Home Wacana OBROLAN TENTANG PENDIDIKAN & NATIVE DIGITAL

OBROLAN TENTANG PENDIDIKAN & NATIVE DIGITAL

ini tentang obrolan santai. Tentang pendidikan. Meski tak ada kesimpulan definitif, yang penting adalah prosesnya. Berbincang santai dengan agak serius adalah cara yang baik untuk sharing informasi dan opini. Awalnya dari artikel tentang pendidikan bagi “digital native” atau anak-anak yang lahir dan besar di era internet. Dengan sedikit pengantar dari saya, maka dimulailah bincangbincang ala talkshow di tivi.

Triwibs Kanyut

aku pernah beberapa kali berbincang — kadang berdebat soal pendidikan konvensional. sesudah bertahuntahun bekerja di bidang buku pendidikan tinggi dan sekolah, serta mengamati beberapa “produk” lulusan pendidikan umum dan tidak umum, aku sepakat dengan John Dewey ini: “If we teach our children as we did yesterday, we rob them of the future.” dan kutipan dari artikel ini sangat relevan: “Siswa dan siswi kita sekarang tumbuh dalam dunia pertumbuhan dunia digital yang sangat cepat. Ada yang mengatakan perbandingannya 1:7 artinya satu tahun didunia nyata sama dengan 7 tahun di dunia digital. Sebuah percepatan yang luar biasa. Apa mau dikata siswa dan siswi kita berpikir dan berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan kita. Mereka adalah pemilik dan penduduk asli dunia digital.” –

persoalan utama kita sekarang bukan soal apa materinya, tetapi bagaimana metode pendidikannya, atau, seperti apa teknologi pendidikan yang mesti disusun bagi generasi “digital native,” agar anakanak kita tidak terusmenerus menjadi konsumen atau hanya menjadi sekadar pelengkap penderita yang seharihari menghibur diri dengan mengklaim diri sebagai benteng moral. tetapi, anakanak kita adalah anakanak zaman, dan didiklah mereka sesuai zamannya, kata sayyidina Ali.

 

    • digital wahabi ono pora?

    •  uakeeh gus

     

    • lha kuwi. hasut menghasut neng web kuwi yo kitng cyber crime jan2e kok.

    • Triwibs Kanyut gus Adib Machrus: digital hasud saiki sing paling menonjol voa-islam, ar-rohmah. nek mbiyen eramuslim. tp era muslim wis rodo sudo atose, sanajan isih wahabi minded. voa-islam & ar-rohmah saiki sangat aktif di majalah digital, jejaring dan blog (twitter, fb, multiply, kompasiana). kayane mereka sudah menyadari kebenaran tesis free culture: apa yg terjadi di dunia maya akan berdampak langsung pada dunia nyata. dgn dana entah dari mana, mereka memlih modifikasi strategi desa mengepung kota — maya mengepung nyata.

      14 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut sebagaimana snock hurgrounye, model voa-islam adalah menggunakan agama untuk kepentingan politik. caranya saja yg beda, disesuaikan dengan zaman digital. perang paling sengit sebenarnya justru di twitter, sebab dari sana cepat sekali muncul gerakan di dunia riil, karena mobilisasi dan penggandaan isu lebih cepat via twitter.

      14 hours ago · 
    • Adib Machrus bom balasan kuwi kudu tepat sasaran mbah. langsung ke ulu hati. nek ora, bakal kedowo2, blarah ngendi2

      14 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut ketika kelompok gusdurian dan individu tertentu memobilisasi gerakan indonesia tanpa fpi, dalam hitungan hari sudah muncul aksi. pada saat yg sama, kelompok lawan, juga menggulirkan indonesia tanpa jil, dan muncul aksi tandingan. kadang perang opini di twitter diperbesar oleh fakta mode twitter lbh efisien krn kaum urban perkotaan pengguna hp android lebih suka format twitter yg ringkas dan cepat dalam menyebarkan isu

      14 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut kini gerakan budaya dan politik di twitter dan fb sudah lazim. untuk kecepatan info, twitter lbh unggul karena pelaku atau saksi mata suatu kejadian bisa lsng ngetwit dan segera diretwit sehingga bisa lekas membentuk opini.kasus fpi kalteng dan pontianak adalah contoh. ketika fpi bentrok dgn mahasiswa, laporannya real time di twitter, dan lsng dsiertai fotofoto. ini ada bagusnya, karena setiap gerakan yg cinta damai akan lekas mengcounter setiap info yg salah atau boong yg disebarkan gerakan provokator.

      14 hours ago · 
    • Adib Machrus kuwi sing tak maksud. sasaran tembak sering keliru. sopo wae nek didiskreditkan eksistensine mesthi bakal ngamuk lan gawe tandingan. akhire kedowo2 dadi ora efektif. ora langsung substansine.

      14 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut karena kuatnya pengaruh jejaring sosial twitter dan fb terhadap isu di dunia nuyata, maka bahkan orangorang semacam anas, tifatul, sby, pramono anung, dan banyak tokoh dan kelompok think-thank memiliki akun jejaring sosial untuk menyebarkan benih gagasan. kini pembentukan opini bisa terjadi dalam hitungan jam. tetapi, ada kelemahannya, jika kekuatan opini tidak cukup besar, ia akan cepat dilupakan, krn isu terusmeerus mengalir di jejaring sosial.

