Home mozaik Peringatan Bagi Mereka Yang Hoby Membicarakan Ayat2 Mutasyabihat

Peringatan Bagi Mereka Yang Hoby Membicarakan Ayat2 Mutasyabihat

Peringatan Bagi Mereka Yang Hoby Membicarakan Ayat2 Mutasyabihat

Peringatan Bagi Mereka Yang Hoby Membicarakan Ayat2 Mutasyabihat

Ada sebuah golongan ahir zaman yang sangat hoby sekali membicarakan ayat2 Mutasyabihat, mereka membuat alasan dalam rangka memurnikan Tauhid atau yang lain, siapa lagi kalau bukan Salafy Wahhabi?, padahal dalam sebuah ayat dalam Surat Ali Imran di nyatakan sebagai berikut:


هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولو الألباب

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya,padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah,Dan orang- orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat,semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang orang yang berakal”

Imam Al Thobari menjelaskan dalam Kitab Tafsirnya yang di maksud Ayat Muhkamat adalah :

وأما”المحكمات”، فإنهن اللواتي قد أحكمن بالبيان والتفصيل، وأثبتت حججهن وأدلتهن على ما جُعلن أدلة عليه من حلال وحرام، ووعد ووعيد، وثواب وعقاب، وأمر وزجر، وخبر ومثل، وعظة وعِبر، وما أشبه ذلك.

“Adapun {Ayat Muhkamat} adalah Ayat2 yg di gunakan sebagai Hukum yang Jelas (Paten) dan terperinci, dan telah mantap Hujjah2nya dan Dalil2nya yang di jadikan sebagai dalil atas perkara yang halal dan haram, ancaman, janji, pahala, siksa, perintah, Himbauan, Kabar dan perumpamaan, Nasihat, Ibarat dan lain2.

Namun mengenahi Ayat2 Muhkamat dan Mutasyabihat ini Para Ulama berbeda pandangan dalam menjelaskan dan mendefinisikannya.

Al Qotthon mendefinisikan dalam Tafsirnya dengan:

آيات محكمات : محكمة العبارة لا تقبل الصرف عن ظاهرها

“Ayat Muhkamat: Akuratnya Kalimat yang tidak bisa menerima pengalihan dari Dzahirnya” (Tidak mungkin di alihkan arti dan tujuannya pen)

Selaras dengan kebanyakan Mufassir ketika mentafsirkan Ayat Mutasyabihat itu dengan واضحات المعنى ، لا اشتباه فيها ولا إجمال (Jelas Artinya, tidak ada kesamaran di dalamnya dan tidak ada arti secara Umum pen)

Adapun Ayat mana saja, yang sebagai Ayat Muhkamat, para ‘Ulama juga berbeda pandangan, namun tidak jauh juga dari Definisi di atas, yaitu pada ayat2 yang tentang Halal dan Haram, larangan syirik dll.

Tentang Ayat Mutasyabihat tentu kita akan mengetahuinya dg Definisi Ayat Muhkamat di atas, karena Ayat Muhkamat adalah Lawan Kata dari Ayat Mutasyabihat. seperti Tafsir Imam Qurthubi ketika menjelaskan apa itu Ayat Mutasyabihat dengan:

وأما قوله:”متشابهات”، فإن معناه: متشابهات في التلاوة، مختلفات في المعنى

( Adapun yang di Maksud dg Sabda Allah “Mutasyabihat” maka artinya adalah: Kesamarannya dalam hal bacaannya, dan kesamarannya dalam artinya).

Dalam Ayat2 Mutasyabihat ini kita harus hati2 untuk membicarakannya, apalagi ketika di bawa dalam forum Umum, cukup kiranya peringatan dari Nabi Sendiri terhadap orang2 yang suka membicarakan ayat2 mutasyabihat yang di sampaikan Oleh Al Khafidl Ibnu Hajar dalam Kitabnya Al Matholibu Al ‘Aliyyah 3/300 :


قال الحافظ أبو يَعْلَى: حدثنا أبو موسى، حدثنا عمرو بن عاصم، حدثنا المعتمر، عن أبيه، عن قتادة، عن الحسن عن جندب بن عبد الله أنه بلغه، عن حذيفة -أو سمعه منه-يحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه ذكر: ” إن في أمّتي قومًا يقرؤون القرآن يَنْثُرُونَهُ نَثْر الدَّقَل، يَتَأوَّلُوْنَهُ على غير تأويله”.


 

 

 

“Dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam Beliau bersabda: Sesungguhnya dalam Ummatku terdapat Kaum yang membaca Al Quran, mereka menghamburkannya seperti terhamburnya Mulut, mereka mentakwilkan Al Quran tidak di atas takwil yang sesungguhnya”

Perhatikan Kalimat ini وما يعلم تأويله إلا الله : “dan tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah”

Dalam Ayat inipun ada perbedaan dalam hal tafsirnya di sebabkan adanya perbedaan dalam cara memberhentikan bacaan (WAQAF).

Sebagian ulama menyatakan bahwa terdapat woqf tam / wajib berhenti setelah kalimat “وما يعلم تأويله إلا الله” sehingga maknanya menjadi “dan tidaklah dapat memahami ta’wilnya melainkan Allah”, kemudian huruf wawu setelahnya adalah wawu isti’naf (wawu untuk memulai kalimat baru) ar raasikhuuna fil ilmi menjadi mubtada’ dan jumlah setelahnya menempati posisi khobarul mubtada’. Berdasarkan pendapat pertama ini, makna ayat menjadi : ”dan tidaklah mengetahui ta’wilnya kecuali Allah (WAQOF), Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: kami beriman dengannya, semua dari sisi Tuhan kami. Ini adalah pendapat SEBAGIAN ulama, baik salaf maupun kholaf.

Sementara, sebagian ulama menyatakan bahwa huruf wawu setelah Lafdzul Jalaalah (Allah) adalah wawu athof (kata sambung), sedangkan jumlah (kalimat) yaquuluuna.. dst menempat posisi haal bagi ar raasikhuuna fil ilmi.

Perhatikan juga Kalimat ini والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا

Dan orang- orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat,semuanya itu dari sisi Tuhan kami.

Dengan begitu,maknya ayat menjadi :”dan tidaklah mengetahui ta’wilnya kecuali Allah (TIDAK WAQAF) dan orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu(WAQAF), sedang mereka (orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu) berkata: kami beriman dengannya (Al Qur’an) semua dari sisi Tuhan Kami…(JUMLAH ISTI-NAF).

Pendapat ini diikuti oleh ulama salaf antara lain Mujahid dan Adh Dhohak, DAN dari ulama kholaf antara lain An Nawawi dan Ibnu Hajib.Mujahid berkata: ar roosikhuuna fil ilmi, mereka mengetahui ta’wilnya dan berkata: kami beriman dengannya, Adh Dhohak berkata: orang-orang yang
memiliki kedalaman ilmu mengetahui ta’wilnya,seandainya mereka tidak tahu,niscaya mereka akan tidak tahu mana yang menghapus (NASIKH) dan mana yang dihapus/ MANSUKH, mana yang halal dan mana yang haram,serta mana yang mUhkam dan mana yang mutasyabih; Al
Ghozali berkata (jika mutasyabih itu adalah lafadz yang mujmal maka) disambung lebih benar, karena Allah Ta’aalaa tidak mungkin menyeru Orang Arab dengan sesuatu yang tidak ada jalan bagi seorang pun dari makhluqNya untuk memahaminya; An Nawawi berkata, Itu lebih shohih,
karena jauh kemungkinan Allah menyeru hambaNya dengan sesuatu yang tidak ada jalan bagi seorang pun dari makhluqNya untuk memahaminya; Ibnu Hajib berkata:Itulahyang dzohir/ tampak jelas.[AL ITQAN FI ULUMIL QURAN KARYA IMAM AS SUYUTI)

Pengertian Takwil

Secara laughwi (etimologis) ta’wil berasal dari kata ألأولى (al-awla), artinya kembali; atau dari kata al ma’al( ) artinya tempat kembali; al- iyalah( ) yang berarti al –siyasah( ) yang berarti mengatur. Muhammad husaya al-dzahabi , mengemukakan bahwa dalam pandangan ulama salaf (klasik), ta’wil memilki dua pengertian :

Pertama : penafsirkan suatu pembicaraan teks dan menerangkan maknanya, tanpa mempersoalkan apakah penafsiran dan keterangan itu sesuai dengan apa yang tersurat atau tidak.

Kedua : ta’wil adalah substansi yang dimaksud dari sebuah pembicaraan itu sendiri (nafs al- murad bi al-kalam). Jika pembicaraan itu berupa tuntutan , maka tak’wilnya adalah perbuatan yang dituntut itu sendiri. Dan jika pembicaraan itu berbentuk berita. Maka yang dimaksud adalah substansi dari suatu yang di informasikan.

Sedangkan pengertian Ta’wil, menurut sebagian ulama, sama dengan Tafsir. Namun ulama yang lain membedakannya, bahwa ta’wil adalah mengalihkan makna sebuah lafazh ayat ke makna lain yang lebih sesuai karena alasan yang dapat diterima oleh akal . Sehubungan dengan itu, Asy-Syathibi mengharuskan adanya dua syarat untuk melakukan penta’wilan, yaitu:

(1) Makna yang dipilih sesuai dengan hakekat kebenaran yang diakui oleh para ahli dalam bidangnya [tidak bertentangan dengan syara’/akal sehat],

(2) Makna yang dipilih sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab klasik pada saat turunnya Alquran].

Apapun perbedaan Definisinya, yang jelas adalah, “Yang Boleh melakukan Takwil hanya Orang2 yang Mendalam Ilmunya” dari para pakar inilah Argumen Sang Muwahhid di ambil, seperti banyak sekali Ayat dan Hadits yang ternyata di Takwil Oleh Para Pakarnya, seperti yang terdapat dalam Syarah Sahih Muslim oleh Al Qodli ,Iyadl:

القاضي عياض : لا خلاف بين المسلمين قاطبةً فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى : ” أأمنتم من في السماء ” ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم.

Hal ini juga di nyatakan Oleh Imam Al Dzahabi sendiri dalam Kitab Siyar Alam Nubala 8/105 seperti berikut:


ﻻ ﻳﺮﺩ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﺍﻻ ﺍﻵﻗﺮﺍﺭ ﻭﺍﻻﻣﺮﺍﺭ ﻭﺗﻔﻮﻳﺾ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺍﻟﻲ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﺩﻕ ﺍﻟﻤﻌﺼﻮﻡ

“TIDAKLAH DATANG DI DALAM BAB INI TENTANG SIFAT KECUALI IQROR: MENGUCAPKAN DAN
IMROR:MEMBERJALANKAN DISERTAI TAFWID MAKNA: MENYERAHKAN MAKNANYA KEPADA YG MENGUCAPKANNYA YANG BENAR DAN TERJAGA “

Simak Kelanjutannya hanya di Warkop

Comments
  1. Cyelii

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *