July 24, 2014
Home » Ngaji » Fiqih » Ngaji Fiqih Dengan Kitab Taqrib-1

Ngaji Fiqih Dengan Kitab Taqrib-1

Muqadimah Kitab Al-Ghayah Wa At-Taqrib

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

الحَمْدُ لله رَبِّ العَالمَِيْن وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين .

 

 قال القاضي أبو شجاع أحمد بن الحسين بن أحمد الأصفهاني رحمه الله تعالى ،  سألني بعض الأصدقاء حفظهم الله تعالى ، أن أعمل مختصرا في الفقه على مذهب الإمام الشافعي رحمه الله عليه ورضوانه ،  في غاية الاختصار ونهاية الإيجاز ليقرب على المتعلم درسه ويسهل على المبتدئ حفظه ،  وأن أكثر من التقسيمات وحصر الخصال فأجبته إلى ذلك ، طالبا للثواب راغبا إلى الله تعالى في التوفيق للصواب إنه على ما يشاء قدير وبعباده لطيف خبير.

 

 

Terjemahnya:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam,semoga shalawat Allah selalu tercurahkan kepada tuan kita Muhammad Nabi yang Ummi, kepada keluarganya yang suci-suci dan kepada para sahabat-sahabatnya semua.

Al-Qadli Abu Suja’ yaitu Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfahani semoga Allah Ta’ala selalu merahmatinya berkata;

Sebagian kawan-kawanku semoga Allah Ta’ala selalu menjaga mereka, meminta kepadaku agar aku menyusun sebuah ringkasan dalam masalah fiqih sesuai dengan madzhab al-Imam asy-Syafi’i semoga Allah selalu merahmati dan meridlainya , dalam sebuah kitab yang sangat ringkas dan simple agar mudah dipelajari oleh para pelajar dan gampang dihafalkan oleh orang-orang yang masih dalam taraf awal.

(Mereka juga memintaku) agar aku memperbanyak tentang pembagian-pembagian (tentang hukum-hukum fiqih) dan memperjelas beberapa tingkah (seperti yang wajib dan yang sunah).

Maka aku mengabulkan permintaan kawan-kawanku tersebut, untuk mencari pahala dan mengharapkan pertolongan dari Allah Ta’ala agar ditunjukkan pada kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya dan Dia adalah Dzat Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui terhadap hamba-hamba-Nya.

 

 

 

Penjelasan:

*Penyusun kitab al-Ghayah wa at-Taqrib yaitu asy-Syaikh al-Qadli Abu Suja’ mengawali penulisan kitabnya dengan basmalah dan hamdalah karena mengikuti penulisan al-Qur’an al-Karim yang terdapat di dalam mushaf, juga karena beliau mengamalkan hadits Nabi shalallahu’alaihi wasallam yang menyatakan:

كل أمر ذي بال لا يبتدأ ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع.  رواه السيوطي في جمع الجوامع

Setiap perkara yang baik yang tidak di awali dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka perkara tersebut akan terputus. Hadits ini diriwayatkan oleh imam as-Suyuthi di dalam kitab Jam’u al-Jawami’.

Di dalam riwayat lain disebutkan:

كل أمر ذي بال لا يبتدأ بالحمدلله فهو أقطع. رواه النسائ في سننه

Setiap perkara yang baik yang tidak di awali dengan Alhamdulillah, maka perkara tersebut akan terputus. Hadits ini diriwayatkan oleh imam an-Nasai di dalam kitab as-Sunannya.

Kedua hadits ini tidak saling menafikan antara satu dengan lainnya, dan penjelasannya adalah; pembacaan basmalah dilakukan pada awal melakukan setiap perkara yang baik (ibtidak haqiqi) dan membaca hamdalah dilakukan setelah membaca basmalah (ibtidak idlofi).

Maksud dari setiap perkara yang baik (amrun dzu baalin) adalah setiap perkara yang dianggap penting oleh syara’ dan bukan merupakan perkara yang diharamkan ataupun dimakruhkan. (Lihat; Hasyiyyah al-Baijuri juz 1 hlm 13).

*Al-Hamdu  dari segi bahasa maknanya adalah ats-Tsana’ (pujian). Dari segi istilah, al-Hamdu maknanya adalah suatu pekerjaan yang dibangun atas dasar pengagungan pada Dzat Yang Maha memberi ni’mat dengan sebab Dialah Dzat Yang telah memberikan semua ni’mat kepada orang yang melakukan pujian ataupun kepada selain dirinya. Sedangkan syukur maknanya adalah pentasarufan seorang hamba terhadap semua ni’mat yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala baik berupa pendengaran ataupun penglihatan ataupun yang selain keduanya terhadap apa yang seharusnya diberlakukan terhadap ni’mat-ni’mat tersebut dengan perbuatan, dengan ucapan, ataupun dengan keyakinan. Jelasnya, pujian hampir sama dengan syukur, hanya saja pujian lebih spesifik merupakan perbuatan lisan (ucapan). (Lihat;  Hasyiyyah al-Baijuri juz 1 hlm 16).

Ada empat macam dari al-Hamd (pujian), yaitu;

  1. Hamd Qadim ‘ala Qadim; maksudnya adalah pujian yang dilakukan Allah Ta’ala terhadap Dzat-Nya sendiri pada zaman azali.
  2. Hamd Qadim ‘ala Hadits; maksudnya adalah adalah pujian yang dilakukan Allah Ta’ala pada sebagian hamba-hamba-Nya yang mulia.
  3. Hamd Hadits ‘ala Qadim; maksudnya adalah pujian yang kita lakukan (hamba) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  4. Hamd Hadits ‘ala Hadits; maksudnya adalah pujian yang kita lakukan kepada sesame kita (hamba kepada hamba).

Rukun-rukun dari al-Hamd (pujian) ada lima, yaitu:

  1. Orang yang memuji (Hamid).
  2. Dzat yang dipuji (Mahmud).
  3. Yang ditunjukkan dalam redaksi pujian (Madlul Shighat al-hamd).
  4. Sebab yang menyebabkan pujian (as-Sabab al-bai’ts ‘ala al-hamd).
  5. Redaksi pujian (ash-Shighah).

(Lihat; Syarh ash-Shawi ‘ala Jauharah at-Tauhid hlm 52)

*Mualif (penyusun) kitab al-Ghayah wa at-Taqrib juga mengawali penulisan kitabnya dengan menyampaikan shalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam sebagai wujud ketaatan dan pengamalan dari firman Allah Ta’ala pada surat al-Ahzab ayat 56;

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Shalawat dari Allah Ta’ala maksudnya adalah rahmat, dari malaikat maksudnya adalah istighfar, dan dari yang selainnya maksudnya adalah doa. (Lihat, Hasyiyyah al-Baijuri juz 1 hlm 19).

Maksud dari keluarga-keluarga Nabi shalallahu’alaihi wasallam (Aalihi ath-Thahirin) adalah orang-orang mukmin yang berasal dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib sesuai yang telah disampaikan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. (Lihat, Hasyiyyah al-Baijuri juz 1 hlm 22).

*Mualif (peyusun) kitab ini adalah al-Alim al-Allamah al-Abid ash-Shalih al-Imam al-Faqih  al-Qadli Syihab al-Millah Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfahani. Dalam satu riwayat beliau dilahirkan pada tahun 443 H di kota Isbahan salah satu kota yang ada di Persia atau Iran saat ini. Biografi singkat beliau telah kami sampaikan pada tulisan kami sebelumnya yang berjudul “Pengantar Mengkaji Kitab al-Ghayah wa at-Taqrib”. (Silahkan buka pada link ini: http://warkopmbahlalar.com/ngaji-fiqih-dengan-kitab-taqrib/).

*Fiqih dari segi bahasa maknanya adalah al-Fahmu (Faham), faham sendiri maksudnya adalah tersusunnya penggambaran suatu objek di dalam otak. Dari segi istilah, fiqih adalah ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum syar’iyyah praktis yang digali dari sumber-sumbernya yang terperinci.

*Madzhab dari segi bahasa maknanya adalah nama untuk tempat bepergian, makna ini kemudian digunakan untuk menyebut jalan (metode) yang digunakan oleh seorang Imam dalam upaya penggalian hukum, istilah ini adalah merupakan bentuk dari majaz isti’arah.

*Peletak dasar madzhab Syafi’iyyah adalah al-Imam al-Mujtahid Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’. Beliau dilahirkan di kota Gaza di negara Palestina pada tahun 150 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 767 Masehi. Menurut riwayat lain, al-Imam asy-Syafi’i dilahirkan dikota Asqalan, menurut riwayat lain di kota Mina, dan menurut riwayat lain di negara Yaman.

Al-Imam asy-Syafi’i tumbuh dan berkembang di kota Makkah. Beliau telah hafal al-Qur’an al-Karim pada usia tujuh tahun, beliau telah hafal kitab al-Muwaththa’ karya gurunya yaitu al-Imam Malik bin Anas rahimahullah pada usia empat belas tahun. Pada mulanya beliau belajar fiqih pada syaikh Muslim bin Khalid az-Zanji yang menjadi Mufti kota Makkah, yang pada usia al-Imam asy-Syafi’i menginjak lima belas tahun, syaikh Muslim telah memberikan izin kepada beliau untuk memberikan fatwa.

Kemudian al-Imam asy-Syafi’i menuju ke kota Madinah dan berguru kepada al-Imam Malik bin Anas yang merupakan peletak dasar madzhab Malikiyyah. Al-Imam Malik juga memberikan izin kepada al-Imam asy-Syafi’i untuk memberikan fatwa.

Setelah selesai belajar pada al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i lalu pergi ke negara Baghdad untuk belajar pada ulama-ulama yang ada di sana. Di negara inilah al-Imam asy-Syafi’i menyusun madzhabnya yang lama (Qadim). Setelah itu al-Imam asy-Syafi’i kembali ke kota Makah, tidak seberapa lama kemudian beliau kembali lagi ke negara Baghdad dan menetap disana selama satu bulan, lalu beliau bergegas menuju ke negara Mesir. Dan di negara Mesir inilah, al-Imam asy-Syafi’i menyusun madzhabnya yang baru atau dikenal dengan istilah madzhab/qaul Jadid.

Nasab al-Imam asy-Syafi’i bertemu dengan nasab Nabi shalallahu’alaihi wasallam pada kakek beliau yang bernama Abdu Manaf. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah wafat pada usia 54 tahun pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 204 Hijriyah dan dimakamkan di negara Mesir. (Lihat; Hasyiyyah al-Baijuri juz 1 hlm 26-28).

اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفعنا  وزدنا من لدنك علما

ياعليم ياخبير والحمد لله رب العالمين

 

 

 Bersambung Insyaallah

 

Artikel ini terkirim via form kontak Antar Kopi

Oleh:

Warkoper

 

 

 

 

One comment

  1. … tolong sambungan nya ngaji fiqih dgn kitab taqrib segera d lanjutkan ,,,

    KAMI SANGAT MEMBUTUHKAN …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>