April 21, 2014
Home » politik » MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM (Bag-3)

MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM (Bag-3)

MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM

Artikel Sebelumnya

BAGIAN KE EMPAT

Pada bagian keempat ini anda akan dibawa pada babak awal mata mata inggris bertemu dengan calon tokoh penggerak Wahhabiyah.

Dan mata mata inggris dalam sejarah islam ini pada awalnya sangat pintar menilai karakter Orang orang Islam dari masing masing daerahnya.

Mata mata inggris dalam sejarah Islam ini merupakan bukti adanya program terpadu dari pihak barat untuk menghancurkan islam dari dalam, mata mata inggris inilah yang kelak dapat mengubah arah sejarah islam dimasa mendatang

***

Mari kita simak perjalanan seorang mata mata inggris dalam sejarah islam yang berhasil memporak porandakan kesatuan ummat islam dengan cara tanpa disadari, berikut:

Saat pertama tiba di Basrah, saya tinggal di sebuah masjid. Imam masjid saat itu penganut aliran Sunni, asli orang Arab, bernama Syaih Umar Ta’i. Pada awal pertama pertemuan, dia mengira saya belum tahu apa-apa tentang fikih. Dikira saya masih pemula sehingga dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang tata cara mandi. Saya diam, tidak menjawab pertanyaan yang dia lontarkan. Kemudian, saya angkat bicara begini: “Saya ini datang dari daerah Igdir Turki. Dan saya pernah menjadi murid Ahmad Efendi, Istambul. Saya bekerja pada seorang bos kayu bernama Khalid.” Saya memberikan cukup keterangan tentang Turki yang saya peroleh selama tinggal di Istambul. Saya juga mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Turki.

Imam tersebut memberikan isyarat pada salah satu yang hadir yang menanyakan apakah saya berbicara bahasa Turki dengan benar. Jawabannya positip, Imam yakin bahwa saya memang benar-benar orang Turki. Saya merasa segala sesuatunya bisa berjalan sebagaimana rencana.

Tetapi yang terjadi, ternyata perkiraan saya meleset. Beberapa hari kemudian saya merasa kecewa atas sikap Imam masjid yang mencurigai saya sebagai mata-mata pemerintahan Turki. Selang beberapa waktu kemudian, saya mengerti alasan dia mencurigai saya sebagai mata-mata.

Mereka, orang-orang Basrah pada umumnya tidak setuju dengan Gubernur yang ditunjuk oleh Istanbul yang dianggap tidak sesuai dengan aspirasi rakyat Basrah. Karena dipaksa meninggalkan masjid oleh Syaih Umar Ta’i, saya menyewa satu kamar pada sebuah penginapan yang biasa dipergunakan oleh para pelancong dan orang asing. Pemilik penginapan tersebut adalah seorang yang idiot bernama Mursyid Efendi. Setiap pagi dia mengganggu saya, mengetok pintu keras-keras untuk membangunkan saya, saat adzan subuh dikumandangkan.

Saya tidak ada pilihan lain kecuali menuruti omongannya. Saya segera bangun untuk melaksanakan shalat Subuh. Lagi-lagi dia berkata, “Kamu harus membaca Al-Qur’an setelah mengerjakan Shalat Shubuh.” Saat saya mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an bukan wajib dan menanyakan mengapa dia bersikeras memaksa saya, dia menjawab, tidur sehabis shalat Subuh akan membawa kemelaratan dan kemalangan terhadap penginapan dan orang yang menginap.” Saya harus tunduk pada kata-katanya karena kata dia jika tidak, saya akan diusir dari penginapan tersebut. Sehingga segera setelah adzan Subuh dikumandangkan, saya harus bangun untuk mengerjakan shalat Subuh dan sesudah itu membaca Al-Qur’an selama satu jam. Pada suatu hari Mursyid Efendi mendekati saya dan berkata, “Sejak kamu tinggal di sini, di penginapan ini kemalangan bertubi-tubi menimpa saya.

Kusimpan rasa tidak senangku ini padamu. Karena kamu masih sendiri, alias bujang, itu alamat celaka. Kamu sekarang boleh pilih menikah atau meninggalkan penginapan.” Saya mengatakan saya tidak mempunyai cukup ekonomi untuk menikah. Saya tidak berani mengatakan alasan impoten, sebagaimana yang pernah saya berikan pada Ahmad Efendi dulu, karena tipe Mursyid Efendi adalah blak-blakan yang tentu akan menelanjangi saya jika beralasan saya impoten. Saat saya menyampaikan alasan di atas, Mursyid menegur saya dengan mengatakan, “Betapa lemah imanmu! Tidakkah kamu pernah membaca firman Allah, “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kemurahan-Nya?” Saya sempat bingung. Akhirnya saya berkata, “Baiklah, saya akan segera menikah. Tetapi harus kamu yang menyediakan segala sesuatunya, mau? Atau, dapatkah kamu mencarikan untuk saya seorang gadis yang mau membiayai pernikahan?” Setelah merenung sejenak, dia berkata, “Saya tak mau peduli! Sanggup menikah pada awal bulan Rajab, atau meninggalkan penginapan ini.” Sementara saat itu hanya tinggal dua puluh lima hari lagi batas deadline yang diberikan Mursyid Efendi terhadap saya. Sambil lalu saya ingat-ingat bulan dalam Islam Muharam, Safar, Rabi’ul-awal, Rabi’uI-akhir; Jumadil awal, Jumadil-akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzulqo’dah, Dzulhijah. Jumlah hari-harinya dalam satu bulan tidak lebih dari tiga puluh dan tidak kurang dari dua puluh sembilan. Dan perhitungannya didasarkan atas perjalanan bulan. Ya, pada akhirnya saya memilih meninggalkan penginapan Mursyid Efendi dan diterima bekerja sebagai pembantu tukang kayu.

Kami telah membuat kesepakatan bersama dengan bayaran yang relatif rendah. Hanya saja masalah tempat tidur dan makan menjadi tanggungan majikan. Saya pindahkan semua barang yang saya miliki dari tempat penginapan ke rumah bos saya, jauh sebelum bulan Rajab datang.

Bos saya tersebut orang cukup baik. Dia memperlakukan saya seperti anaknya sendiri. Dia pengikut Syi’ah dari Khurasan, Iran dan punya nama Abdur Ridla. Saya gunakan persahabatan dengan Abdur Ridla tersebut untuk belajar bahasa Persi. Setiap sore orang-orang Syiah berkumpul di tempat Abdur Ridla. Mereka membicarakan sejumlah permasalahan, mulai dari soal politik sampai soal ekonomi. Lebih dari itu, memperbincangkan soal ketidakberesan pemerintahan Istambul sudah merupakan menu sehari-hari mereka. Kapan saja dilihat ada orang yang mencurigakan masuk ikut nimbrung pada perkumpulan mereka, langsung saja mengalihkan pokok persoalan, semacam persoalan-persoalan pribadi. Semula saya tidak tahu mengapa mereka begitu mempercayai saya. Ternyata alasan mereka simpel sekali. Saya orang dari Azerbaijan sebab saya lancar berbicara Turki.

Sesekali muncul seorang pemuda mampir ke tempat kerja kami. Dilihat dari penampilannya, kayaknya seorang mahasiswa yang sedang mengadakan riset ilmu pengetahuan. Pemuda itu cukup mahir dalam berbicara bahasa Arab, Persi dan Turki. Namanya M-u-h-a-m-m-a-d al-Najd.

Tipe orang ini adalah minder dan kurang punya sopan santun. Mereka dalam perkumpulan tersebut senang betul mengeritik habis-habisan pemerintahan Turki Utsmani, sementara itu tidak mau membicarakan kekurangan-kekurangan dalam pemerintahan Iran.

Alasan yang membuat Muhammad Annajd dan bos kayu, Abdur Ridla begitu akrab adalah kedua orang tersebut tidak menyukai pejabat-pejabat dalam pemerintahan Turki. Akan tetapi, sedikit rada aneh, kok bisanya Muhammad Annajd yang beraliran Sunni paham bahasa Persi dan akrab dengan Abdur Ridla yang Syi’ah. Ternyata di kota ini yang mayoritas Syi’ah ini, orang Sunni berpura-pura bersahabat dengan orang Syi’ah. Dan memang mayoritas penduduk kota tersebut lancar baik bahasa Arab, Persi maupun Turki.

Kalau dilihat dari luar, nampaknya Muhammad Annajd orang Sunni. Dan “Sunny itu Kafir Menurut Syi’ah” Kendati mayoritas orang Sunni tidak suka dan senang mencela orang Syi’ah, yang terkadang mengatakan orang Syi’ah sebagai orang tidak beriman alias murtad. Pemuda ini tidak pernah berbuat begitu. Menurut dia, tak ada alasan bagi orang Sunni untuk harus mengikuti salah satu dari empat mazhab yang ada. Seraya mengatakan, “Kitabullah tidak satupun memuat adanya bukti berkaitan dengan empat madzhab ini.” Dia menganggap enteng saja ayat Al-Qur’an pada satu persoalan dan melalaikan Hadits.

Berkenaan soal Empat Madzhab yang ada: satu abad setelah wafatnya Nabi Muhammad, empat ulama muncul dari tengah-tengah masyarakat muslim Sunni. Mereka itu Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal, Malik bin Anas, dan Muhammad bin Idris Assyafi’i. Para Khalifah menekankan kaum muslim sunni, untuk mengikuti salah satu dari empat madzhab tersebut.

Para Khalifah tersebut mengatakan bahwa tidak ada selain dari empat ulama ini yang mampu melakukan ijtihad istimbat hukum dari Al-Qur’an maupun Hadits. Gerakan ini jelas telah menutup pintu gerbang pengetahuan dan pemahaman bagi muslim Sunni. Larangan ini dipandang sebagai biang keladi penyebab atas mandegnya ilmu pengetahuan Islam. (Keputusan menutup pintu ijtihad pada tahun 409 Hijriyah). Orang Syi’

Bersambung>>>