July 26, 2014
Home » Ngaji » Tawassul Dan Tabarruk Dalam Islam

Tawassul Dan Tabarruk Dalam Islam

SYUBHAT KALANGAN YANG ANTI TABARRUK

 

Kalangan yang anti tabarruk, Ngalap berkah atau TAWASSUL dan semacamnya seringkali ketika mereka terbentur dengan hadits-hadits atau amaliah para ulama salaf dan khalaf yang bertentangan dengan pendapat mereka, mereka mengatakan:

A. Hadits-hadits tentang ngalap berkah dan tawassul ini khusus berlaku kepada Nabi !.

B. Mereka, para ulama tersebut melakukan perbuatan yang nggak ada dalilnya !, maka harus ditolak, siapa-pun orangnya !.

 

Jawab:

 

A. Kita katakan: Adakah dalil yang mengkhususkan tabarruk, ngalap berkah atau tawassul dan istighotsah hanya kepada Nabi ?!! Mana dalil Khushushiyyah (kekhususan) tersebut ?! Apakah setiap ada hadits yang bertentangan dengan pendapat kalian berarti itu khusus berlaku kepada Nabi ?!. Mari kita lihat Metodologi Dan Pemahaman para ulama tentang hadits-hadits Tabarruk, ngalap berkah dan semacamnya, apakah mereka memahaminya khusus kepada Nabi ?. Imam Ibnu Hibban dalam Sahih-nya (2/282) mengatakan:

بَابُ ذِكْرِ إِبَاحَةِ التَّـبَرُّكِ بِوَضُوْءِ الصَّالِحِيْنَ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ إِذَا كَانُوْا مُتَّبِعِيْنَ لِسُنَنِ الْمُصْطَفَى عَنْ ابْنِ أَبِيْ جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ فِيْ قُبَّةٍ حَمْرَاءَ وَرَأَيْتُ بِلاَلاً أَخْرَجَ وَضُوْءَهُ فَرَأَيْتُ النَّاسَ يَبْتَدِرُوْنَ وَضُوْءَهُ يَتَمَسَّحُوْنَ

Ternyata Ibnu Hibban memahami tabarruk, ngalap berkah atau tawassul sebagai hal yang tidak khusus bagi Nabi, tetapi berlaku juga untuk para ulama ‘amilin karena beliau mencantumkan hadits tabarruk dengan air bekas wudlu’ Nabi di bawah bab “Bab Menyebutkan Kebolehan Bertabarruk/ngalap berkah dengan Bekas Air Wudlu’ Orang-orang Saleh dari kalangan para ulama, jika mereka memang mengikuti sunnah-sunnah Nabi”.

Syekh Mar’i al Hanbali mengatakan dalam Ghayatul Muntaha (1/259-260):

وَلاَ بَأْسَ بِلَمْسِ قَبْرٍ بِيَدٍ لاَ سِيَّمَا مَنْ تُرْجَى بَرَكَتُهُ“.

“Dan tidak mengapa menyentuh kuburan dengan tangan, apalagi kuburan orang yang diharapkan berkahnya”.

Bahkan dalam kitab al Hikaayaat al Mantsurah karya al Hafizh adl-Dliya’ al Maqdisi al Hanbali, beliau menyebutkan bahwa beliau mendengar al Hafizh Abdul Ghani al Maqdisi al Hanbali mengatakan suatu ketika di lengannya muncul penyakit seperti bisul, dia sudah berobat ke mana-mana dan belum sembuh juga. Akhirnya ia pergi ke kuburan Ahmad bin Hanbal. Ia mengusapkan lengannya tersebut, lalu penyakit itu sembuh dan tidak pernah kambuh lagi. Inilah knapa kita jangan sampai terkena fitnah doktrin Tipu Muslihat Seputar Kuburan

As-Samhudi dalam Wafa’ al Wafa (4/1405) menukil dari al Hafizh Ibnu Hajar bahwa beliau mengatakan:

اِسْتَنْبَطَ بَعْضُهُمْ مِنْ مَشْرُوْعِيَّةِ تَقْبِيْلِ الْحَجَرِ الأَسْوَدِ جَوَازَ تَقْبِيْلِ كُلِّ مَنْ يَسْتَحِقُّ التَّعْظِيْمَ مِنْ ءَادَمِيٍّ وَغَيْرِهِ، فَأَمَّا تَقْبِيْلُ يَدِ الآدَمِيِّ فَسَبَقَ فِيْ الأَدَبِ، وَأَمَّا غَيْرُهُ فَنُقِلَ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ تَقْبِيْلِ مِنْبَرِ النَّبِيِّ وَقَبْرِهِ فَلَمْ يَرَ بِهِ بَأْسًا، وَاسْتَبْعَدَ بَعْضُ أَتْبَاعِهِ صِحَّتَهُ عَنْهُ وَنُقِلَ عَنْ ابْنِ أَبِيْ الصَّيْفِ اليَمَانِيِّ أَحَدِ عُلَمَاءِ مَكَّةَ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ جَوَازُ تَقْبِيْلِ الْمُصْحَفِ وَأَجْزَاءِ الْحَدِيْثِ وَقُبُوْرِ الصَّالِحِيْنَ، وَنَقَلَ الطَّيِّبُِ النَّاشِرِيُّ عَنْ الْمُحِبِّ الطَّبَرِيِّ أَنَّهُ يَجُوْزُ تَقْبِيْلُ الْقَبْرِ وَمسُّهُ قَالَ: وَعَلَيْهِ عَمَلُ العُلَمَاءِ الصَّالِحِيْنَ“.

“Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Sebagian ulama mengambil dalil dari disyari’atkannya mencium hajar aswad, bolehnya mencium setiap yang berhak untuk diagungkan; manusia atau lainnya. Tentang mencium tangan manusia telah dibahas dalam bab Adab. Sedangkan tentang mencium selain manusia, telah dinukil dari Ahmad bahwa beliau ditanya tentang mencium mimbar dan kuburan Nabi dan beliau membolehkannya, dan sebagian pengikutnya meragukan kebenaran nukilan dari Ahmad ini. Dinukil juga dari Ibnu Abi ash-Shaif al Yamani, salah seorang ulama madzhab Syafi’i di Makkah, kebolehan mencium Mushaf, buku-buku hadits dan kuburan orang saleh. Ath-Thayyib an-Nasyiri menukil dari al Muhibb ath-Thabari bahwa boleh mencium kuburan dan menyentuhnya, dan dia mengatakan: ini adalah amaliah para ulama sholihin”.

Keraguan yang disebutkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dari sebagian orang yang mengaku sebagai pengikut Ahmad ibn Hanbal jelas tidak beralasan sama sekali, karena pernyataan Imam Ahmad tersebut telah kita kutipkan langsung dari buku-buku putera beliau sendiri Abdullah; Su-aalaat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan al ‘Ilal Wa Ma’rifah ar-Rijal seperti telah kita sebutkan di atas.

Al Badr al ‘Ayni dalam ‘Umdah al Qari (9/241) menukil dari al Muhibb ath-Thabari bahwa ia mengatakan:

وَيُمْكِنُ أَنْ يُسْتَنْبَطَ مِنْ تَقْبِيْلِ الْحَجَرِ وَاسْتِلاَمِ الأَرْكَانِ جَوَازُ تَقْبِيْلِ مَا فِيْ تَقْبِيْلِهِ تَعْظِيْمُ اللهِ تَعَالَى فَإِنَّهُ إِنْ لَمْ يَرِدْ فِيْهِ خَبَرٌ بِالنَّدْبِ لَمْ يَرِدْ بِالكَرَاهَةِ، قَالَ: وَقَدْ رَأَيْتُ فِيْ بَعْضِ تَعَالِيْقِ جَدِّيْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِيْ بَكْرٍ عَنْ الإِمَامِ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِيْ الصَّيْفِ أَنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَصَاحِفَ قَبَّلَهَا وَإِذَا رَأَى أَجْزَاءَ الْحَدِيْثِ قَبَّلَهَا وَإِذَا رَأَى قُبُوْرَ الصَّالِحِيْنَ قَبَّلَهَا، قَالَ: وَلاَ يَبْعُدُ هذَا وَاللهُ أَعْلَمُ فِيْ كُلِّ مَا فِيْهِ تَعْظِيْمٌ للهِ تَعَالَى

“Dan bisa diambil dalil dari disyari’atkan mencium hajar aswad dan melambaikan tangan terhadap sudut-sudut Ka’bah, kebolehan mencium setiap sesuatu yang jika dicium maka itu mengandung pengagungan kepada Allah, karena meskipun tidak ada dalil yang menjadikannya sunnah tetapi juga tidak ada yang memakruhkan. Al Muhibb ath-Thabari melanjutkan: Aku juga telah melihat dalam sebagian Ta’aliiq kakek-ku Muhammad bin Abu Bakr dari Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Abu ash-Shaif bahwa sebagian ulama dan orang-orang saleh ketika melihat mushaf mereka menciumnya, dan ketika melihat buku-buku hadits mereka menciumnya dan ketika melihat kuburan orang-orang saleh mereka menciumnya, ath-Thabari mengatakan: ini bukan sesuatu yang aneh dan jauh dari dalil –Wallahu A’lam- dalam segala sesuatu yang mengandung unsur Ta’zhim (pengagungan) kepada Allah”.

Ternyata para AHLI HADITS seperti imam Ibnu Hibban, al Muhibb ath-Thabari, al Hafizh adl-Dliya’ al Maqdisi al Hanbali, al Hafizh Abdul Ghani al Maqdisi al Hanbali dan para ulama Syurrah al Bukhari (para penulis kitab-kitab syarah -penjelasan- terhadap Sahih al Bukhari) seperti al Hafizh Ibnu Hajar, al Badr al ‘Ayni, juga para ahli fiqh Hanbali seperti Syekh Mar’i al Hanbali dan lainnya, semuanya memahami bahwa bolehnya bertabarruk /Ngalap berkah tidak khusus berlaku bagi Nabi. Lalu apa yang akan dikatakan oleh orang-orang yang anti tabarruk ?!!.

 

B. Jika dalil-dalil yang telah kita sebutkan itu bukan ARGUMEN SANG MUWAHHID, lalu apa yang mereka maksud dengan dalil ? Apakah baru disebut dalil jika disebutkan oleh panutan-panutan mereka saja ?!!. Siapakah yang lebih tahu dalil dan memahami agama ini, mereka yang anti tabarruk ataukah Imam Ahmad ibnu Hanbal dan para ulama ahli hadits dan fiqih ?!!.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>