat demikian?.

Wahabi : Saya akan lakukannya sekuat kemampuan saya.

Sunni : kami mengetahui anda telah memberi fatwa bahwa talak tiga yang dijatuhkan dalam satu majelis berarti jatuh satu talak saja. Apakah sebelum menyampaikan fatwa anda telah meneliti pendapat para imam mazhab serta dalil-dalil mereka , kemudian anda memilih salah satu dari pendapat mereka dan anda fatwakan ?.

Ketahuilah bahwa Uwaimir Al Ijlani telah menjatuhkan talak tiga kepada isterinya di hadapan Rasulullah s.a.w . Setelah ia bersumpah Lian dengan isterinya, ia berkata, “saya akan berbohong kepadanya , Ya Rasulullah, bila saya menahannya, dan saya talak tiga”. Bagaiman pengetahuan Anda tentang hadis ini dan kedudukannya dalam masalah ini, serta pengertiannya menurut mazhab sebahagian besar ulama dan menurut mazhab Ibnu Taimiyyah?.

Wahabi : saya belum melihat hadis ini.

Sunni : Bagaimana Anda bisa memfatwakan suatu masalah yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh keempat imam mazhab , padahal anda belum mengetahui dalil-dalil mereka, serta tingkatan kekuatan dalil tersebut . Kalau begitu anda telah meninggalkan prinsip yang anda anut, yaitu ittiba menurut istilah yang anda katakan sendiri

Wahabi : Pada waktu itu saya tidak memiliki kitab yang cukup untuk melihat dalil dari imam-imam mazhab.

Sunni : kalau begitu , apakah yang mendorong anda untuk tergesa-gesa memberikan fatwa yang menyalahi pendapat jumhur kaum muslimin padahal anda belum memeriksa dalil-dalil mereka ?

Wahabi : apa yang harus saya perbuat ketika saya ditanya mengenai masalah tersebut, sedangkan kitab yang ada pada saya terbatas sekali?.

Sunni : cukup bagi anda untuk mengatakan “Saya tidak tahu tentang masalah ini”, atau anda menukil saja pendapat mazhab empat kepada si penanya, serta pendapat mereka yang berbeda dengan madzhab empat tanpa harus memberikan fatwa kepadanya dengan salah satu pendapat. Demikianlah, apa yang kami kemukakan ini sudah cukup untuk anda dan memang sampai disitulah kewajipan anda. Apalagi problem itu tidak langsung menyangkut diri anda sehingga anda memberikan fatwa dengan pendapat yang menyalahi ijma keempat imam tanpa mengetahui dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh mereka , kerana anda telah menganggap cukup dengan dalil yang ada pada pihak yang bertentangan dengan mazhab empat, anda telah berada dipuncak kefanatikan sebagaimana yang selalu anda tuduhkan kepada kita.

Wahabi : Saya telah menelaah pendapat keempat imam dalam kitab Subulus Salam karya as Syaukani dan Fiqhus Sunnah karya As Sayyid Sabiq.

Sunni : Kitab yang anda sebutkan adalah kitab yang memusuhi keempat imam mazhab dalam masalah ini. Apakah anda menjatuhkan vonis kepada seseorang hanya dengan mendengar omongan saja, omongan saksi-saksi dan kelurga nya tanpa mendengarkan omongan tertuduh lain?.

Wahabi : Saya kira apa yang telah saya lakukan tidak patut dicela . Saya telah memberikan fatwa kepada orang yang bertanya dan itulah batas kemampuan paham saya.

Sunni : Anda telah menyatakan sebagai muttabi dan kita semua harus menjadi muttabi. Dan anda telah menafsirkan bahwa ittiba adalah meneliti semua pendapat mazhab dan mempelajari dalil-dalil yang dikemukakannya, kemudian mengambil mana yang paling mendekati dalil yang benar. Akan tetapi , apa yang telah anda lakukan ternyata bertolak kebelakang. Anda telah mengetahui bila mazhab empat telah ijma bahwa talak yang dijatuhkan tiga sekaligus , berarti jatuh tiga. Anda mengetahui bahwa keempat imam mazhab mempunyai dalil tentang masalah ini, hanya saja anda belum melihatnya. Namun demikian , anda berpaling dari ijma mereka dan mengambil pendapat yang sesuai dengan keinginan anda. apakah anda sejak dari semula telah yakin bahwa dalil-dalil keempat imam mazhab itu tidak dapat diterima?.

Wahabi : Bukan begitu, saya tidak melihatnya karena saya tidak memiliki kitab-kitab tersebut.

Sunni : mengapa anda tidak mau menunggu?. Mengapa anda tergesa-gesa padahal Allah s.w.t tidak memaksakan anda untuk berbuat demikian?. Apakah karena anda tidak melihat dalil-dalil para ulama jumhur yang dapat dipakai sebagai alasan untuk menguatkan pendapat Ibnu Taimiyyah ?. Apakah fanatik yang anda anggap dusta itu tiada lain perbuatan anda sendiri?

Wahabi : Dalam kitab-kitab yang saya miliki, saya telah melihat beberapa dalil yang cukup memuaskan dan Allah tidak membebani saya lebih dari itu.

Sunni : Apa bila seorang muslim melihat satu dalil dalam kitab yang ia baca , apakah cukup dengan dalil tersebut ia meninggalkan semua mazhab yang berbeda dengan pahamnya, meskipun ia belum melihat dalil-dalil dari mazhab tersebut?.

Wahabi : Cukup.

Sunni : MISALNYA ADA SEORANG PEMUDA YANG BARU SAJA MEMELUK ISLAM , DAN IA SAMA SEKALI TIDAK MENGETAHUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. LALU IA MEMBACA FIRMAN ALLAH:

(ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله إن الله واسع عليم)

Artinya : “Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat , maka ke mana pun kamu menghadap , disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah maha luas (rahmatnya ) lagi maha mengetahui”. (Al baqarah 115)

PEMUDA TERSEBUT LALU BERANGGAPAN BAHAWA SETIAP ORANG HENDAK MELAKUKAN SHALAT BOLEH MENGHADAP KE ARAH MANA SAJA SEBAGAIMANA DITUNJUKKAN OLEH DZAHIRNYA LAFADZ AYAT AL QURAN. KEMUDIAN IA MENDENGAR BAHWA KEEMPAT IMAM MAZHAB TELAH SEPAKAT BAHWA IA HARUS MENGHADAP KA’BAH. IA PUN MENGETAHUI BAHWA PARA IMAM MEMPUNYAI DALIL UNTUK MASALAH INI, HANYA SAJA IA BELUM MELIHATNYA. APAKAH YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PEMUDA TERSEBUT MANAKALA IA AKAN SHALAT?. APAKAH CUKUP DENGAN MENGIKUTI PANGGILAN JIWANYA SAJA KERANA IA TELAH MENEMUKAN AYAT AL QURAN TERSEBUT ATAU IA HARUS MENGIKUTI IMAM-IMAM YANG BERBEDA DENGAN FAHAMNYA?.

Wahabi : CUKUP MENGIKUTI BISIKAN HATINYA.

Sunni : MESKIPUN MENGHADAP KEARAH TIMUR , MISALNYA?. APAKAH SHALATNYA DIANGGAP SAH ? (yg dimaksud di sini adalah membelakangi kiblat)

Wahabi : SAH, KARENA IA WAJIB MENGIKUTI PANGGILAN HATINYA

Sunni : ANDAIKATA PANGGILAN JIWA PEMUDA ITU MENGILHAMI DIRINYA SEHINGGA IA MERASA TIDAK APA-APA BERZINA DENGAN ISTERI TETANGGANYA, MEMENUHI PERUTNYA DENGAN KHAMAR DAN MERAMPAS HARTA MANUSIA TANPA HAK, APAKAH ALLAH AKAN MENGHALALKAN SEMUA INI LANTARAN PANGILLAN JIWANYA?.

Wahabi : (diam sejenak) sebenarnya contoh-contoh yang tuan tanyakan hanyalah khayalan belaka dan tidak ada buktinya.

Sunni : Bukan khayalan atau dugaan semata, bahkan sering terjadi hal seperti itu atau lebih aneh lagi. Bagaiman tidak, seorang pemuda yang tidak mempunyai pengetahuan apa-apa tentang Islam, Al Kitab dan As Sunnah, kemudian membaca sepotong ayat Al quran yang ia fahami menurut apa adanya. Ia kemudian berpendapat bahwa boleh saja shalat menghadap ke arah mana saja meskipun ia tahu persis bahwa shalat diharuskan menghadap Kiblat (ka’bah). Dalam kasus ini, apakah anda tetap berpendirian bahwa shalatnya sah?. Kerana menganggap cukup dengan adanya bisikan hati nurani atau panggilan jiwa si pemuda tersebut. Disamping itu, menurut anda, bisikan atau panggilan jiwa dan kepuasan mental bisa memutuskan segala urusan. Pendirian ini jelas bertentangan dengan prinsip anda, bahwa manusia terbagi menjadi tiga kelompok : mujtahid, muqallid dan muttabi.

Wahabi : Sebenarnya pemuda tersebut harus membahas dan meneliti . apakah ia tidak membaca hadis atau ayat lainnya?.

Sunni : tapi ia tidak memiliki cukup bahan untuk membahas sebagaimana halnya anda ketika membahas tentang masalah talak. Ia tak sempat membaca ayat-ayat lain yang berhubungan dengan masalah kiblat selain ayat diatas . Dalam hal ini apakah ia tetap harus mengikuti bisikan hatinya dengan meninggalkan ijma para ulama?.

Wahabi : Memang harus demikian , kalau ia tidak mampu membahas dan menganalisis. Baginya cukup berpegang pada hasil pikirannya sendiri dan ia tidak salah.

Sunni : Ucapan anda sangat membahayakan dan mengherankan dan kami akan siarkan….

Wahabi : Silakan tuan menyiarkan pendapat saya dan saya tidak takut.

Sunni : Bagaimana anda akan takut kepada saya padahal anda tidak takut kepada Allah?. Sesungguhnya dengan ucapan tersebut anda telah membuang firman Allah:

(فاسألو أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون)

Artinya : “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui”. (An Nahl 43)

Wahabi : Tuan , para Imam bukanlah maksum yang terpelihara dari kesalahan. Bagaimana mungkin ia harus meninggalkan yang maksum dan berpegang pada orang yang bukan mashum?.

Sunni : Yang terpelihara dari kesalahan adalah makna yang hakiki yang dikehendaki oleh allah azza wa jalla dengan firmannya Artinya : Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat…

Akan tetapi , faham pemuda ini jauh sekali dari pendidikan Islam.

Jadi masalahnya adalah, PERBANDINGAN ANTARA DUA FAHAM, YAKNI FAHAM ATAU PEMIKIRAN DARI SEORANG PEMUDA YANG JAHIL (BODOH) DAN FAHAM ATAU PEMIKIRAN PARA IMAM MUJTAHIDIN = YANG KEDUA-DUANYA TIDAK MAKSUM .

HANYA SAJA PERBEDAAN NYA IALAH :

YANG SATU TERLALU BODOH.

YANG SATU LAGI SANGAT DALAM ILMUNYA

Wahabi : Sesungguhnya Allah tidak membebani dia melebihi kemampuannya.

Sunni : Tolong, jawab lah pertanyaan ini Seorang mempunyai anak kecil yang sedang sakit panas. Menurut saran semua dokter yang ada di kota, ia harus diberi obat khusus dan mereka melarang orang tua si anak untuk mengobatinya dengan antibiotik. Mereka pun telah memberitahu kepada orang tua si anak bila dilanggar, dapat menyebabkan kematian sang anak. Kemudian orang tua tersebut membaca selebaran tentang kesehatan dan menemukan keterangan bahawa antibiotik kadang-kadang bermanfaat untuk pengobatan sakit panas. Dengan adanya selebaran ini, si orang tua tersebut tidak memedulikan lagi nasihat dokter. Kemudian dengan panggilan hatinya, ia mengobati anaknya dengan antibiotik sehingga mengakibatkan kematian sang anak. Dengan tindakan ini, apa orang tua tersebut berdosa atau tidak?.

Wahabi : Saya kira masalah tersebut lain dengan masalah ini dan maksudnya pun berbeda dengan persoalan yang sedang kita bicarakan

Sunni : Masalah ini sama hakikatnya dengan hal yang sedang kita bicarakan. Coba anda perhatikan!. Orang tua tersebut sudah mendengarkan ijma (kesepakatan ) para dokter , sebagaimana pemuda tadi juga telah mendengar ijma para ulama. Akan tetapi , orang tua tersebut justru berpegang pada selebaran buku kesehatan, sebagaimana pemuda tersebut melaksankan panggilan hatinya.

Wahabi : Tuan, Al Quran adalah Nur. Nur Al Quran tidak dapat disamakan dengan yang lain.

Sunni : Apakah cahaya Al Quran itu dapat dipahami oleh semua yang membaca sehingga menghasilkan pemahaman yang benar sesuai dengan makna yang dikehendaki Allah? Kalau begitu apa bedanya antara ahli ilmu dan yang bukan ahli ilmu dalam menerima cahaya Al Quran?.

Wahabi : Bisikan hati adalah yang paling penting

Sunni : Orang tua tersebut telah melaksanakan panggilan hatinya sehingga mengakibatkan kematian anaknya. Apakah ada pertanggungjawaban atas orang tua ini, baik dari segi syariat maupun tuntunan hukum?

Wahabi : Dia sama sekali tak bersalah.

Sunni : Dengan pernyataan anda ini, saya kira dialog dan diskusi ini kita cukupkan sampai disini saja. Sudah putus jalan untuk menemukan pendapat kami dengan anda. Dengan jawaban Anda yang sangat mengherankan itu, cukuplah kiranya kalau anda telah keluar dari ijma kaum muslimin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>