Home saintek RINGKASAN ILMU LOGIKA

RINGKASAN ILMU LOGIKA


Ilmu adalah buah pikiran akan arti dari sesuatu dengan tepat. Ilmu itu dibagi menjadi dua, yang pertama ilmu qadim, kedua ilmu hadits, ilmu qadim hanya dimiliki oleh Allah semata, sedangkan ilmu hadits (baru) dimiliki oleh makhluk. Untuk ilmu hadits yang dimiliki makhluk ini masih dibagi menjadi dua, yaitu ilmu nadzori dan ilmu dhoruri, ilmu nadzori ialah ilmu yang membutuhkan adanya pemikiran dan analisa. Sedangkan ilmu dharuri adalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran.


Tashowwur adalah menggambarkan atau membayangkan sesuatu sehingga mampu dipahami. Penggambaran terhadap sesuatu terkadang bisa diwakili dengan kata kata tanpa harus melihat langsung terhadap obyek perkataan itu. Missal pernyataan bumi itu bulat seperti bola, kita cukup membayangkan bulatnya bumi sama seperti bulatnya bola. Hal inilah yang disebut tashowur.


Tashdiq adalah pembuktian terhadap kebenaran sesuatu. Sesuatu itu benar atau salah bisa dibuktikan melalui tashdiq, tanpa tashdiq kita tidak pernah tahu apakah omongan seseorang itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan atau sekedar isapan jempol belaka. Dengan tashdiq kita bisa tahu dan membuktikan bahwa apa yang diucapkan terbukti benar atau salah adanya.


Qaul sharih adalah keterangan yang berbentuk definitive, visualisasi atau sketsa yang bisa menghasilkan pengertian atau penggambaran terhadap suatu benda.


Hujjah adalah alat untuk bisa membuktikan kebenaran ucapan seseorang sehingga bisa tashdiq terhadap apa yang disampaikan.


Dalalah ialah sesuatu yang dapat memberikan petunjuk dan mengantarkan seseorang terhadap pemahaman yang benar.

 

Dalalah ada dua yaitu dalalah lafdziyyah, dan dalalah ghairu lafdziyyah. dalalah lafdziyyah dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Aqliyyah, perantara yang bisa diterima akal, seperti adanya suara menunjukkan adanya benda yang mengeluarkan suara.

2. Thabi’iyyah, perantara yang menunjukkan watak atau prilaku misalnya ungkapan aduh, yang berarti ada rasa sakit pada orang yang mengucapkan kata-kata tersebut.

3. Wadh’iyyah, perantara yang mampu mengantarkan kita pada pemahaman suatu keumuman hal itu, misalnya rokok kretek. Kita memahami rokok itu mestinya bercengkeh.

 

Sedangkan dalalah ghairu lafdziyyah juga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:


1. Aqliyyah. Perantara yang bisa diterima akal misalnya perubahan alam semesta menunjukkan bahwa ala mini fana, alias tidak abadi.

2. ‘adiyyah. Perantara yang menjadi kebiasaan akan terjadinya misalnya turun hujan menunjukkan akan adanya tetumbuhan yang akan bersemi.

3. Wadh’iyyah, perantara yang menunjukkan terjadinya pemahaman tanpa berucap atau terdengar sesuatupun karena sudah bisa dipahami, misalnya mengangguk tanda setuju, geleng-geleng kepala tanda tidak setuju.
Dalalah lafdziyyah wadh’iyyah ialah sesuatu yang ditetapkan atau diletakkan untuk membangkitkan adanya petunjuk, dalalah macam ini dibagi menjadi tiga lagi, yaitu:

1. Muthabaqah, yaitu perantara atau dalalah yang menunjukkan arti dari suatu lafadz secara tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Ada persesuaian antara pendefisian sesuatu, misalnya rokok adalah tembakau yang dilinting, rondo royal adalah tape yang digoreng.

2. Dalalah tadhommun, perantara atau dalalah yang menunjukkan pada sebagian arti saja, tidak keseluruhan dari yang sebenarnya. Misalnya menyebut tape, tidak mewakili definisi dari “rondoroyal”.

3. Dalalah iltizam, perantara atau dalalah yang menunjukkan arti dari sesuatu yang pasti ada pada sesuatu itu, tapi tidak tepat untuk mewakili definisinya. Misalnya mengucapkan sambal adalah pedas, pedas adalah sifat yang pasti dimiliki sambal, tapi tidak mewakili definisi asli dari sambal, karena sambal adalah cabe yang dilembutkan, dan sifat pedas itu pasti ada pada sambal.


Lafadz ialah kata/suara yang mengandung huruf abjad. Ia dibagi menjadi dua, yaitu lafadz muhmal, yang berarti lafadz atau ungkapan yang tidak memiliki arti seperti wesemeng, krowo, dan lain-lain. Kedua, lafadz musta’mal, yaitu lafadz atau kata-kata yang menunjukkan arti, seperti jakarta, zaid, pergi, nonton, dan lain, lain.


Lalu, lafadz musta’mal ini dibagi lagi menjadi dua bagian lagi, yaitu: lafadz mufrad, yaitu kata yang menunjukkan arti dirinya dan bagian darinya tidak bisa menunjukkan arti yang lain, misalnya ucapan kayu, maka tidak bisa berarti ka punya arti dan yu punya arti, tapi ‘kayu” baru memiliki arti. Kedua lafadz murokkab, yaitu kata-kata yang tersusun dan terangkai dari beberapa suku kata dan sebagian dari kata kata itu dapat menunjukkan arti bagi sebagian yang lain. Misalnya bangsa Indonesia, bangsa memiliki arti, Indonesia memiliki arti. Jika kita menyebut banyuwangi, maka suku kata ini tidak termasuk lafadz murokkab, karena sudah menjadi nama sebuah daerah di jawa timur.maka banyuwangi masih termasuk lafadz yang masih mufrad alias tunggal.


Lafadz mufrad dibagi menjadi dua, yaitu mufrad kulli dan mufrad juz’I, mufrad kulli adalah kata tunggal yang dapat mencakup beberapa unit secara global. Misalnya ayam, alam, kendaraan, kantor, dan lain-lain . Mufrad juz’i ialah kata tunggal yang tidak dapat mencakup beberapa unit, ia hanya memiliki arti yang terbatas saja, misalnya Muhammad, tangan, mata, dan lain lain.

 


Lafadz kulli dibagi menjadi dua bagian:


1. Kulli dzati, yaitu kata yang menunjukkan arti dari hakikat suatu benda bersamaan dengan unit-unitnya, misalnya ucapan sayurmayur, itu berarti kangkung, bayam, kubis termasuk, dan sayur-sayur itu masuk pada sebutan sayurmayur. Karena hakikat dari kangkung, bayam, kubis adalah sayur mayur.

2. Kulli ‘ardli, kebalikan dari kulli dzati, kata ini tidak menunjukkan arti dari bagian unit-unitnya, misalnya pak Hadi menjadi Bupati, ia dipanggil Bupati. Maka bupati ini merupakan kulli ardli, karena tidak setiap bupati pasti pak hadi, dan tidak setiap pak hadi menjadi bupati. Misalnya pak syakur menjadi naib, maka dipanggil pak Naib.
Ada lima macam kulli yaitu:

1. Kulli jinsi, yaitu kata global yang memiliki beberapa jenis dan hakikat yang berbeda tapi ketika memiliki persamaan ia patut dijadikan sebagai jawaban, semisal kata palawija yang mewakili dari beberapa unit tanaman, misal padi, kacang, kedelai dan lain lain.

2. Kulli fashal, yaitu kata global yang menggunakan sebagian dari zat, wujud, bahan atau benda yang kata itu mampu mendefinisikan hakikat benda itu. Misalnya, kata-kata berfikir, untuk menunjukkan definisi manusia, hal ini bisa terwakili, misal yang lain menek klopo, padahal yang dinaiki adalah pohon kelapa, tapi kelapa adalah bagian dari pohon itu. Beda dengan kata tiang, yang menjadi penyangga rumah, rumah dikatakan tiang, maka hal itu tidak tepat. Fashal sendiri masih dibagi menjadi dua, fashal qarib, yaitu bagian bagian penyebutannya mendekati dari definisi asalnya, misalnya ungkapan dapat berfikir bagi manusia. Kedua fashal ba’id, yaitu bagian dari penyebutannya berjauhan dari definisi asalnya misalnya ungkapan manusia itu berperasaan. Dan kita ketahui bahwa hewan juga berperasaan. Berarti kata perasaan jauh dari definisi manusia tapi masih bisa mewakili, walau tidak manusia saja yang mempunyai perasaan.


3. Kulli ‘aradl ‘am adalah kata global yang merupakan hal umum terjadi padanya, ia berada di luar zat, hakikat, benda dan wujudnya, misalnya ungkapan manusia adalah hewan yang bernafas, bernafas jelas di luar hakikat manusia.

4. Kulli khashah, kata global yang di luar dari hakikatnya, zatnya, tetapi khusus bagi hakikat zat itu sendiri, seperti tertawa, tertawa berada di luar hakikat manusia, tetapi hanya manusialah yang bisa tertawa. Kulli dibagi menjadi tiga macam, yaitu:


a. Jenis dekat (jinsi qarib atau saafil), di bawah jenis ini masih ada jenis lagi, yang ada hanyalah nau’ (bagian dari kulli) misalnya perkataan “hewan”, di bawah kata hewan sudah tidak ada jenis lagi.

b. Jenis jauh (jinsi ba’id atau ‘aali), di bawah jenis ini sudah masih ada jenis yang lain tetapi di atas jenis ini tidak ada lagi jenis yang lain lagi, seperti jauhar atau alami, di atas jauhar tidak ada jenis lain lagi, tapi di bawah jauhar masih ada nau’ dan al-nami (sesuatu yang berkembang).

c. Jenis tengahan (jinsi wasath), yaitu macam jenis yang di atas dan di bawahnya masih ada jenis yang lain. Seperti ucapan al-nami di bawahnya masih ada jenis hewan, dan di atasnya ada pula jenis jisim.


5. Kulli nau’, yaitu kata global yang mempunyai beberapa hakikat yang sama, dan patut digunakan sebagai jawaban man huwa? Atau siapa dia?” maka bisa saja jawaban itu berupa ucapan, Zaid itu manusia, Fatimah itu manusia, Fathoni itu juga manusia, yang demikian itu merupakan macam dari hakikat sesuatu yang benar.

 

MENYAMAKAN LAFADZ PADA MAKNA


Bab ini menerangkan tentang persamaan lafadz terhadap maknanya, ada lima macam pembagian bagi lafadz global dipandang dari segi makna. Kelima macam itu adalah:


1. Kulli Mutawathi’, ialah lafadz global yang memiliki banyak arti dan makna yang kesemuanya memiliki makna dan arti yang tidak ada perbedaan, seperti ungkapan binatang, maka meliputi di dalamnya binatang liar, ternak binatang mamalia dan berbagai macam binatang.

2. Kulli musyakkik, yaitu sebuah lafadz yang mempunyai banyak arti dan makna dan satu sama lain berbeda maknanya, misalnya kata “putih” ada makna yang dominan dan ada yang resesif (minoritas), misal ucapan kulitnya putih, cat temboknya putih, putih pertama dan putih yang kedua tidak sama, walau ucapannya sama, kata putih ini disebut kata global yang menyimpang dari hakikatnya.

3. Kulli Mutabayin, yaitu dua perkataan atau lebih yang mana di antara satu sama lain itu memiliki arti yang berlainan, seperti ungkapan, orang, kuda, intan, tumbuh-tumbuhan, maka bisa kita ambil pengertian bahwa, orang bukan kuda, kuda bukan intan, intan bukan tumbuh-tumbuhan.

4. Kulli Mutarodif, yaitu dua kata atau lebih yang memiliki sinonim (persamaan arti) seperti ungkapan wanita dan perempuan, lelaki dan pria, awan dan mendung, pena dan ballpoint.

5. Kulli Musytarok, yaitu satu kata yang memiliki banyak arti dan makna, seperti ungkapan matanya terlihat sangat tajam, dan pisau ini tajam, ucapan tajam pertama dan tajam yang kedua mempunyai arti yang berlainan, misalnya lagi, bulan, sekarang bulan desember, bulan itu tampak begitu indah, bulan pertama dan bulan kedua mempunyai arti berlainan. Inilah yang disebut kata global satu yang banyak arti.


Kata-kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat disebut murokkab, kalimat ini ada dua macam pembagian, yaitu kalimat tholab (permintaan) dan kalimat khobar (pemberitaan). Kalimat permintaan ini dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu:


1. Amar atau perintah, yaitu ucapan yang memiliki arti perintah, perintah yaitu ungkapan dari atasan kepada bawahan untuk melakukan pekerjaan, seperti perintah guru kepada murid, kyai kepada santri, dosen kepada mahasiswa. Duduklah! Kata pak dosen, maka ini disebut amar atau perintah.

2. Doa, atau permohonan. Ialah ucapan yang bersifat memohon yang diucapkan oleh bawahan kepada atasan, semisal permohonan hamba kepada Allah swt. Seperti ucapan, ampunilah hambaMu ini ya Allah.

3. Iltimas atau harapan, ialah ucapan yang memiliki arti permintaan dari orang yang setingkat kepada orang lain yang setingkat pula dengan peminta, misalnya perintah dari mahasiswa satu kepada mahasiswa yang lain, tolong ambilkan bukuku, Bro!, tolong jangan kau ganggu kekasihku!!. Ini disebut iltimas.

 

KULLI, KULLIAT, JUZ’I, JUZ’IYYAT


Sudah kita ketahui bersama bahwa makna dari kulli adalah keseluruhan, dalam arti ada makna yang menyeluruh terhadap sesuatu, penetapan seluruh secara global ini disebut dengan KULLI, sedangkan Kulliyyah adalah menetapkan hukum keseluruhan pada unit satu persatunya. Misal kalimat kulli, “para santri mengangkat musholla”, maka artinya ada penetapan hukum atas santri-santri secara keseluruhan tanpa individu/personalia santri berarti tidak setiap santri mengangkat mushola. Ini disebut kulli, untuk jenis kulliyyah perhatikan contoh berikut ini, para santri mengangkat buku, maka perorang santri mengangkat buku, bukan berarti satu buku diangkat bareng-bareng oleh seluruh santri, ini disebut kalimat kulliyyah. Contoh yang lain “para mahasiswa makan nasi”, kedua “para mahasiswa berpakaian”, contoh pertama tidak semua santri makan nasi, mungkin ada yang sekedar ngopi dan makan jajan gorengan saja, untuk contoh kedua, otomatis bisa dipahami, bahwa tidak ada mahasiswa yang tidak berpakaian, ini macam dari kulliyyah. Maka jika ada yang kuliah tapi tidak berpakaian, berarti ia tidak kuliah. Tetapi sedang stress dan sejenisnya.(intermezzo)

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, tashowur adalah penggambaran atau pengidentifikasian dari sesuatu hal dan membutuhkan ungkapan sebagai penjelas, ungkapan sebagai penjelas ini disebut sebagai qaul syaarih, orang yang mendefinisikan atau menggambarkan sesuatu dengan ungkapan yang jelas disebut dengan mu’arrif, atau pendefinisi. Misal dosen bertanya pada mahasiswanya,”apakah hakikat manusia itu, Rif?”, dijawab oleh mahasiswa itu dengan jawaban’”tidak tahu, Pak”, lalu dosen itu menjelaskan, “manusia adalah hewan yang berfikir”, mahasiswa itu berarti tidak bisa menggambarkan atau membayangkan makna hakikat dari manusia, dosen itu mampu menjelaskan dengan ungkapan yang jelas/qaul syarih, disebut dengan mu’arrif, pendefinisi.

 


Pembagian Mu’arrif.


Ada tiga macam pembagian ta’rif atau pendefinisian. Yaitu:


1. Ta’rif haddi, yaitu ta’rif atau pendifinisian yang menggunakan penyebutan jenis dan fashalnya, seperti pendefinisian manusia, ia adalah hewan yang dapat berfikir, hewan masuk criteria jenis, dan berfikir masuk criteria fashal. Ta’rif haddi dibagi menjadi dua, yaitu haddi naqis dan haddi tamm, haddi naqis adalah mendefinisikan dengan hanya menyebutkan fashal saja atau jenis yang ba’id dan yang washath, misalnya manusia adalah yang dapat berfikir, manusia adalah jisim yang dapat berfikir. Contoh pertama tanpa ada penyebutan jenis, contoh kedua adalah penyebutan jenis ba’id, jenis qarib tidak termasuk dalam criteria ini. Kedua haddi tamm, yaitu penggunaan jenisyang dipakai untuk mendefinisikan, memakai jenis yang qarib, misalnya manusia adalah hewan, hewan ini jenis dekat atau qarib, sebab di bawahnya sudah tidak ada jenis lagi, yang dapat berfikir.


2. Ta’rif rasmi, yaitu ta’rif yang menggunakan jenis dan khashshahnya. Misalnya mendefinisikan manusia dengan ungkapan hewan yang dapat tertawa. Pendefinisian macam ini juga dibagi menjadi dua, yaitu rasmi tamm dan rasmi naqis, rasmi tamm adalah pendefinisian yang menggunakan jenis qarib atau dekat, seperti ungkapan manusia adalah hewan yang dapat tertawa. Sedangkan rasmi naqis adalah pendefinisian yang hanya menggunakan macam khoshoh saja tanpa menyebutkan jenis dari perkara yang didefinisikan. Atau bisa pula menyebutkan jenisnya tetapi yang dipakai bukan jenis qarib, tapi yang ba’id atau yang wasath saja, misalnya manusia adalah yang dapat tertawa, manusia adalah jenis yang dapat tertawa, dan lain sebagainya.


3. Ta’rif lafdzi, ialah pendefinisian yang menggunakan kata senyawa saja yang dapat langsung dimengerti oleh orang yang diajak bicara. Misalnya ucapan “terigu adalah gandum yang ditumbuk dengan halus dan lembut, palu adalah martil dan godam.

 

Syarat-syarat mendefinisikan sesuatu harus mencakup beberapa criteria:


1. Harus berlaku dalam arti bisa memasuki semua unsur yang ingin didefinisikan, dan menolak arti lain dalam arti tidak menerima arti kata lain selain yang didefinisikan itu.


2. Ungkapan yang digunakan harus jelas


3. Tidak dapat menggunakan ungkapan yang lebih tidak dapat dimengerti


4. Harus ada persesuaian, sama antara definisi dan yang didefinisikan.


5. Tidak menggunakan kata kata majaz/perumpamaan dengan tanpa qarinah (cirri-ciri atau tanda).


6. Tidak menggunakan kata kata yang maknanya sinonim atau ganda.


7. Arti dari ungkapan itu dapat diketahui dan dimengerti, tergantung pada penggunaan lafadz yang didefinisikan dan definisinya.

 

 

QODHIYAH DAN HUKUM QODHIYYAH


Qodhiyyah atau khobar adalah suatu ungkapan atau kalimat yang mengandung kebenaran pada dzat ucapan itu, pembuktian adanya berita itu benar atau bohong disebut qadhiyyah atau kalam khobar. Misalnya ucapan kertas itu mudah terbakar, pesawat itu tidak bisa terbang, ungkapan pertama terbukti kebenarannya, ungkapan kedua belum terbukti kebenarannya, bisa saja pesawatnya memang kehabisan bahan bakar sehingga tidak bisa terbang, atau memang pesawat yang ditunjukkan adalah pesawat yang sudah menjadi bangkai. Qadhiyyah ini dibagi menjadi dua, yaitu qadhiyyah syarthiyyah dan yang kedua, qodhiyyah hamliyyah, pertama, qodhiyyah syarthiyyah adalah suatu ungkapan kalimat yang menerangkan adanya ketergantungannya kepada suatu hukum, misalnya ucapan : kalau aku punya uang aku akan naik haji, berarti jika tidak memiliki uang maka tidak bisa pergi haji, karena terjadinya bisa naik haji, disyaratkan adanya kepemilikan uang. Qodhiyyah hamliyyah adalah suatu susunan ungkapan yang menerangkan terjadinya ketetapan suatu hukum tanpa ketergantungan satu sama lain. Qodhiyyah macam ini dibagi menjadi dua, yaitu qodhiyyah hamliyyah syakhshiyyah, qodhiyyah yang menerangkan terjadinya ketetapan hukum pada bagian tertentu saja, semisal, Zaid itu juru tulis, Kholid itu kaya. Kedua, qodhiyyah hamliyyah kulliyyah, qadhiyyah macam ini masih dibagi menjadi dua lagi yaitu kulliyyah musawwaroh, yaitu ungkapan kalimat yang dimulai dengan kullun atau jam’un, seperti ungkapan semua, seluruh, setiap, para dan lain lain. Kedua kulliyyah muhmalah, ia kebalikan dari jenis qodhiyyah sebelumnya, yaitu tanpa menggunakan sur atau kata kata kullun dan jam’un dan semacamnya, seperti ucapan murid itu berolahraga, hewan itu bernafas, penghuni asrama sedang tidur. Dan lain-lain.


Kulliyyah musawwaroh itu terbagi menjadi dua yaitu adakalanya kulli, dan ada kalanya juz’I, keduanya masing masing memilki dua bagian yaitu kulli mujibah, kulli salibah, juz’I mujibah dan terakhir juz’I salibah.

 


Contoh dari masing masing pembagian adalah sebagai berikut:


kulli mujibah : semua manusia itu hewan


kulli salibah : tidaklah semua manusia itu batu


juz’I mujibah : sebagian dari hewan itu manusia


juz’I salibah : tidaklah sebagian dari hewan itu manusia.

 


Qodhiyyah mushawwaroh itu ada kalanya mujibah dan adakala salibah, jadi keempat poin di atas masih dikalikan dengan dua macam, sehingga terjadi 8 qodhiyyah. Yaitu:


kulli mujibah mujibah


semua manusia itu hewan


kulli salibah salibah


semua tidak manusia itu tidak hewan


juz’I salibah mujibah


sebagian hewan itu tidaklah manusia


juz’I mujibah salibah


sebagian manusia bukan batu


kulli mujibah salibah


semua manusia bukan batu


kulli salibah mujibah


semua tidak manusia batu


juz’I mujibah salibah


sebagian hewan itu bukan manusia


juz’I salibah mujibah


sebagian tidaklah manusia itu batu

 

 

Untuk contoh yang lain bisa dicontohkan pada kata-kata berikut ini:


Planet itu bulat.ini kalimat mujibah mujibah, kalau ingin mengungkapkan kulliyyah mujibah salibah, bisa diucapkan semua planet bukan kotak.

 


Kulliyyah mujibah salibah


Atau dengan juz’iyyah salibah mujibah dengan ucapan, tidaklah sebagian planet itu lonjong. Jadi juz’iyyah adalah ada kata kata sebagian, kulliyyah ada kata kata semua atau seluruh, salibah ada kata kata tidak/bukan, dan sebaliknya mujibah tidak ada kata kata “tidak atau bukan” seperti contoh di atas itu.

 


Coba latihan dengan 8 qodhiyyah hamliyyah tadi dengan kalimat berikut ini:


a. Semua manusia pasti mati


b. Tidak semua yang hitam itu manis


c. Sebagian yang merah adalah darah


d. Sebagian yang keras bukanlah batu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *