Home Ngaji Langit Adalah Qiblat Do’a, Bukan Tempat Allah

Langit Adalah Qiblat Do’a, Bukan Tempat Allah

Bismillah, segala puji bagi Allah, maha suci Allah dari sifat bertempat dan dari segala sifat makhluk lain nya, rahmat dan sejahtera senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kepada keluarga dan semua sahabat nya, semoga akidah kita tidak dikotori oleh aqidah rusak Wahabi yang disembunyikan dibalik nama “Manhaj Salaf” dan semoga kita semua tidak tertipu dengan nama-nama atau istilah yang terkesan benar, tapi hakikatnya sangat jauh dari kebenaran, wallahul musta’an.

Sering kita jumpai dalam artikel Wahabi atau dalam buku putih Wahabi, tentang “mengangkat tangan ketika berdoa, menunjukkan Tuhan dilangit/Arasy” itulah logika (dalil akal) yang mereka pakai saat mereka mencoba mempengaruhi orang awam dengan sekte sesatnya, agar orang terjebak dan meyakini Tuhan berada dilangit/Arasy, dengan cara-cara yang Islami (terkesan Islami), artinya mereka tidak mengingkari Al-Quran Hadits secara terang-terangan, tapi mengingkari pemahaman/pendapat Ulama dari Al-Quran Hadits tersebut dengan bermacam dalih, baik Ghuluw, Taqlid, atau lainnya, tanpa pernah bisa merasa bahwa mereka-lah yang hakikatnya Ghuluw dan Taqlid buta, karena mengikuti pemahaman/pendapat seorang Syekh yang tidak belum sampai pada tingkat Syekh yang bisa di ikuti (Mujtahid), nah logika tadi itulah yang sering ditambahkan sebagai penguat dalil dari Al-Quran-Hadits yang belum mendukung dan sejalan dengan pemahaman mereka “Tuhan berada di atas langit/Arasy” sekaligus dengan logika itu mereka ingin mengingkari “Allah ada tanpa arah dan tempat” inilah aqidah Ahlus Sunnah, Maha suci Allah dari sifat-sifat makhluk. bahkan yang lucu dan lugu nya mereka, sikap mereka yang sangat anti logika sekalipun sesuai dengan dalil syar’i, tapi menerima logika yang tidak logis dan bertentangan dengan dalil syar’i, wallahul muwaffiq

Keterangan para Ulama tentang mengangkat tangan ketika berdoa

Arasy bukan tempat AllahPada kitab shalat Istisqa’ – Bab: Mengangkat dua tangan pada doa minta hujan, Imam Muslim meriwayatkan satu hadits, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ لَا تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ
“Hendaklah kaum-kaum menghentikan mengangkat pandangan mereka ke langit dalam Shalat atau tidak akan dikembalikan pandangan kepada mereka”
Berkata Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim Jilid 4 halaman 127: “Dalam Hadits tersebut terdapat larangan yang kuat dan peringatan yang berat tentang demikian (lihat ke langit dalam shalat), dan telah ada yang menghikayahkan Ijma’ pada larangan demikian, dan berkata Qadhi ‘Iyadh: para Ulama berbeda pendapat tentang Makruh mengangkat pandangan (mata) ke langit saat berdoa di luar shalat, makruh menurut Syuraih dan beberapa Ulama lain, dan boleh menurut kebanyakan Ulama dan mereka beralasan karena langit itu qiblat doa sebagaimana Ka’bah itu Qiblat Shalat, tidak diingkari mengangkat pandangan ke langit sebagaimana tidak dimakruhkan mengangkat tangan, telah berfirman Allah taala
وَفِي السَّمَاء رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Dan di langit itu rezeki kalian dan sesuatu yang di janjikan bagi kalian” [Adz-zariyat: 22]

Berkata Imam Ahlus Sunnah Abu Mansur Al-Maturidi: “Adapun mengangkat tangan ke langit adalah ibadah, hak Allah menyuruh hamba-Nya dengan apa yang Ia kehendaki, dan mengarahkan mereka kemana yang Ia kehendaki, dan sesungguhnya sangkaan seseorang bahwa mengangkat pandangan ke langit karena Allah di arah itu, sungguh sangkaan itu sama dengan sangkaan seseorang bahwa Allah di dasar bumi karena ia meletakkan muka nya di bumi ketika Shalat dan lain nya, dan juga sama seperti sangkaan seseorang bahwa Allah di timur/barat karena ia menghadap ke arah tersebut ketika Shalat, atau Allah di Mekkah karena ia menunaikan haji ke Mekkah” [Kitab At-Tauhid - 75]

Adapun yang terdapat dalam (al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah hal.45)
“Kami melihat seluruh kaum muslimin mengangkat tangan-tangan mereka ke arah langit pada saat berdoa. Karena Allah ber-istiwa’ diatas Arsy yang berada diatas seluruh langit. Kalau bukan karena Allah berada diatas Arsy, niscaya mereka tidak akan mengangkat tangan-tangan mereka ke arah Arsy”.
Tulisan itu dapat dipastikan bukan dari Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, dengan membandingkan dengan apa yang disampaikan oleh Imam Abu Mansur Al-Maturidi dalam Kitab At-Tauhid – 75 di atas, karena kedua Imam Ahlus Sunnah itu tidak berbeda dalam asal Tauhid, cuma berbeda dalam furu’ Tauhid, oleh karena demikian kedua nya menjadi Imam Ahlus Sunnah Waljama’ah.

Berkata Imam Nawawi: “Dan Dialah Allah yang apabila orang menyeru-Nya, orang itu menghadap ke langit (dengan tangan), sebagaimana orang Shalat menghadap Ka’bah, dan tidaklah demikian itu karena Allah di langit, sebagaimana bahwa sungguh Allah tidak berada di arah Ka’bah, karena sesungguhnya langit itu qiblat orang berdoa sebagaimana bahwa sungguh Ka’bah itu Qiblat orang Shalat” [Syarah Shahih Muslim jilid :5 hal :22]

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Ibnu Batthal berkata: para Ulama telah sepakat atas makruh angkat pandangan dalam Shalat, dan berbeda pendapat Ulama dalam masalah itu pada doa di luar Shalat, Makruh menurut Syuraih dan satu Jama’ah, dan boleh menurut kebanyakan Ulama, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa, sebagaimana Ka’bah itu qiblat Shalat” [Fathul Bari, jilid 2, hal 296]

Al-Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali barkata: “Adapun mengangkat tangan ketika berdoa kepada Allah dengan menghadapkan telapak tangan tersebut ke arah langit adalah karena arah langit kiblat doa. Dalam pada ini terdapat gambaran bahwa Allah yang kita mintai dalam doa tersebut adalah maha pemiliki sifat yang agung, maha mulia dan maha perkasa. Karena Allah atas setiap segala sesuatu maha menundukan dan maha menguasai”.[Ihya’ ‘Ulumiddin, jilid 1, hal 128]

Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi berkata: “Maka adapun angkat tangan ke arah langit ketika berdoa, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa” [Ittihaf, jilid 2, hal 170].
kemudian Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi juga berkata:
Jika dipertanyakan, ketika adalah kebenaran itu maha suci Allah yang tidak ada jihat (arah), maka apa maksud mengangkat tangan dalam doa ke arah langit ?
maka jawaban nya dua macam yang telah disebutkan oleh At-Thurthusyi :
pertama: sesungguhnya angkat tangan ketika doa itu permasalahan Ibadah seperti menghadap Ka’bah dalam Shalat, dan meletakkan dahi di bumi dalam sujud, serta mensucikan Allah dari tempat Ka’bah dan tempat sujud, maka langit itu adalah qiblat doa.
kedua: manakala langit itu adalah tempat turun nya rezeki dan wahyu, dan tempat rahmat dan berkat, karena bahwa hujan turun dari langit ke bumi hingga tumbuhlah tumbuhan, dan juga langit adalah tempat Malaikat, maka apabila Allah menunaikan perkara, maka Allah memberikan perkara itu kepada Malaikat, dan Malaikat-lah yang memberikan kepada penduduk bumi, dan begitu juga tentang diangkat nya segala amalan (kepada Malaikat juga), dan dilangit juga ada para Nabi, dan langit ada Syurga yang menjadi cita-cita tertinggi, manakala adalah langit itu tempat bagi perkara-perkara Mulia tersebut, dan tempat tersimpan Qadha dan Qadar, niscaya tertujulah semua kepentingan ke langit, dan orang-orang berdoa pun menunaikan ke atas langit”[Ittihaf, jilid 5, hal 244]

Kesimpulan:
*** Mengangkat tangan ketika berdoa tidak menunjukkan keberadaan Allah di langit, sama seperti menghadap Qiblat (Ka’bah) tidak menunjukkan keberadaan Allah dalam Ka’bah.
*** Hikmah mengangkat tangan itu murni hanya untuk Ta’abbud, artinya kita melalukan nya karena Allah telah memerintahkan nya tanpa harus apa maksud nya, atau karena Allah telah menyediakan semua kebutuhan kita di langit (menurut satu pendapat lagi).
*** Tidak ada dalil yang Shahih bahwa mengangkat tangan ke langit itu menunjukkan keberadaan Allah, Maha suci Allah dari sifat makhluk.
*** Betapa tidak kuat nya dalil mereka yang meyakini Allah di langit/Arasy sehingga terpaksa menggunakan dalil akal-akalan yang tidak logis sama sekali, meskipun sepintas agak masuk akal, dan akan tergoda orang yang belum punya Tauhid yang kuat.
*** Wahabi sangat anti dalil Aqli bila tidak sesuai selera mereka, tapi sangat suka mengakali biarpun tidak masuk akal sehat.

Kepada Allah-lah kita berserah diri, semoga Allah menampakkan kebenaran bagi yang berlari menghindari kebenaran itu, dan semoga Allah menetapkan hati kita dalam kebenaran, wallahu a’lam bis shawab.

Comments
  1. pakaian indonesia
  2. Alfred

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *