Home Berita Kasus Imam Masjid Dikeroyok

Kasus Imam Masjid Dikeroyok

Laporan Sebelumnya

BERMULA DARI PENGGUSURAN PKL

Dari hasil investigasi hingga petang tadi, kasus pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh jamaah daulah atas imam masjid masjid Nurul Hikmah Ahmad Chumaidi pada Minggu malam (12/2) lalu bermula dari peristiwa penggusuran pedagang kaki lima yang merupakan anggota jamaah daulan tersebut.

Menurut penuturan korban, pada bulan Ramadhan lalu masjid Nurul Hikmah mendapat giliran jadi tempat Tawarih Keliling (Tarling) Walikota Semarang. Pihak takmir dibantu aparatur pemerintaha bersih-bersih masjid dan menata ruangan.

Sebuah warung stiker milik Agung yang ada di halaman masjid tanpa ijin, diminta untuk dibongkar. Karena pihak takmir segan, pemerintah yang turun tangan. Lurah Tandang Suparno memanggil pemilik warung itu dengan sebuah surat resmi.

Kepada wartawan yang mewawancarainya siang tadi, Lurah Suparno membenarkan bahwa ia memang memanggil Agung ke kantornya. Dan ia yang menyuruh Agung agar membongkar warungnya serta melarang berjualan di halaman masjid Nurul Hikmah.

Hal itu karena pihaknya mendapat laporan bahwa jamaah masjid merasa kurang nyaman dengan keberadaan warung tersebut. Selain banyak orang nongkrong pada jam-jam sholat, memakai halaman masjid tanpa ijin jelaslah tidak patut.
“Ya. Saya memang memanggil Agung ke kantor saya. Pake surat resmi. Saya suruh membongkar sendiri dan tidak boleh berjualan lagi di halaman masjid. Itu berdasar aspirasi dari jamaah masjid,” tuturnya.

Dendam Kepada Takmir

Penggusuran resmi oleh pemerintah teresbut membuat Agung marah yang lantas jadi kemarahan kolektif kelompok daulah di kelurahan Tandang. Mereka dendam kepada pihak takmir masjid yang dianggap sebagai biang penggusuran warung Agung.

Beberapa hari setelah acara Tarling Walikota, menurut saksi yang enggan disebut namanya, Agung terlihat menjugili (mencopoti) beberapa paving masjid di halaman tempat warungnya pernah ada. Lantas dia merobek tulisan nama pengurus takmir di papan informasi di dalam masjid.

Lalu, setelah lebaran, Agung kembali berjualan di tempat ia pernah buka warung. Teror kepada takmir masjid pun mulai terjadi. Teman Agung, Aris, suka mengata-ngatai Ketua Takmir, Ahmad Chumaidi dengan umpatan “goblok” dan “pekok” jika bertemu di dalam masjid.

Sulistyo, salah seorang jamaah masjid Nurul Hikmah mengaku mendengar sendiri umpatan itu. “Saya dengar sendiri Pak Chumaidi dimaki dengan kata goblok dan pekok saat hendak ngimami sholat maupun setelah usai salam,” ujarnya.

Kepada wartawan, Chumaidi mengonfirmasi soal itu. Namun dia mengaku bersabar, tidak meladeni umpatan kaum bejenggot dan bercelana cingkrang tersebut.

Sebagai gantinya, dia bermaksud menasehati Aris dan Agung melalui lisan ulama besar. Pikir dia, biar kelompok daulah tersebut menyadari sikapnya dan tidak meneruskan aksi kasarnya tersebut.

Maka diundanglah kiai dari Masjid Agung Jawa Tengah, KH Abdul Hamid Suyuthi, untuk memberi maudhoh hasanah dalam sebuah pengajian di masjidnya beberawa waktu lalu. Dalam pengajian itu, Kiai Suyuthi menyampaikan perlunya mencari rejeki dengan cara halal dan thoyib.

“Orang mencari rejeki itu harus halal dan thoyib. Jika berjualan di tanah yang bukan miliknya, , harus mendapat ijin,” tuturan Kiai Suyuthi dikutip Ahmad Chumaidi.
Nasehat ulama itu ternyata tidak mempan. Imam masjid yang tak lain ketua takmir Ahmad Chumaidi masih diintimidasi. Malah lebih kencang. Sampai puncaknya terjadilah pengeroyokan pada Minggu malam (12/2) lalu.

Lurah Tandang Suparno mengaku kecewa atas tindakan Agung yang membuka kembali warungnya di halaman masjid. Namun belum sempat dia menegur, sudah mendapat laporan tindak kriminal di dalam masjid tersebut.

“Saya kecewa Agung membuka kembali warungnya di depan masjid. Itu jelas ilegal. Saya lebih sedih lagi mendengar laporan aksi kriminal di dalam masjid tersebut,” ujarnya.

Dipicu Perebutan Mic

Dalam laporan kepada polisi di Polrestabes Semarang Ahmad Chumaidi mengatakan, pemicu terjadinya pengeroyokan adala peristiwa perebutan mic oleh Koko, anggota kelompok daulah.

Usai memimpin jamaah sholat magrib, dia memimpin pembacaan tahlil dengan posisi masih duduk di atsas sajadah. Di mihrab samping mimbar untuk khutbah.
Tiba-tiba, terlapor (pelaku pengeroyokan) yakni Koko merebut mic kecil yang menempel di kerah baju Chumaidi. Sebuah mic seukuran kelereng itu diambil secara kasar dari bawah ketiaknya. Spontan Chumaidi memegang tangan Koko sambil berujar “heh, tidak sopan!”.

Masih menurut keterangan korban di kantor polisi, bapak kandung Koko, Supriyono yang berada di serambi masjid mengira anaknya dipukul. Lantas lari menghampiri Chumaidi lalu menjotos kepala sang imam itu berkali-kali.

Menurut para saksi mata yang ditemui reporter koran ini, Surpriyono dan Koko, bapak dan anak, mengeroyok Chumaidi tanpa perlawana. Sehingga imam masjid itupun dievakuasi dari masjid lantas dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan dan visum dokter. Lalu melapor ke polisi.

“Saya melihat pak Chumaidi dikeroyok dua orang itu. Posisi dekat sekali, karena saya berada di sof pertama jamaah magrib saa itu,” kata Suryani Ahmad, salah satu saksi mata peristiwa.

Terlapor Diamankan

Polisi menerapkan pasal 170 KUHP untuk menjerat pelaku kekerasan tersebut. Menurut aturan hukum itu, Pasal 170 ayat (1) berbunyi “barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang diancam pidana paling lama lima tahun enam bulan”.

Rabu (22/2) seorang pelaku bernama Supriyono telah diamankan di Mapolrestabes Semarang. Selain itu, dua saksi, Munawar dan Sunarto yang sedianya diperiksa tanggal 28 seperti tertulis dalam surat undangan polisi, siang tadi langsung dimintai keterangan.

Dua saksi ini didampingi advokat Rif’an dari Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Jateng dan Pargono dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP Ansor Kota Semarang.

Sementara korban, Ahmad Chumaidi belum diperiksa. Dia ikut menemani para saksi di ruang Reseres Kriminal Mapolrestabes Semarang. Sampai berita ini ditulis, para saksi belum selesai diperiksa.

Kasubag Humas Polrestabes Kompol Willer Napitupulu kepada wartawan mengatakan, Polisi mengambil langkah cepat atas kasus 170 KUHP tersebut untuk memberi ketenangan ibadah bagi seluruh warga Semarang.

“Kami mengambil langkah cepat demi menjaga kondisi baik di masyarakat. Dua saksi kami periksa, terlapor sudah kami amankan. Soal status menjadi tersangka, itu menunggu hasil pemeriksaan,” terangnya.

Sebelum itu, Kapolsek Tembalang Kompol Purwanto pagi tadi mendatangi rumah Ahmad Chumaidi. Kedatanganya bersama dua anggota polisi bermaksud memberi jaminan keamanan kepada pelapor tesebut.

“Kami menjamin keamanan pelapor dan para pengurus takmir lainnya,” ujar dia.
Sebelum ihwal itu, Kapolsek Tembalang Kompol Purwanto pagi kemarin mendatangi rumah Ahmad Chumaidi. Kedatanganya bersama dua anggota polisi bermaksud memberi jaminan keamanan kepada pelapor tesebut.

“Kami menjamin keamanan pelapor dan para pengurus takmir lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya lagi, pagi hari kemarin Ahmad Chumaidi mendapat surat mendadak dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Tembalang. Berupa undangan untuk “Silaturahim dan Musyawarah untuk Kemaslahatan Umat”.

Surat yang ditandatangai ketua MUI Tembalang KH Moch Najib Abdullah dan Sekretaris H Ahmad Fauzi itu meminta Chumaidi untuk datang di Pondok Pesantren As-Sajad yang diasuh Kiai Najib, pada Rabu (22/2) jam 19.30.

Namun Chumaidi memastikan tidak bisa menghadiri undangan tersebut karena dia sudah mengagendakan rapat takmir di masjidnya sendiri pada saat yang sama.
“Pagi saya dapat undangan dari MUI Tembalang. Tapi saya tidak bisa hadir karena sudah mengagendakan rapat takmir masjid malam ini (tadi malam-red),” tuturnya.

Lantas, mengapa mereka merebut mic?

Dilanjutkan Chumaidi, kelompok daulah sudah lama ingin menguasai masjid yang dipangkunya tersebut. Mereka, berupaya dengan segala cara bisa merebut kendali atas masjid Nurul Hikmah.

Dikuatkan oleh para jamaah masjid yang berhasil diwawancarai reporter koran ini, kaum berjenggot dan bercelana cingkrang itu selalu berupaya mengajak kaum lelaki untuk berjamaah. Caranya dengan didatangi rumahnya dan diantar sampai ke masjid.

Setelah itu, setiap usai jamaah sholat, salah satu dari kelompok daulah langsung mengambil mic lalu berceramah di hadapan kelompok yang dibinanya. Tak peduli imam masih wiridan dan beberapa makmum masih sedang sholat sunnah ba’diyah, anggota daulah koar-koar dengan suara keras.

“Kami sebenarnya jengak dengan tindakan mereka. usai salam langsung mengambil mic dan berceramah keras. Padahal orang-orang masih wiridan dan berdoa, serta sebagian lain sedang sholat sunnah ba’diyah,” tutur Munawar, muadzin masjid yang dibenarkan banyak jamaah.

Ulah tidak sopan itu terus menerus dilakukan, namun pihak takmir bergeming. Chumaidi sebagai ketua takmir tidak pernah memberi kesempatan anggota daulah menjadi penceramah atau khotib resmi di masjid tersebut.

Lagi pula, orang-orang yang diajak jamaah dengan cara kadang memaksa, semakin muak dengan mereka. Karena selalu menganggap diri mereka suci, ahli surga. Disertai tudingan kepada orang lain yang tidak sepaham dengan mereka sebagai ahli neraka.

“Kami sudah bosan mendengar mereka menuding orang di luar kelompoknya sebagai ahli neraka. Bahkan kami sangat sering mendengar mereka menyatakan diri sebagai pengamal ibadah yang sempurna sehingga akan masuk surga,” ucap Chumaidi dibenarkan warga jamaahnya.

Sampai sejauh ini, para pelaku dan jamaahnya belum berhasil diwawancarai. Namun dari penuturan salah satu anggota kelompok daulah yang diajak bincang santai (bukan wawancara jurnalistik), alasan pelaku mengeroyok Chumaidi karena imam masjid tersebut terlebih dulu menempeleng Koko yang merebut mic.

“Pak Chumaidi dipukul karena dia menempeleng duluan. Itu perkelahian. Bukan pengeroyokan,” kilah pria tua berjenggot ini.

Ichwan


Comments
  1. rahman
  2. jokolelolelo
  3. alqudsy
  4. rahman
  5. agus
  6. aziz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *