July 25, 2014
Home » politik » Salafy Jihadi Sebuah Motivasi Gerakan Transnasional

Salafy Jihadi Sebuah Motivasi Gerakan Transnasional

Keprihatinan Tinjauan Teologis

Bernegara tidak sesimple sebuah pesta tapi jangan dibikin rumit.

 Salafy Jihadi Sebuah Motivasi Gerakan Transnasional

Pemujaan masa lampau, keterikatan dgn ritus2 dan keinginan perubahan sosial, 3 postulat pokok tsb menjadi dasar dalm upaya utk memulihkan hubungan antara agama dgn politik, serta menjadikan negara tunduk pada wakil2 paradigma kebenaran yang abadi dan tetap. Sikap tersebut banyak mengalami bantahan dan sanggahan, hal tersebut dianggap patologik menurut pengamat masa kini.

Konsep patologik dan kenormalan harus ditanggapi secara hati-hati. Ketika kita sulit memahami campur tangan agama dalam politik, itu bukan berarti kita telah mencapai ide yang tepat tentang agama dan politik, tetapi jangan juga lantas mengadopsi pemikiran2 sekuler,. Yang perlu menjadi catatan disini -diluar batasan yang dituntut para fundamentalis- adalah penemuan kembali Islam sebagai dasar nilai-nilai sosial, sebagai dasar solidaritas dan etika dasar yang tanpa itu semua tidak akan ada satupun komunitas terwujud, singkatnya, tanpa itu tidak akan masuk akal masyarakat islami dapat terbentuk. Maka karena tujuannya adalah membangun kembali konsep politik itu sendiri, semestinya tidak mengabaikan bahwa “negara harus disandarkan pada nilai-nilai yang diakui dan diadopsi oleh masyarakat”. Dengan demikian tujuannya bukan menghancurkan negara agama, melainkan membangun negara itu sendiri.

Dengan demikian, persoalan ini bertumpu pada perumusan dasar dasar etik yang dengannya masyarakat dan politik dapat dibangun pada tingkatan yang sama.

Tidak ada pertentangan dengan sebuah pendekatan yang bertujuan untuk menggarap dasar dasar etik dari politik melalui agama. BAHKAN SEANDAINYA IA CENDERUNG KEARAH NEGARA DAN TERWUJUD DALAM KERANGKA AGAMA, POLITIK TETAP MERUPAKAN SEBUAH KEGIATAN SOSIAL UMUM dan KOLEKTIF YANG AKAR2NYA MENJULUR DALAM MASYARAKAT SIPIL, MENGAMBIL ILHAM DARI NILAI2NYA, KEBIASAAN2NYA DAN DARI AGAMA. Perlu digaris bawahi, politik itu muncul dari masyarakat sipil sebelum dikaitkan dengan praktik sebuah kelembagaan dan kenegaraan. Maka dapat ditegaskan bahwa Islam sebagai sumber tetap nilai2 persaudaraan dan kemanusiaan, sebagai sarana pemerkuatan diri dan promosi subjek nasional adalah sesuatu hal yang berbeda dengan penggunaan yang dilakukan gerakan2 politik teryentu untuk melakukan perebutan kekuasaan (Kudeta).

___________________________

Nash-nash Qur’aniyyah dan Al Hadits, pada umumnya mempunyai sifat-sifat “umum” dan “lentur” yang dalam batas-batas yang cukup jauh hanya menetapkan aturan-aturan dasar, dan prinsip-prinsip yang berkaitan “Al Gharadh As Syar’i Al Ishlah” (Tujuan hukum Syara’ yang berorientasi kepada kemashlahatan), tanpa banyak memasuki masalah-masalah detail yang mengikat. Demikian lenturnya, sehingga seringkali menimbulkan dilema termasuk dalam hal munculnya berbagai gagasan pemikiran dan pemahaman tentang Islam yang tidak hanya berbeda, tetapi juga bisa bertolak belakang. Tidak hanya pada hubungan Islam dan pranata sosial, pertautan antara Islam dan politik-pun demikian adanya.

Di Indonesia, pada awal era reformasi sempat memberikan sebuah harapan bagi kehidupan politik Islam yang sudah dibelenggu sekian lama oleh “ORBA”, apalagi disusul dengan lahirnya beberapa partai berazaskan Islam. Namun dalam perjalanan berikutnya, harapan tersebut makin lama semakin kabur, dan cita-cita reformasi kandas dengan sendirinya akibat ulah para elit politik yang tidak lagi memperhatikan norma-norma dan etika dalam aktifitas politiknya sehingga formalisme Islam justru menjadi bumerang terhadap prinsip dasar berpolitik yang diajarkan Islam.

Kalaulah para elit politik Muslim memiliki komitmen dan integritas moral yang tinggi, tentunya sedikit banyak mereka telah berkontribusi positif bagi kehidupan demokrasi di Indonesia yang notabenenya mayoritas muslim. Sayangnya, hingga saat ini hal tersebut belum terwujud dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, sehingga melahirkan “Imej” negatif terhadap eksistensi politik Islam yang ada, yang seharusnya memiliki misi dan tujuan penegakan “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”.

Inilah sebuah kekecewaan yang pernah dialami Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy sehingga mengharamkan Demokrasi..

Celakanya, kekecewaan tersebut dijadikan peluang bagi sebagian “oknum” untuk melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan Agama. Peristiwa pengeboman/bom bunuh diri, terjadi dibeberapa tempat di Indonesia, dengan mengatasnamakan Jihad Fi Sabilillah. Tentunya hal ini menjadi malapetaka besar bagi Agama Islam dan Ummatnya. Karena Citra Islam yang menjunjung tinggi perdamaian dan sangat anti kekerasan ternodai oleh aksi tersebut yang sangat menyayat hati dan melukai kemanusiaan.

Islam memang mengajarkan Jihad, yakni berperang melawan musuh-musuh Islam yang secara nyata melakukan penyerangan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Tidak ada larangan untuk berbuat baik dan berlaku Adil kepada pihak-pihak yang tidak memerangi Islam. Sebagaimana firman Allah :

لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Bagi para pelaku terorisme, agama dipahami dengan kacamata kuda, indoktrinasi. Tak ada kebenaran selain yang ia dan kelompoknya pahami. Ini adalah kepicikan pandangan, khususnya tentang jihad dan tauhid hakimiyah. Inilah sebuah doktrin yang menegaskan bahwa, kedaulatan politik dimuka bumi ini sepenuhnya berada di tangan Allah. Doktrin yang terus bermetamorfosa di negeri-negeri Timur Tengah ini secara diametral jelas bertentangan dengan konsep Demokrasi. Untuk mewujudkan kedaulatan politik milik Allah di muka bumi, secara instan Allah sudah memberi konsep yang tepat berupa :

Syariat Islam. Jadi menerapkan hukum Allah merupakan keniscayaan. Siapa saja yang menghalang-halangi, maka wajib diperangi alias jihad. Bom bunuh diri tak terpisahkan dari Jihad jalan menuju mati syahid dengan jaminan Syurga dan Bidadari.

 

Apakah sesederhana itukah konsep menggapai surga..?? Sebagaimana yang dipahami oleh kelompok garis keras, -salafy Jihadi-.

(Salafy Jihadi adalah kelompok garis keras sempalan wahabi di Arab Saudi, kini menyebar ke berbagai negeri. Termasuk di Indonesia, yang telah dipraktekkan oleh Achmad Yosefa Hayat dkk. (Pelaku bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Solo Jawa Tengah).

Apakah konsep Jihad se-praktis dan se-pragmatis seperti yang dipahami kelompok tersebut. Berbagai literatur fiqh tentang konsepsi jihad yang merupakan turunan Al Qur’an dan Al Hadits yang Shohih tak dipahami sepotong-sepotong seperti doktrin salafy jihadi tersebut. Bahkan doktrin yang menghalalkan darah setiap orang yang tidak sepaham dengan dirinya ini telah ditolak dari negeri asalnya : Arab Saudi.

Bin Baz berkali-kali mengeluarkan bantahan terhadap kelompok salafy jihadi, yang isii doktrinnya antara lain adalah, mengkafirkan penguasa muslim yang tak sepenuhnya menjalankan syariat Islam. Dalam pandangan Wahaby ini, tak semua orang yang tidak menjalankan hukum Islam dihukumi murtad. Tergantung keadaan di negeri dimana orang tersebut berada, serta seperti apa niat orang tersebut untuk menegakkan syariat. Salah satu fatwa bin Baz adalah “Jika ada penguasa yang tidak menerapkan Syariat Islam tetapi dalam hatinya masih meyakini bahwa syariat Islam masih lebih baik dari pada hukum buatan manusia, maka penguasa tersebut dihukumkan seabagai orang pendosa, dan tidak menyebabkan ia keluar dari Islam (Murtad).”

Senada dengan Salafy Jihadi, di Cirebon muncul kelompok yang menamakan dirinya Ashhabul Kahfi. Mereka tentu tak salah ketika berpandangan bahwa Dunia Islam terbagi menjadi 3 ; Darul Islam, Darul Harbi dan Darul ‘Ahdi. Ajaran Islam memang mengakui pembagian demikian. Namun mereka salah ketika memahami bahwa negeri tercinta ini (INDONESIA) adalah Darul Harbi dengan dengan alasan hukum Islam belum dilaksanakan sepenuhnya. Menurut Yusuf Qardhawi, hari ini hanya I-s-r-e-l satu-satunya negara di Dunia yang termasuk Darul harbi.

Lagi-lagi dengan rasa kekecewaan terhadap kehidupan politik di Indonesia, era reformasi hanya isapan jempol, birokrasi yang makin ruwet. Munculah slogan “Selamatkan Indonesia dengan Syariah” (HTI-), “Penegakan Syariah melalui institusi negara adalah satu-satunya jalan mengatasi kemelut bangsa” (MMI). “Islam adalah Solusi” (PKS). Yang menjadi obsesii kelompok garis keras.

Ditambah lagi dengan Korupsi yang makin marak. Tidak ada jaminan kepastian hukum, proses peradilan yang tidak independen dan masih ditunggangi oleh kepentingan. Juga merupakan peluang kepada kelompok garis keras untuk menawarkan alternatif hukum, walau sejatinya permasalahannya bukan pada diktum hukumnya akan tetapi kepada aparat hukumnya.

Semua Muslim mengakui bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dan harus menjadi referensi dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Syari’ah pun sudah menjadi bagian yang itegral dalam kehidupan umat Islam di Indonesia berabad-abad lalu sejak masuknya Islam ke Nusantara. Jadi- slogan-slogan di atas yang diteriakkan oleh kelompok garis keras, adalah mengada-ada, seolah-olah umat Islam ini tidak pernah menjalankan syariat agamanya.

Terkecuali jika yang mereka maksud adalah Fiqh, yang diterapak dinegara-negara Islam lain, seperti Arab Saudi dengan wahabinya, Afganistan dg Talibannya, dan lain-lain. Jika ini yang dimaksud maka masuk akal kalau muncul tuntutan-tuntutan seperti slogan di atas, karena jenis Fiqh yang mereka yakini memang keras dan kaku serta menuntut penegakan secara keras pula sebagai akibat dari sentralistik yang mereka adopsi.

Bagi kelompok yang berslogan, -Khilafah harga mati- sebenarnya tidak memiliki kejelasan tentang idealnya sebuah negara, yang secara utuh mengaitkan Islam dengan kehidupan politik. Sering kali mereka merujuk kepada negara Madinah sebagai contoh yang par excellence. Tak dapat disangkal lagi keraguan akan muncul setelah melihat bahwa Negara Madinah adalah negara yang dipimpin oleh seorang Nabi yang langsung dibimbing oleh Allah. Dalam konteks ini, Muhammad SAW tidak semata seorang negarawan, yang mampu merumuskan dasar pijak bersama antara umat Islam dan non Islam termasuk Yahudi di dalam komunitas Madinah. Tapi Beliau memiliki posisi khusus yang tak mungkin tergantikan oleh siapa-pun, yaitu sebagai utusan Allah.

Singkatnya, diakibatkan kekecewaan terhadap politik di Indonesia, telah membuka rongga besar terhadap masuknya kembali aliran-aliran garis keras/trannasional yang secara nyata mengganggu kehidupan berwarganegara di Indonesia, tidak hanya dalam politik, keberlangsungan kehidupan Islam dalam perspektif sosiokultural –pun turut terancam.

Beberapa ancaman yang menghantui masyarakat Indonesia yaang diakibatkan pemahaman sempit dan pragmatis, tidak hanya aksi bom bunuh diri, bahkan sempat kita dikejutkan dengan tragedi dan praktek-praktek kejahatan lain yang mengatasnamakan agama. Kejahatan berupa perampokan bank dan toko emas. Dan lagi-lagi mereka menganggap perbuatan tersebut dalam rangka pengamalan ajaran Islam yakni Fa’i. Konon perampokan itu dilakukan dalam rangka mencari dana guna mendukung aksi-aksi jihad mereka. Dan mereka beranggapan bahwa sistem pemerintahan Negara Indonesia adalah Thagut, sehingga aset-aset para penduduknya adalah halal untuk mereka curi dan mereka rampok.

Apakah Negara yang kita cintai ini adalah Thagut, dan sistem demokrasinya adalah thaghut beserta para penguasanya dan kita termasuk ansharut Thaghut..?? (Wal’Iyadzubillah)

Allah ta’ala berfirman :

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus” [QS. Al-Baqarah : 256].

Ayat tersebut diatas menggambarkan tentang konsep Hurriyyah; berakar dari konsep inilah manusia memiliki kemerdekaan dalam profesi, kewarganegaraan (wilayah hidup), bahkan agama-pun tidak ada pemaksaan. Dalam Q.S Yunus : 99 Allah menyatakan :

ولو شاء ربك لآمن من في الأرض كلهم جميعا أفأنت تكره الناس حتى يكونوا مؤمنين

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Masalahnya saat ini, yang sering ditemukan adalah kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, dan lain-lain yang memaksa agama untuk menjustifikasi kepentingan tersebut. Sehingga Islam hilang wajah aslinya, yang tampil adalah wajah kepentingan-kepentingan tersebut.

Karena adanya pembiasan dan pragmatisasi (anti taklid) dalam memahami realitas kebenaran, maka kelompok-kelompok transnasional/ekstremes sering memandang Islam seperti apa yang dilakukan oleh sementara umatnya, pada waktu dan tempat tertentu. Mungkin mereka melihat Islam identik dengan Iran, Iraq atau Arab Saudi.

Kelompok garis keras acap kali menggunakan ayat ini dan ayat-ayat yang senada untuk mengklaim orang-orang tertentu sebagai thagut. Dan anggapan mereka semua hal yang dikatakan thaghut adalah kafir. Jika penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka diklaim sebagai Thaghut dan Thaghut berstatus kafir.

Bersambung…

2 comments

  1. Mbah di dunia ini cuma ada dua kelompok :
    1 Kelompok Pro THAGUT ( dan begundalnya )
    2. Kelompok Anti Tahgut dan begundalnya.

    Si mbah di kelompok mana ? ngga usah buat tulisan jelimet jelimet .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>