July 22, 2014
Home » Ngaji » Ahlaq » Etika Bertamu Menurut Islam

Etika Bertamu Menurut Islam

Pendahuluan.

Islam telah datang dengan kesempurnaannya untuk mengarahkan manusia dari perbuatan – perbuatan yang tidak manusiawi, salah satu aturan yang telah diatur dalam berkehidupan adalah tata cara bertamu, kepedulian dan penghargaan harga diri manusia sangat disanjung tinggi guna memperoleh ikatan batin dan anggapan sebagai manusia yang memanusiakan manusia, dan itu tidak semata-mata hanya berharap balasan apa-apa kecuali apa yang sudah dijanjikan Allah kepada orang-orang yang berbuat baik pada sesama manusia. Kadang masih dibutuhkan legitimasi keberagamaan kita dengan munculny aberbagai permasalahan yang komplek dan baru seiring dengan perkembangan zaman yang semakin global dan instant.

Inilah salah satu alasan mengapa alquran turun dengan tidak memerinci setiap undang – undang berkehidupan namun secara universal setiap permasalahan dituturkan dengan begitu lugasnya. Dengan begitu justru umat islam dituntut untuk bisa menginterpretasi setiap permasalahan yang muncul tiba-tiba dan membutuhkan refleksi baru dari pemaknaan alquran alkarim tersebut. Segala sesuatu yang berujung baik maka akan bermakna baik jika standard kebaikan itu masih dipegan erat oleh muslimin dan tidak bergeser maknanya dalam kejahatan dan kedzaliman.

Penulis berharap bahwa makalah yang berjudul etika bertamu ini bisa dijadikan tolok ukur bagi prilaku muslim saat mereka bertandang atau bertamu supaya membawa berkah dan keredhaan Allah yang maha kuasa. Apabila terdapat kesalahan disanasini penulis sebagai manusia biasa mohon maaf sebesar-besarnya dan mohon kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan makalah kami selanjutnya.

ETIKA BERTAMU.

Dalam alquran Allah tidak menuturkan kata tamu dalam konteks kekinian namun yuang dibicarakan justru pelarangan memasuki rumah orang lain dengan tanpa izin. Inilah makna global yang diterapkan dalam alquran  seperti yang terdapat dalamsuratannur ayat 27-29. yang artinya:

27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.

28. jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

29. tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.

Pada ayat-ayat berikut ini  Allah menerangkan hokum seseorang memasuki rumah orang lain; dan janganlah hendak memasuki rumah orang lain  itu kecuali sesudah mendapat izin  dan memberi salam, agar dia jangan melihat apa yang tidak patut dilihatnya dan janganlah menyaksikan hal-hal yang biasanya disembunyikan oleh yang empunya rumah, apalagi hal ini dapat dianggap sebagai campur tangan hak orang lain, yang untuk itu perlu mendapat izin terlebih dahulu.

Pada ayat 27 ini Allah SWT mengajarkan kepada orang-orang mukmin tata cara bergaul yang berguna sekali untuk memelihara dan memupuk cinta dan kasih saying  serta pergaulan yang baik di antara mereka, yaitu hendaklah janganlah memasuki rumah orang lain kecuali sesudah diberi izin dan memberi salam, agar tidak sampai melihat aib orang lain, melihat hal – hal yang tidak pantas dilihatnya, tidak menyaksikan hal-hal yang biasanya disembunyikan orang dan dijaga betul untuk tidak dilihat orang lain. Seseorang yang meminta izin untuk memasuki rumah orang lain yang ditandai dengan memberi salam, dan jika tidak memberi jawaban sebaiknya dilakukan sampai tiga kali, kalau sudah ada izin, barulah masuk dan kalau belum pulanglah kembali.

Diriwayatkan dalam satu hadits sahih bahwa Abu Musa al asy’ari ketika meminta izin kepada Umar untuk masuk ke dalam rumahnya sebanyak tiga kali tetapi belum juga ada izin, ia pun pulang. Kemudian Umar berkata “seakan-akan saya mendengar suara Abdullah Bin Qais minta izin, izinkanlah dia. Setelah mereka lihat ternyata Abu Musa telah pergi.ketika Abu Musa datang setelah itu maka Umar berkata “kenapa engkau kembali tempo hari? Abu Musa menjawab “sesungguhnya saya sudah meminta izin tiga kali untuk masuk, tetapi belum juga ada izin, jadi saya kembali, saya mendengar Rasulullah bersabda “apabila telah meminta izin  salah satu dari kamu tiga kali dan juga belum diberi izin maka hendaklah pergipulang”. Cara yang demikian itulah yang lebih baik,kalu tidak , lebih baik pulang saja dan tidak jadi masuk, demikianlah supaya cara itu selalu diingat untuk diamalkan.

Pada ayat ke-28 Allah menerangkan bahwa apabila hendak emmasuki rumah orang lain  dan tidak menemukan seorang di dalamnya yang berhak memberi izin, janganlah sekali-kali memasukinya sebelum ada izin, kecuali ada hal yang mendesak seperti kebakaran di dalamnya yang mengkhawatirkan akan menjalar ke tempat lain, atau untuk mencegah  suatu perbuatan jahat yang akan terjadi di dalamnya, maka bolehlah memasukinya sebelum ada izin. Tetapi kalau irang yang berhak memberi izin masuk menganjurkan supaya pulang dulu, karena ada hal-hal yang oleh empunya rumah merasa malu dilihat orang lain, maka pulanglah, karena yang demikian itu  labih menjamin keselamatan bersama. Allah maha mengetahui isi hati dn niat yang terkandung di dalamhati sanubari.

Dalam suatu  riwayat di kemukakan bahwa seorang wanita anshar mengadu kepada rasulullah saw ;” ya rasulallah! Apabila aku berada dia rumahku dalam keadaan yang aku sendiri tidak ingin dilihat orang lain, akan tetapi selalu saja ada lelaki dari familiku masuk ke dalam rumahku. Apa yang harus aku lakukan?” maka turunlah ayat ini (qs 24 : 27) yang melarang kaum mukminin memasuki rumah orang lain sebelum minta izin dan mengucapkan salam, diriwayatkan oleh alfarabi dan ibn jarir yang bersumber dari adi bin tsabit.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat perintah meminta izin apabila hendak memasuki rumah orang, berkatalah abu bakar :” yarusallah!! Bagaimana pedagang quraisy yang hilir mudik ke Makkah, madinah, syam, dan mereka mempunyai rumah-rumah tertentu di jalan, apakah mereka mesti meminta izin dan member salam padahal tidak ada penghuninya?”. Maka turunlah ayat selanjutnya (QS 24:28) yang membolehkan kaum mukminin memasuki rumah yang disediakan bukan un tuk tempat tinggal karena keperluan tertentu.diriwayatkan oleh ibnu abi hatim yang bersumber dari muqatil bin hikban

Pada ayat yang lalu Allah menerangkan adab sopan santun dalam rumah tangga mengenai keharusan mendapat izin lebih dahulu sebelum memasuki tuan rumah atau kamar anggoata keluarga yang telah dewasa dan berumah tangga kecuali bagi hamba sahaya, dan ank-anak yang belum baligh mereka tidak perlu meminta izin lebih dahulku kecuali pada waktu waktu yang telah ditentukan. Demikian pula cara merek a berpakaian di dalam rumah terutama bagi wanita hendaklah memakai pakaian yang sopan yang tidak bertentangan dengan hukm agama, maka pada ayat berikut ini Allah menerangkan pula hokum makan di rumah sendiri dan di rumah kaum kerabat. Hal itu dibolehkan dalam islam asal benar benar tuan atau nyonya rumah tidak merasa keberatan sedikit pun dan dengan serela hatinya, walaupun yang ikut makan bersama itu bercacat seperti buta, pincang, atau sakit.

Dalam surat ini Allah menerangkan adab sopan santun memasuki rumah orang lain yaitu seseorang yang ingin memasuki rumah rumah orang lain dia harus meminta izin dahulu kepada penghuni rumah itu dan setelah diizinkan barulah ia boleh masuk dan hendaklah ia memberikan salam kepada tuan rumah atau kepada orangyang ketika itu berada di rumah , maka pada ayat berikut ini Allah menjelaskan tata tertib dan sopan santun dalam rumah tangga itu sendiir aga rkehidupan  dalam nrumah tangga itu benar-bear harmonis, aman dan tenteram.

.          Waktu –waktu yang ditentukan tu ialah pertama waktu dipagi hari sebelum shalat shubuh, kedua di waktu sesudah dzuhur danketiga diwaktu sesudah shalat isya’. Waktu – waktu itu disebut dalam ayat ini “aurat”, karna –pada waktu – waktu itu biasanya orang belum menggunakan pakaiannya dan aurat mereka belum ditetuupi dengan pakaian alais bugil di pagi hari sebelum bangun untuk sembahyang subuh biasanya orang masih bercelana dalam saja demikian pula halnya di waktu istirahat, sesudah dzuhur istirahat panjang, sesudah shalat isya’.mungkin pula diwaktu waktu istirahatseperti nitu suami istri melakukan hal-hal yang tidak pantas dilihat oleh hamba sahaya pembantu dan anak-anak, adapun di luar waktu yang sdah ditentukan itu maka amat beratlah rasanya kalau diwajibkan pula meminta izin karena para pembantu dan anak-anak sudah sewajarnya bergerak bebas dalam rumah karena banyak yang akan diurus dan banyak pula yang perlu diambil dari kamar-kamar.Parapembantu biasanya memasuki kamar untuk membersihkan perabotan perabotan atau untuk mengambil sesuatu yang diberintahkan oleh tuan atau nyonya rumah dan demikian pula halnya dengan anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>