July 24, 2014
Home » Ngaji » Doa Dan Ijabah Dalam Wirid Ibnu ‘Arabi

Doa Dan Ijabah Dalam Wirid Ibnu ‘Arabi

Syekh Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi memiliki amalan wirid yang masyhur: al-Awrad al-yawmiyya, atau Awrad al-ayyam wa al-layal, yang dibaca setiap hari pada waktu tertentu. Dan kita tahu banyak wirid yang mesti dibaca dalam hari, atau waktu tertentu, untuk mendapatkan hasil optimal. Kita tentu menduga bahwa ada sesuatu dibalik “waktu” sehingga para Awliya Allah memberi perhatian pada bagian-bagian dari waktu itu.

Wird sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain.  Akar kata wird mengandung konotasi mencapai, menjangkau, sampai, muncul atau diterima. Bagi para pengembara gurun di Arab, akar kata ini merujuk pada sumber air, oase, atau sumur, tempat para pengelana mengambil air. Dalam konteks spiritual, istilah “wird” itu biasanya diaplikasikan pada amalan khusus pada waktu tertentu pada siang atau malah hari. Ini adalah amalan tambahan (sunnah).

Ada banyak wirid sufi termasyhur selain wiridnya Ibn Arabi, seperti Hizb Bahr nya Syekh Hasan Syadzili, atau Hizb Nawawi, dan sebagainya. Amalan itu bukan amalan biasa, dan biasanya tidak dimaksudkan untuk dibaca secara berjamaah. Dalam kasus DOA Ibn Arabi ini, dan doa-doa sufi agung lainnya, amalan lebib sering berbentuk seperti “munajat”, dimana isinya mengandung indikasi betapa mendalamnya pemahaman spiritual penyusunnya.  Maknanya menunjukkan bahwa apa yang “dibaca” adalah hal-hal yang “mendatangi hati” (warid) dan “diterima” oleh pembacanya.  Yang istimewa dari setiap amalan Wali Allah adalah ia bukan sekadar bacaan dan doa, tetapi juga sarana pendidikan ruhani yang penting.

Dalam surat ar-Rahman tercantum bahwa Setiap yang ada di langit dan bumi memohon kepada-Nya; dan setiap saat Dia selalu dalam kesibukan (beraktivitas). Bagi Syekh Ibn Arabi, ayat ini mengekspresikan tema eksistensi yang penting. Setiap saat, semua makhluk, dari yang sebesar galaksi sampai partikel terkecil, selalu memohon dan menerima anugerah pemeliharaan, baik secara fisik maupun ruhani. Menurut beliau, tak ada satupun makhluk yang tidak memohon kepada Allahu ta’ala, tetapi masing-masing menerima jawaban sesuai dengan tingkat permohonannya. Jadi sebagian dari “kesibukan” Tuhan adalah memberi jawaban atas doa. Respon Tuhan secara intrinsik adalah keniscayaan, sebab Dia-lah yang mewajibkan hamba-Nya berdoa dan Dia pula yang berjanji menjawabnya. Ini adalah hubungan timbal-balik: Tuhan dan hamba adalah yang meminta sekaligus yang diminta (talib ma matlub). Barangsiapa menjawab “panggilan” Tuhan melalui Hukum Wahyu, maka Tuhan akan menjawab permintaan hamba-Nya yang memenuhi panggilan-Nya. Maka, pada hakikatnya, menurut Syekh Ibn Arabi, semua permintaan tertuju kepada-Nya, sebab tidak sesuatupun (wujud) selain Dia.

Karena selalu ada jawaban dari Allah atas permintaan kita, maka kita seharusnya menyadari betul hal-hal yang  dimintakan. Syekh Ibn Arabi menulis dalam Futuhat al-Makiyyah, IV:

“Allah lebih dekat kepada hamba-Nya ketimbang urat lehernya.” Disini Dia membandingkan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya dengan kedekatan hamba dengan dirinya sendiri. Ketika seseorang “meminta” dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu dan kemudian ia bertindak, maka tak ada jeda waktu antara permintaan dengan respon. Momen meminta pada esensinya adalah momen menjawab. Jadi kedekatan Tuhan dalam menjawab hamba-Nya adalah sama dengan kedekatan hamba dalam menjawab permintaan pada dirinya sendiri.

Pada hakikatnya, dibalik setiap permintaan ada satu tujuan utama: memandang segala sesuatu dari perspektif riil. Dalam pengertian ini, setiap doa adalah sebentuk “mengingat” atau zikir.  Saat membaca doa, seseorang [seharusnya] tidak sekadar membaca berulang-ulang secara mekanis, tetapi sembari menghayati dan menyadari serta mengakui Kehadiran Tuhan. Ini berarti ia harus mengingat-Nya dengan sepenuh hati. Jika ia sampai pada level ini maka doa menjadi ingatan timbal-balik, seperti firman-Nya: “Ingatlah Aku dan Aku akan mengingatmu.”

Bentuk doa yang paling intim adalah munajat, semacam dialog dengan Yang Maha Goib. Membaca teks doa hanya satu bagian. Bagian lain yang lebih penting adalah “situasi dialog yang akrab” dengan Allah, mengingat-Nya sepenuh hati, mengundang-Nya dan, karena itu, diundang oleh-Nya. Maka dengan berdoa seseorang sesungguhnya juga “kembali” kepada hakikat dari kenyataan, sebuah tindakan “kembali” ke asal yang mesti diulang secara konstan. Semua mursyid tarekat menekankan bahwa hal ini tidak bisa dicapai melalui proses intelektual biasa, tetapi melalui hati (qalb), sebab hati adalah cermin yang memantulkan tajalli Ilahi dan, karenanya, hanya hati yang :bisa “melihat” manifestasi ilahi. Kapasitas hati untuk melihat inilah yang mentransformasi doa dari bentuk repetisi menjadi sebuah percakapan yang bermakna dan intim.

Dalam kitab Fusush al-Hikam, Bab Tentang Muhammad, Syekh Ibn Arabi menulis: “Karena doa adalah percakapan yang intim, maka ia adalah juga zikir. Dan barangsiapa mengingat Allah, ia bersama dengan Allah dan “duduk” bersama-Nya… dan barangsiapa yang “duduk” bersama Allah dan memiliki mata batin yang jernih, ia akan “memandang teman duduknya.” Ini adalah mushahadah dan ru’yat. Jika dia tak memiliki mata batin maka dia tak akan mampu melihat-Nya. Sesungguhnya melalui penglihatan batin dalam doa inilah orang yang berdoa akan mengenali maqom spiritualnya.”

Doa yang sejati adalah doa yang diiringi dengan kesadaran penuh akan kehadiran “Dia” yang meliputi segala sesuatu, dan karenanya menyadari bahwa diri pendoa adalah “bagian terbatas” dari “Dia” tetapi tanpa menambah atau mengurangi Dzat-Nya. Dzat-Nya akan tetap sebagaimana adanya tanpa penambahan atau pengurangan meski Dia bertajalli terusmenerus tanpa terbilang. Ini berarti seseorang melangkah dari ketidakhadiran ke dalam Kehadiran Ilahi, dan karena itu doa hamba pada level ini sesungguhnya diilhamkan kepadanya oleh Tuhan yang Maha Mengetahui, dan karena itu, jawaban atas doa hamba adalah seketika, tanpa jeda — “Dia setiap saat dalam kesibukan.” Saat permintaan dan jawaban terjadi serentak, kita menyebutnya ijabah. dan di antara kelompok orang yang paling sering mencapai momen pertemuan “permintaan dan jawaban” adalah orang yang suci hati dan pikirannya: para wali Allah.

Wa Allahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>