      14 hours ago · 
    • Adib Machrus untung aku ora aktif ngetwit. wkwkwk

      14 hours ago · 
    • Mawan Agung Satriawan ini lagi chat via kumen hehee…

      14 hours ago · 
    • Ahmad Kasyful Anwar pertanyaannya kembali lagi..apa pola pendidikan yang ada sekarang sudha memadai untuk menjadikan anak2 kita sebagai penguasa digital?

      14 hours ago · 
    • Adib Machrus nah, setelah sedari tadi sibuk mengidentifikasi masalah, sudah mulai muncul rumusan masalah.

      14 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut dalam internet generasi kedua ini, semua aspek pendidikan dannisu-isu sosial akan berkembang dalam deret hitung. maka, model pembelajaran berbasis multimedia makin lazim. beberapa sekolah modern yg punya kelebihan dana telah menerapkannya. siswa tak lagi “menyusu” atau diceramahi di depan kelas selama berjamjam. bagi sebagian pihak, siswa sudah punya gudang ilmu pengetahuan. maka tugas pendidik dalam hal ini adalah mengarahkan dan menyiapkan jalurjalur media internet yang bisa dilalui siswa untuk mengembangkan potensi kognitifnya. ini penting, karena nyaris seluruh informasi terkini ada di ujung jari kita. tanpa ketrampilan dan penguasaan teknologi pendidikan yang tepat, siswa mudah tersesat di rimba internet dan menjumpai halhal yang justru membahayakan moral dan intelektual;

      14 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut dengan mengingat kemajuan teknologi itu bersifat akseleratif, yakni maju dengan kecepatan deret hitung, maka para ahli memperkirakan tak sampai dua dekade ke depan evolusi teknologi pendidikan akan berubah banyak. generasi native digital (yg lahir di akhir 90-an dan awal 2000-an) adalah pengguna utama metode pendidikan yang baru. beberapa negara telah merancang sistem pendidikan berbasis jejaring. untuk kasus indonesia, jika backbone lokal sudah terpasang, diperkirakan biaya internet akan lebih murah, dan kecepatan akses jauh lebih cvepat. maka pakar memperingatkan, anakanak kita dua dekade lagi mungkin sudah jauh beda dalam pemikiran dan “gaya bahasanya.”

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut pada posisi semacam ini, akan sulit bagi kita untk membentengi diri dari pengaruh eksternal. akan tejadi banyak kejumbuhan, penyusupan, dan intervensi. misalnya, dalam kasus sunni-syiah, gagasan syiah akan dengan mudah menyusup ke dalam kurikulum, apalagi ketika indonesia memasuki pasar bebas secara penuh, dimana pihak asing berksempatan berperan dalam bisnis industri pendidikan. maka anakanak kita akan hidup dalam situasi yang penuh dengan tawaran pemikiran, ideologi dan pengetahuan.

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut mau tidak mau, siap tidak siap, kita yang sudah generasi jadul kelak akan berhadapan dengan anakanak muda kelahiran 2000-an yang tumbuh dalam tata-situasi dan paradigma yang mungkin membuat kita terkagetkaget apabila kita tidak mengikuti perkembangan zaman.

      13 hours ago · 
    • Ahmad Kasyful Anwar maka tugas para pendidik menjadi semakin kompleks. Bukan hanya mengajarkan anak apa yang dimaksud dengan moral tapi juga sekaligus cara menerapkan pesan-pesan ajaran moral tersebut dalam dunia digital yang hampir tak berbatas hukum. Ditambah lagi para pendidik harus membekali para muridnya kemampuan untuk menggnakan dan memanfaatkan dunia digital sebagai sumber informasi, bahkan jika mungkin sebagai sumber penghasilan mereka.

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut wis ah.. wkwkwkw. komentar dowodowo dalam rangka ngilangi bosen nerjemah..qiqiqiqiq

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut dari sini jelas, bahwa internet adalah bagian seharihari generasi masa depan. beberapa pakar ygpernah saya baca tulisannya mengatakan, pendidikan masa depan berbasis teknologi adalah tulang punggung. sebagian kritisi melihat bahwa aspek pendidikan moral sudah tak bisa lagi dipisahkan dari pendidikan kognitif. mempertahankan moral tak cukip hanya menitup diri di tembok sekolah, tetapi dengan learning by doing, sebab metode pengawasan zaman dulu sudah sulit diterapkan. mengingat anakanak bisa mengakses apa saja dari mana saja cukup dgn hp/laptop. itu berarti sudah ada kebutuhan untuk merombak “cara mengajar” dan “teknologi pendidikan” untuk semua level pendidikan, dari sd umum, pesantren, akademi, universitas bahkan ke pendidikan luar sekolah/informal.

      13 hours ago · 
    • Adib Machrus pak guluu… mau pipis, boleeeh…?

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut pemikiran semacam ini mungkin bisa dijadikan pertimbangan: “Sekolah abad 21 harus menyediakan suatu lingkungan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan sikap ingin tahunya, mengajarkan ketrampilan-ketrampilan yang bermanfaat untuk kehidupan siswa di masa depan dan memungkinkan mereka untuk mempraktekan kemampuan untuk bekerja secara kolaboratif di dalam tim untuk mencari tahu, memecahkan masalah, membuat dan mengkomunikasikan hasil pekerjaan mereka melalui wadah dan bentuk yang paling sesuai dengan kondisi dan kapasitas anak abad 21 yang digital-based. Dalam hal ini secara tidak langsung peran guru pun beralih dari menjadi sumber informasi tunggal ke pendamping atau mentor bagi para siswa.”

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut gus Adib Machrus: demikian prasaran dari pemateri pertama. selanjutnya kami beri kesempatan untuk memberikan kritik dan kecaman agar terbuka perspektif baru ..waaaaaaaaaaaaaaaaaaakakakakakaka… timbang nganggurr.

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut sik ahli paud kudu diundang: mbak Dian Septiany. silahkan memaparkan makalahnya..wkwkwkw

      13 hours ago · 
    • Adib Machrus bener juga…apa yang menjadi keterampilan kita saat ini–yang dikuasai setelah berumur, bahkan mungkin beruban–akan menjadi keterampilan standar anak2 abad 21 nanti. demikian pula, apa yang menjadi model dan metode pembelajaran bagi orang dewasa (andagrogi, wkwkwk) akan menjadi metode pencdekatan bagi anak2, setidaknya, sekolah menengah pertama.

      13 hours ago ·  ·  1
    • Adib Machrus semua itu sangat mungkin ketika metode sudah demikian mapan dan generik.

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut nah, siapa yang akan memapankannya? bisakah, misalnya, dari lingkungan pesantren NU, selain menjaga benteng tradisi, ada yg bergerak untuk memulai memikirkan teknbologi pendidikan pesantren yg lebih up-to-date, mengignat bahwa tidak semua santri akan men jadi kyai. santri2 yg mungkin kelak terjun lsng dalam kehidupan nyata diluar bidang agama mungkin perlu dipikirkan. jika pesantren mampu menciptakan sistem sendiri yg khas, dan sesuai dengan perkembangan, boleh jadi akan lahir generasi baru santri. jika dulu mbah Hasyim Asyari dkk menciptakan sistem yang sesuai untuk zaman itu, apakah dimungkinkan jika abad 21 (setidaknya pasca 2010) pesantren memikirkan teknologi baru untuk anak didiknya. bagaimana ini gus Adib Machrus?

      13 hours ago · 
    • Adib Machrus aku pikir (we’eh), sepertinya sekarang sedang on going. di lingkungan kerja saja, sop sudah mulai diterapkan atau minimal diperkenalkan. artinya, era keteraturan dan terstandar sudah siap2 di depan mata. siapa yang tidak bisa mengikuti akan tertinggal begitu saja. dunia pendidikan juga demikian, bahkan lebih dahulu. untuk anak2, saya melihat beban pelajaran dan tingkat kesulitannya pun sudah berbeda jauh dengan masa saya dulu. kali ini, mereka, anak2, sudah diiharuskan menjelajah nternet untuk tugas2 teertentu. nah, bagi orangtua yang tidak menyediakan akses internet di rumahnya, tentu ada saat di maman anak mereka “lepas pengawasan” orangtua.

      13 hours ago · 
    • Ahmad Kasyful Anwar Di dunia barat, langkah pengembangan teknologi pendidikan mereka bukan hanya menekankan sisi moral pada diri anak tapi juga sudah merambah kepada penggalian kreativitas diri sesuai dengan peminatan dan bakat masing. Mereka menyadari dalam dunia digital ini, tidak ada yan dapat bekerja sendiri. Semua akan saling tergantung pada kreativitas orang lain. Bayangkan seorang programer yang biasanya berpikir linear akan kesulitan jika diminta untuk membuat program yang indah. Sebaliknya seorang desainer web akan kelabakan ketika sistem pemorgramannya diminta untuk yang efisein. Pendidikan usia dini yang terus menjadi sorotan di barat bahkan sudah memberikan perhatian penuh kepada cara emberikan intervensi dini kepada mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, menjadikan mereka yang marjinal sebagai lumbung sumbe daya manusia baru. COntoh program ini Head Star, Hiscope dan lain sebagainya.Indonesia juga sudah memulai penggaraan backbone internet dengan kode palapa ring pada 2007 lalu dan ditargetkan selesai pada 2014. Saat ini hanya tinggal maluku-manado-papua saja yang belum terhubung. Dengan adanya kanal supercepat seperti ini maka lalu lintas internet di indonesia diharapkan berlipat dari sebelumnya. Efek negatifnya adalah arus informasi juga semakin deras menyirami layar monitor dan hp yang mungkin dibawa anak-anak kita.

      13 hours ago ·  ·  2
    • Triwibs Kanyut gus Adib Machrus: bagiku, bukan mustahil pesantren melakukan sesuatu di idang pendidikan. ada banyak santri yang tetap kuat tradisi tapi juga kuat ketika berhadapan dengan situasi lain dan tetap sukses. maaf jika aku sebut inisial “gam” sbg salah satu contoh. gam ini boleh dikata, miturut tafsiranku, mewakili sesuatu periode barzakh, satu kaki di tradisi satu kaki di pemikiran yg lebih umum. persoalannya adalah bagaimana meleburkan dua hal ini dalam satu wilayah. jika generasi mbah hasyim, mbah wahab dkk bisa menyatukan kekuatan tradisi, sosial dan politik pada era 1940-an sampai setidaknya akhir 1970-an, maka selalu ada kemungkinan generasi santri era 2000-an ke depan mampu melahirkan gaya yg sesuai zaman. tetapi itu tentunya harus dimulai dari sekarang.

      13 hours ago · 
    • Dian Septiany maaf…. barusan salah kamar lagi….. hiksss

      13 hours ago · 
    • Dian Septiany setuju mengenai mendidik anak sesuai dengan zamannya….. bukan sesuai dengan keinginan ortunya, ortu hanya memfasilitasi bukan memaksakan loch…. dan berdasarkan hasil pebnelitan usia golden age adal 0 sd. 8 th mrp utk perkembangan daya kreatifikas dan perkembangan otak sampai 80%

      13 hours ago ·  ·  1
    • Adib Machrus wkwkwkwk

      13 hours ago · 
    • Dian Septiany Dian Septiany makasudnya kreatifitaas optimal dan perkembangan otak anak adalah 0 s.d 8 th, pada usia tsb tugas ortu adalah bagaiman membuat anaknya sehat, ceria dan cerdas…..
      cerdas yg dimaksud bukan dinilai dari CALISTUNGnya, tp lebih dari kreatifitas si anak, dan skr sdg disusun kurikulum yg agar bagaimana bisa mengajari anak CALISTUNG tanpa disadarinya….. artinya tanpa paksaan…. tentunnya dengan cara yg menyenangkan…. krn pada umumnya anak2 suka sekali dengan bermain, maka sarana yg dibuat adl BERMAIN…. nah dalam bermain itulah baru dikenalkan angka2 dan huruf serta pengetahuan lainnya….

      13 hours ago ·  ·  1
    • Triwibs Kanyut syukurlah mbak Dian Septiany sudah hadirr..jadi kita bisa bicara pada skala mikro dan pragmatis.

      13 hours ago · 
    • Adib Machrus jadi teertarik belajar TEKNOLOGI PENDIDIKAN

      13 hours ago · 
    • Dian Septiany dimulai dari mana Kang….? krn masalah pendidikan AUD luas… menyangkut gizi, pola asuh, smp pola didik

      13 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut mbak Dian, aku disini sedang bicara pada pola didik. terutama menyangkut pada ranah kognitif dan emosional.

      13 hours ago ·  ·  1
    • Kang Sadewo ‎”gam” iku sinten mbah? muktamar sok mben dicalonke ketua tanfidz pbnu mathuk ra?

      13 hours ago via mobile ·  ·  1
    • Adib Machrus wasem… Kang Sadewo ojo mbahas kuwi maneeeeeeehhhh….

      13 hours ago · 
    • Dian Septiany Perkembangan konitif sosio emosi setiap anak tidak sama Kang, krn dipengaruhi oleh byk faktor, hanya saja setiap ortu pasti ingin bgm anaknya bisa tumbuh optimal…. secara fisik maupun psikis

      13 hours ago · 
    • Ahmad Kasyful Anwar naaah kalo ada praktisi, mungkin bisa dipaparkan kondisi pendidikan anak usia dini sekarang, baik yang berkembang secara umum di inodnesia maupun yang berkembang di kalangan Islam. Sejauh yang saya tau sampai sekarang DIKNAS sebagai pemegang otoritas masih gamang dalam menentukan arah PAUD. Kecenderungan pada level akademis adalah penerapan DEvelopmentally Appropriate Curriculum dan berupaya menerapkan tekologi PAUD minim resource untuk kalangan kurang mampu.

      13 hours ago · 
    • Adib Machrus ini yang mana dulu? pesantren apa paud?

      13 hours ago ·  ·  1
    • Triwibs Kanyut mengapa aku tertarik pada ranah kognitif (intelektual) dan emosional (kecerdasan emosional) adalah dua hal ini penting. spiritualitas semata tanpa topangan manusiamanusia yg punya kapasitas IQ dan EQ yang memadai tidak akan cukup efektif untuk mengubah tatasituasi. kita tak perlu membicarakan secara detail, krn itu nanti sdh masuk wilayah teknis dan itu butuh ahlinya. yg ingin kuketahui adalah apakah model pendidikan berbasis digital dan dengan pendampingan ini bisa juga diaplikasikan, atau diintervensikan, ke kelompok marjinal.

      13 hours ago · 
    • Dian Septiany nach….. bgm caranya singkatnya mendidik anak agar bisa tumbuh optimal….? jujur saya akui memang tidak mudah menjalaninya…. aku punya banyak buku pedoman paud, tp tetap saja tidak mudah diterapkan pd anak2ku hehehehe……

      13 hours ago · 
    • Dian Septiany teori tidak semudah prakteknya…. hehehe….. tp kalau Mbah Triwibs Kanyut, mau teorinya bisa aku kasih…..mulai dari rentang usia 0 – 2th, 3-4 th, 5-6th…….

      13 hours ago · 
    • Adib Machrus kalau pertanyaannya sekadar itu, jawabnya pasti BISA, mbahnyut. persoalannya bukan bisa atau tidak bisa, tapi MAU atau TIDAK MAU, megingat program ini lebih banyak pengabdiannya ketimbang “bekkerja”nya

      12 hours ago ·  ·  1
    • Ahmad Kasyful Anwar

      Harusnya bisa…bukan hanya teori yang berbicara tapi sudah fakta. Di italai kalo nga salahada program intervensi anak usia dini yang digagas oleh seorang pastur. Di amrik program Head Star dan Hiscope masih berlangsung sampai sekarang dan dikukung oleh buktu kuat bahwa anak yang mendapatkan intervensi dini pada masa usia dini memiliki kemungkinan untuk bertahan bersekolah sampai tamat SMU dan menjadi anggota masyarakat yang lebih sukses ketika dewasa. Kuncinya di Amerika dan Eropa ada yang mempelopori dan perhatian pemeirntah terhadap masalah ini. DI Eropa malah dukungan terhadap program tersebut baru datang belakangan setelah sukses.
      12 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut bentar. ngurusi anak disik. wkwkwkwkw

      12 hours ago ·  ·  1
    • Dian Septiany Mbah Triwibs Kanyut AUD (Anak Usia Dini) jgn diajari dunia maya dulu yach…… bahaya….. “tidak didunia maya saja, mrk sudah spt didunia maya kok”, nanti kalau masih dini dah diaari berselancar didunia maya, bisa2 si anak biungung, mana dunia yg sesungguhnya harus dijalani……… Qqqqqqqqqq…..

      12 hours ago ·  ·  1
    • Adib Machrus

      memang banyak yang harus dikembangkan dan akan terus demikian. apa itu sistem, metode, teknologi, peraga, standar pendidikan, dsb. dapat berkembang kalau semua memiliki semangat pengabdian. contohnya: IKHLAS BERAMAL. meskipun terkesan main2, tapi tanpa itu, semua hanya sekadar melaksanakan beban tugas. setelah itu, selesai. padahal yang dibutuhkan peserta didik tak hanya itu. mengapa keluaran pendiidikan dulu lebih terorientasi kepada “pendidikan” bukan hanya “pengajaran”? jawabnya tak lain, ya itu tadi. ada semangat untuk benar2 mencerdaskan dan membimbing peserta didik. mungin ini memang ranah tugasku: memotivasi. jadi, aku lebih menyoroti subjek didiknya.
      12 hours ago ·  ·  1
    • Ahmad Kasyful Anwar Makanya Gus Adib Machrus…saya rasa dalam hal ini pesantren punya peluang besar untuk berbuat karena urusan pengabdian terhadap umat memang sudah ranah mereka. Hanya saja, sinergi ini harus diwujudkan dalam langkah yang lebih terorganisir dan sistematis sehingga pesantren bisa menjadi agen perubahan bukan hanya pada level SMP-SMU dna pasca SMU tapi dari mulai Pra-TK.

      12 hours ago ·  ·  1
    • Dian Septiany

      salah satu narasumber pakar paud yg pernah kami undang dlm workshop pernah mengutarakan: pola asuh yg katanya dia adop dari hadist, namun saya tidak tau kebenaran atau keshahihannya, tapi disini saya tidak ingin memperdebatkan keshahihkan dari hadist tsb, melainnya dair pola asuh yg menurut saya adl sangat baik: yaitu….. pada usia 0 – 7 th –> jadikan anak2 kita RAJA, (tidak boleh dimarahi, diberi makanan yg bergizi, ajak main bersama atau menyenangkannya) tahap ke 2 rentang usia 8 – 15 th –> jadinya anak PRAJURIT, mulai menerapkan disiplin2 ilmu dan masa2 ini adal masa yg ketat pengawasan, ortu harus sigap mengawasi dan si anak sudah mulai diberi tugas dantanggungjawab, terutama keajiban menjalankan syaretat, tugas anak adl belajar, belajar dan belajar, waktu bermain mulai dikurangi. 16 – 23< (dewasa) –> jadinya anak kita TEMAN, ortu hanya memberi saran layaknya seorang teman…. biarkan si anak yg memilih, menetukan jalan hidupnya…..
      12 hours ago ·  ·  2
    • Adib Machrus sepertinya itu saran dari Imam Ghozalie.

      12 hours ago · 
    • Dian Septiany krn pada tahap terakhir,,,, tugas ortu sudah hampir selesai,,,, karena bisa jadi ortu tidak lebih TAU daripada si ANAK, bisa jadi si anak memang jauh lebih pintar dari ortunya…. hehehe….. krn itu disarankan kita menganggap anak dewasa kita sebagai teman……

      12 hours ago ·  ·  1
    • Dian Septiany bukannya sebaliknya menjadi ortu yg selalu ingin di HORMATI dan di TURUTI perintahnya…… semua ada masanya hehehehe……

      12 hours ago ·  ·  1
    • Adib Machrus aku sedari tadi mencoba merangkai beberapa tema yang berkembang dalam diskusi ini ke dalam satu bahasan tunggal. kuperoleh: MEMPERSIAPKAN TENAGA PENDIDIK YANG “MURABBY”

      12 hours ago ·  ·  1
    • Triwibs Kanyut

      mbak Dian Septiany, soal teori kita semua bisa baca. tetapi saya tertarik dengan peran motivasi Gus Adib Machrus. adalah benar pada akhirnya semua kembali ke orangnya. dulu kyai benarbenar mendidik dengan ikhas beramal. tetapi apakah kita mesti menunggu dulu sampai benarbenar muncul orang ikhlas beramal? , dalam kasus pesantren, belajar dari pengalaman pasturpastur, mungkin perlu ada suatu gerakan di dalam tembok pesantren untuk mulai memikirkan pendidikan pesantren secara profesional dalam aspek yg lebih luas. jika subyek didik (dlm hal ini asatidz, kyai, pengajar atau guru) sulit 100% iklas beramal, apakah kita lantas berhenti? barangkali, ‘profesionalitas’ bisa jadi pilihan ketika paradigma ikhlas beramal sulit diwujudkan. maka jika hendak ke arah sana, perlu dibangun semacam desain teknologi pendidikan, semacam blueprint, yg bisa dipakai.
      12 hours ago · 
    • Jeng Erni’s Ikut menyimak komentare nggih ….. Soale punya anak abegeh yg lahir diperadaban digital ini, kita juga gak boleh telmi and meleng dikit ….. *bisa abis dikadalin kalo kita gak sok tahu juga*

      12 hours ago via mobile ·  ·  1
    • Adib Machrus

      pesantren tradisional memiliki keunikan tersendiri, yaitu–yang aku beri perhatian lebih–mereka tidak membangun DINDING TEBAL NAN TINGGI dengan lingkungan sekitarnya. aku yakin ini bukan tanpa sebab. juga bukan lantaran pengasuhnya adalahseorang kiyai yang mendapat predikat itu dari masyarakat. yang aku yakini, justru ini sebuah metode pendidikan agar peserta didik selalu UPDATE informasi kekinian tentang perkembangan DUNIA LUAR, masyarakat. berbeda dengan pola pendidikan sekarang. sejak diterapkanya NKK/BKK pada masa Daud Yoesoef, pendidikan kampus “diasingkan” dari kehidupan riil. memang, kebijakan tu didorong oleh tingginya intensitas aktifitas mahasiswa di ranah politik waktu itu. bilamana itu tidak dikendalikan, akan mengancam eksistensi penguasa. akan tetapi, rupanya pola demikian diterapkan hampir di segala tingkat pendidkan. maka, sekarang ini jamak kita temui, lembaga pendidikan membangun permbatas yang tegas antara kependidikannya dengan dunia yang mengitari institusinya. alasannya, hal ini dapat menjaga konsentrasi belajar siswa. tetapi, sebagaimana biasa, selalu ada hidden curriculum. pembatas fisik tersebut pada gilirannya merambah kepada sikap anak didik. mereka seperti mengalami alienasi dengan masyarakatnya.
      12 hours ago ·  ·  1
    • Dian Septiany benar sekali Kang Triwibs Kanyut, byk faktor yg mempengaruhinya dan menurut pengamatan saya sebagai orang awam masih byknya ponpes2 yg tidak mengikuti perkembangan zaman…. maaf, dengan kata lain kolot, krn ilmu yg diajarkan adl ilmu2 tua turun menurun dan sama sekali tidak diajarkan ilmu2 pengetahuan umum…… maaf

      12 hours ago ·  ·  1
    • Dian Septiany nek ngunu melasi santrine jeeee……

      12 hours ago ·  ·  1
    • Adib Machrus saya adalah produk pesantren yang membiarkan santrrinya “kluyuran” ke penduduk kampung

      12 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut

      itu keunggulan pesantren gus Adib Machrus. tetapi bukankah juga ada kekurangannya? semuaorang percaya pesantren bisa melahirkan manusia tangguh. tetapi diluar pesantren juga bisa. yg aku perhatikan di sini adalah soal metodologi pendidikannya, terutama pada ranah kognitif-intelektual. ini berkaitan dengan perkembangan zaman. sumberdaya pesantren yg begitu besar tetapi tidak optimal, kan sayang gus. adalah fakta bahwa gerakan pendidikan diluar pesantren yg lebh sesuai zaman cenderung lebih menguasai sektor2 penting di kemudian hari. jika ini jatuh ke tangan orang “luar” pesantren, tentu disayangkan. — kita dulu punya habibie, punya anakanak juara olimpiadde, punya sri mulyani, dan banyak lag orang cerdas yg bekerja di luar ngeri misalnya. kita tentu bertanyatanya, apakah peran pendidikan pesantren hanya berhenti pada persoalan sosial dan akhlak?
      12 hours ago · 
    • Jeng Erni’s

      Pembahasan yg serius, sampai orang2 kenthir ini berbicara dlm kamus Yus Badudu plus ngintelek sekali ….. Tambahkan sedikit humor seperti biasanya dong, biar gak pening ngebacanya mbah ……
      Penceramah dan utadz saja sering memakai bahasa gaul dan menyelipkan humor supaya ceramahnya mudah dicerna dan gak bikin ngantuk …… Pendidikan menyelipkan bhs gaul/humor oke juga kok …. Biar rid-murid itu gak pada nervous …Maap, maap, maaaap …..
      12 hours ago via mobile ·  ·  1
    • Dian Septiany Mbah Adib Machrus,,,, mrp salah satu santri yng beruntung dari sekian ribu santri lainnya….. hehehehe

      12 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut sekalikali Jeng Erni’s..wkwkwkw.. soal pendidikan anak, njenengan tanya pada mbak Dian Septiany. beliau emang disitu bidangnya, jd lebih sahih opininya.

      12 hours ago · 
    • Adib Machrus

      sekarang agaknya mereka (dunia pesantren) sudah mulai menyadarinya, mbahnyut. banyak kok, pesantren yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang ditanamkan ke dalam kurikulum pembelajaran mereka. tetapi, aku pikir bukan itu inti permasalahannya. (aku meyakini premis bahwa semua orang pasti memiliki dan berusaha memenuhi kebutuhan kekiniannya, antara lain informasi) oke. terkait dengan semangat pengabdian itu tadi. pesantren tradisional (dulu) sengaja menciptakan “ketiadaanjarak” antara dirinya dan lingkungannya. ini pointnya Mbahnyut. dari masyarakatlah para santri memperoleh informasi yang kelak akan mereka manfaatkan dan kembangkan selepas mondoknya. sejak dini mereka sadar: apa yang kelak menjadi kebutuhannya. mungkin kesadaran itu sangat tergantung dari tingkat “kewaskitaan” kiyainya. benar. namun, setidaknya, pola relasi pesantren-masyarakat demikian sangat berguna. nah, ini bisa juga diadopsi, dengan modiifikasi tertentu, untuk dunia cyber belakangan ini.
      12 hours ago ·  ·  1
    • Jeng Erni’s

      Zaman telah berubah, keingin tahuan masyarakat soal agama semakin tinggi … Tidak seperti pandangan saya dan yg lain2 dulu, bahwa masuk pesantren cuma buat orang2 desa dan anak2 yg “menghindari matematika” …Kini sekolah2 yg berbau2 islami justru laris manis, Di Kota2 besar banyak para orang tua yg berlomba2 memasukkan anaknya untuk bersekolah disana, padahal uang masuk dan biayanya lumayan mahal …..
      Pertanda pendidikan dan agama yg semakin membaikkah … ?!
      11 hours ago via mobile · 
    • Triwibs Kanyut

      gus Adib Machrus: ketiadaanjarak tentu bisa dipoertahankan sampai kapanpun. tetapi menurutku begini. masyarakat satu dekade mendatang akan mulai diisi generasi baru, yg pola pemikirannya mungkin berbeda. menghadapi kaum “baru” dengan bahasa “baru,” tentu kita tak bisa menggunakan bahasa “lama.” wawasan masyarakat masa lalu dengan masa depan tentu beda. dan wawasan itu sekrng bisa diperoleh dgn lebih leluasa. maka pengabdian santri tentunya disesuaika dengan kondisi masyrakatnya. jika masyarakat sudah sampai pada tahap native digital, sedangkan pendidikan pesantren blm sampai ke sana, atau terlambat sampai ke sana dibanding pesaing, tentu agak sulit bersaing dengan institusi lain diluar pesantren yg juga punya misi pengabdian dan membawa ideologi sendirisendiri.
      11 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut gae kopi ah… jebul wis meh jam 11

      11 hours ago · 
    • Jeng Erni’s

      Numpang iklan, sedikit pelajaran dari pak Kaji :tetangga : pak haji suka nonton tv ya?
      Pak haji : Iya terutama acara kuliner
      Tetangga : Wah itu juga acara tv favorit saya juga. kalo pak haji suka makanan apa?
      Pak haji : Saya tidak memperhatikan makanannya kok
      Tetangga : Lah terus apanya yang dilihat pak haji?
      Pak haji : Saya memperhatikan mulutnya , apakah ia baca bismillah atau ndak ketika hendak makan
      #makjlebmakjleb#
      11 hours ago via mobile · 
    • Adib Machrus

      Jeng Erni’s, saya belum melihat bahwa fenomena yang disebut itu sebagai pertanda membaiknya pendidikan agama, atau mungkin lebih tepatnya, metodologi yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan keagamaan. justru, jangan2 ini hanya tren biasa sebagaimana biasanya pula. sebab, hare gene kalau nggak nyekolahin anaknya ke pendidikan agama gak keren. tapi, ada baiknya juga. hanya saja, seperti pernah saya tulis sebelumnya, bahwa memilih lembaga pendidikan itu tidak hanya melulu soal metodologi yang diterapkan saja, tapi juga menyangkut siapa kiyainya sebab itu terkait erat dengan “falsafah” pendidikannya yang ditanamkan.
      11 hours ago ·  ·  1
    • Adib Machrus seperti anekdote sampeyan di atas. sampe segitnya meneliti kebiasaan seseorang. lalu, kalau sudah tahu, apa lantas diceramahi di tempat?

      11 hours ago ·  ·  1
    • Triwibs Kanyut sik gus Adib Machrus. angger bahasan umum ngene kok sing komen awake dewe thok yo? wkwkwkwkw… opo mergo ga ono pisuhpisuhane, ga ono dalile, ga ono wahabine?

      11 hours ago ·  ·  2
    • Adib Machrus mbarke mbah… sekali2 digawe ngene. mosok ming pisuh2an wae keahliane

      11 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut wkwkwkw.. padahal aku yo pingin ngerti pendapat calon pengasuh utowo santri sing isih bergelut ing njero pendidikan pesantren saiki. ben aku tambah ngerti..lha nek ngene, infone kanggoku seko njenengan thok gus Adib Machrus? wkwkwkwk

      11 hours ago · 
    • Jeng Erni’s

      Bisa jadi begitu juga ya Gus …. Tapi saya tidak ingin berburuk sangka, memang terlihat “mentereng” sih kalo anaknya masuk sekolah2 islam dengan biaya yg gak kalah menterengnya itu …. Entahlah soal ilmunya, apakah sebanding dengan biaya yg dikeluarkan.Buat kami orang2 awam ini, tentu sangat sulit menentukan Kyai yg mumpuni, kecuali Beliau sering tampil di Televisi, digosipindi TV atau beristrikan artis … Hehehehehe
      11 hours ago via mobile ·  ·  1
    • Triwibs Kanyut celuk yai Masyhudi Salsabila ah.. sopo ngerti sesuk yen tangi gelem berkomen..

      11 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut nah. seneng aku Jeng Erni’s gelem takon tenanan.

      11 hours ago · 
    • Adib Machrus

      wakakakka… sik mbah, tak neruske mausoal “siapa kiyainya”. coba perhatikan, hampir semua “orang besar” lahir dari pendidikan “orang besar” juga. sekarang, menyoal pendidikan tak lebih adalah soal bisnis dunia pendidikan. di kantor, proposal mohon bantuan bertumpuk2, seperti akan menyaingi daftar panjang waiting list jemaah haji. juga, meskipun sudah diberi BOSS dsb, iuran ini itu yang kalau diakumulasikan besarnya sama, bahkan melebihi biaya spp plus lain2nya. semua menjadi industri. bagaimana nanti keluarannya?
      11 hours ago ·  ·  1
    • Adib Machrus maka saya masih tetep yakin, menjadi unggul itu harus memiliki semangat OTODIDAK yang tinggi. kepada temen2 kantor dan staf saya katakan: saya punya ilmu gratisan lebih banyak ketimbang yang saya beli. wkwkwkwk

      11 hours ago ·  ·  1
    • Mark as Spam

      Adib Machrus oleh sebab itu, pertanyaannya menjadi jelas: BAGAIMANA METODE PENDIDIKAN YANG DAPAT MENDORONG ANAK DIDIK UNTUK TERUS MENERUS MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUANNYA SECARA MANDIRI DAN BERTANGGUNGJAWAB?

      11 hours ago · 
    • Adib Machrus itu pertanyaan yang akan relevan sepanjang aman,Mbah

      11 hours ago · 
    • Triwibs Kanyut kupikir, kalo sdah ada semangat otodidak, institusi pendidikan tak lagi persoalan gus. bagaimana caranya kita membangkitkan lebih banyak orng yang semangat otodidaknya tak begitu besar?

      11 hours ago ·  ·  1
    • Jeng Erni’s Lanjut sesuk meneh yo mbah …. Ditimbali nyisan Bunda Lailil lan guru anyaran Yakhanu, mantan anak pesantren korban tingginya uang mahar dan jomblow2 lulusan anak pesantren yg susah mendapatkan jodoh, buat contoh kasus …. Wkwkwkkwkwk

      11 hours ago via mobile ·  ·  3
    • Adib Machrus kuwi soal motivasi mbah

      11 hours ago · 
    • Kent Hira Balabal saya memang tidak komen, tp bukan berarti saya ndak nyimak lho, mbah, gus… walaupun harus diakui membaca tulisan2 yg pating drindil di layar hape sungguh membuat mripat koyo diurapi sambel.

      10 hours ago via mobile ·  ·  1
    • Adib Machrus

      apa yang diharapkan dari 2 jampel (90 menit) pertemuan tatap muka guru-murid? bila sekelas ada 45 anak, maka perhatian guru rata2 2 menit per anak? maka, lagi2 orangtua lah yang “meneruskan” proses pembelajaran anak. orangtua harus mampu mewujudkan “home schooling” bagi anak. mau tidak mau itu perlu mereka lakukan jika menghendaki anak2nya menjadi TANGGUH. di pesantren, peran itu diganti oleh santri senior yang bertugas membimbing adik2nya memahami pelajaran sekolah. semagat otodidak akan tumbuh dengan alamiah jika proses belajar mandiri berjalan dengan baik. salah satu bentuknya adalah belajar kelompok, atau belajar dengan pendampingan.
      10 hours ago · 
    • Zainal Wong Wongan Bahasa akademi ngeneiki ndasku terus mbliyur.Al ,ilmu nurun, jadi anak didik itu menurun dari gurunya.Sek sitik wae ndisik

      10 hours ago via mobile · 
    • Wiro Tetap Angon nyimak. Gak iso woh dowoh

      10 hours ago via mobile · 
    • Kent Hira Balabal tugas mbah zen mengawetkan status mbois ini..

      10 hours ago via mobile · 
    • Masyhudi Salsabila Hadir, Mbah. Mbah Ahmad Kasyful Anwar itu punya ide tentang metode dan kurikulum yg terintregrasi dalam dunia pendidikan. Hanya saja dibutuhkan proyek percontohan. Dan yg pasti, dana besar! Ayoo mbah di beber disini idenya.

      about an hour ago ·  ·  1
    • Ahmad Kasyful Anwar ‎Mbah Masyhudi Salsabila: mending Mbah aja yang beberkan…hehehe Saya khan bukan orang pesantren jadi kurang memahami kondisi psikologis para santri…Monggo Mbah

      49 minutes ago · 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *