Home mozaik ziyarat maqam di hina wahabis

ziyarat maqam di hina wahabis

Mereka menghujat saudara muslim lainya sebagai penyembah kubur

Salah satu hal yang sangat memprihatinkan dari mereka adalah berprasangka buruk terhadap saudara-saudara muslim kita yang melaksanakan ziarah kubur para Wali Songo atau orang-orang sholeh lainnya. Mereka langsung menghakiminya sebagai para penyembah kubur dengan sebutan Kuburiyyun.

Bahkan dalam http://alghuroba.org/front/nod

e/r/204 dituliskan “Tokoh-tokoh agama dari berbagai ormas Islam tersebut bersama kalangan ‘Haba’ib’ (yaitu kalangan kuburiyyun atau para penyembah kuburan) merasa terancam pengaruhnya sehingga mereka bergandengan tangan satu dengan yang lainnya untuk melawan Dakwah Salafiyah”.

“Haba’ib” yang mereka maksudkan sebagai penyembah kuburan.   Dakwah Salafiyah yang mereka maksudkan adalah dakwah berdasarkan pemahaman Ibnu Taimiyah (Salafi) melalui pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab atau Salafi Wahhabi atau disingkat Wahhabi.  Pemahaman yang di”ekspor” oleh penguasa kerajaan dinasti Saudi sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/18/agar-tidak-memu

suhi/

Hal ini mengingatkan kami pada perkataan Rasulullah yang artinya “Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak ?”.  (HR Muslim). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=132&actio

n=display&option=com_muslim

Sudahkah mereka membelah dada para peziarah kuburan para wali songo dan kuburan orang-orang sholeh sehingga mereka tahu bahwa saudara-saudara muslim mereka menyembah kubur ?

Mereka pastikan bahwa peziarah kubur berdoa ke orang mati, dengan maksud semoga orang mati itu “menyampaikan” doa tersebut kepada Allah.

Mereka tidak memahami dengan apa yang dinamakan berdoa dengan tawasul atau bertawasul.

Mereka berkeyakinan bahwa orang yang ditawasulkanlah yang memberi manfat kepada yang bertawasul

Pendapat-pendapat mereka  kami ketahui antara lain dari http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/31/cara-mudah-mem

pelajari-aqidah-islam-3/  Pendapat yang bersunber dari Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Komite Tetap untuk Pengkajian Ilmiah dan Fatwa). Mereka yang memahami Al Qur’an dan Hadits lebih bersandarkan kepada pemahaman secara ilmiah, pemahaman secara logika / akal pikiran. Padahal kita tidak boleh hanya menyandarkan pemahaman secara ilmiah.  Jumhur ulama yang sholeh dalam memahami Al Qur’an dan Hadits menyandarkan kepada (karunia) Allah Azza wa Jalla untuk memperoleh pemahaman yang dalam atau pemahaman secara hikmah. Pemahaman dengan hati.

Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 )

Komite Tetap untuk Pengkajian Ilmiah dan Fatwa itu pulalah yang telah berpendapat terhadap Imam Nawawi sebagai “Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah). Jadi komite itu merasa pasti lebih benar dibandingkan keyakinan/i’tiqod Imam Nawawi dalam hal sifat-sifat Allah.  Hal ini terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/23/mereka-saja-ben

ar/

Kita, kaum muslim sudah paham, bahkan yang awam pun paham bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana firmanNya, wa-iyyaaka nasta’iin, “dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan“.

Bertawasul adalah bagian dari akhlak, adab dalam berdoa.

Bertawasul pada hakikatnya adalah penghormatan, pengakuan keutamaan derajat mereka (yang ditawasulkan) di sisi Allah Azza wa Jalla dan rasa syukur kita akan peran mereka menyiarkan agama Islam sehingga kita dapat mendapatkan ni’mat Iman dan ni’mat Islam.

Bertawasul yang paling sederhana adalah dengan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“.

Bertawasul yang lain adalah sebelum berdoa meng”hadiah”kan bacaan al fatihah untuk orang-orang sholeh umumnya untuk yang telah wafat. Ini termasuk bertawasul dengan amal kebaikan/sholeh kita.

Hadits riwayat ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, bahwa Rasulullah menyebutkan dalam doanya (bertawasul dengan para nabi): “Dengan haq NabiMu dan para Nabi-Nabi sebelumku“

Allah ta’ala saja mengutamakan mereka disisiNya, bagaimana kita sebagai hamba Allah ta’ala tidak mau mengakui keutamaan mereka ?

Sungguh barang siapa mengakui hak wasilah (perantara) dan keutamaan Rasulullah , maka ia berhak mendapatkan syafa’at Beliau pada hari kiamat.

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Abu Hamzah dari Muhammad Al Munkadir dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berdo’a setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA’WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA’IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB’ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA’ADTAH (Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan) ‘. Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR Bukhari)

http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=12&actio

n=display&option=com_bukhari

Rasulullah tidak pernah melarang  bertawasul baik dengan yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Bahkan Ibnu Taimiyah, ulama panutan mereka,  berkomentar dalam kitabnya Al-Kawakib Al Durriyah juz 2 hal. 6 yaitu: “Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati seperti yang dianggap sebagian orang. Jelas shohih hadits riwayat sebagian Sahabat bahwa telah diperintahkan kepada orang-orang yang punya hajat di masa Kholifah Utsman untuk bertawasul kepada Nabi setelah beliau wafat (berdo’a dan bertawasul di sisi makam Rasulullah) kemudian mereka bertawasul kepada Rasulullah dan hajat mereka terkabul,  demikian diriwayatkan al-Thabary”

Berikut contoh bertawasul ketika menziarahi Rasulullah dan para Sahabat.

Bertawasul ketika menziarahi  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membaca doa

Artinya : Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkat-Nya untukmu. Selamat sejahtera atasmu wahai Nabiyallah. Selamat sentosa atasmu wahai makhluk pilihan Allah. Selamat sejahtera aasmu wahai kekasih Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan ( yang disembah) selain Allah, Yang Esa/ Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya dan engkau adalah hamba-Nya serta rasul-Nya. Dan saya bersaksi, bahwa Engkau telah menyampaikan risalah engkau telah menunaikan amanat egkau telah memberi nasihat pada ummat, engkau telah berjihad di jalan Allah maka selamat-Nya, untukmu selawat yang berkekalan sampai hari kiamat, Wahai tuhan kami, berilah kami ini kebaikan di dunia dan kebaikan pula di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Allah, berilah pada beliau kemuliaan dan martabat yang tinggi serta bangkitkan dia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya, sesungguhnya Engkau tidak akan memungkiri janji.

Bertawasul ketika menziarahi Sayyidina Abu Bakar Siddiq ra

Artinya : Selamat sejahtera padamu wahai khalifah Rasulullah, Selamat sejahtera padamu wahai teman Rasulullah dalam gua. Selamat sejahtera padamu wahai kepercayaan atau rahasianya Allah memberikan ganjaran padamu dari kami dengan semulia-mulia ganjaran pada ikutan ummat nabiyallah. Engkau telah meneruskan khalifahnya dengan sebaik-baik Khalifah dan engkau telah menuruti jalannya dan garisnya dengan sebaik-baik jalan. Engkau telah membela islam, engkau telah menghubungkan silaturahmi dan engkau senantiasa menegakkan kebenaran sampai engkau mendapat keyakinan yang nyata. Maka selamat sejahtera padamu dan rahmat serta berkat Allah jua untukmu.

Bertawasul ketika menziarahi Sayyidina Umar bin Khattab ra

Artinya : Selamat sejahtera padamu wahai mercu suar islam, selamat sejahtera padamu wahai orang yang tegas memisahkan haq dari yang batil. Selamat sejahtera padamua wahai orang yang bicara dengan benar, engkau telah membela anak yatim. Engkau telah menghubungkan silaturrahmi dan denganmu Islam telah menjadi teguh dan kuat. Selamat sejahtera dan rahmat Allah jua padamu.

Bertawasul ketika menziarahi Sayyidina Usman bin Affan ra

Artinya :Assalamu’alaika wahai usman bin Affan yang memiliki dua nur. Assalamu’alaikum wahai Khalifah rasyidin yang ketiga. Assalamu’alaikum wahai orang yang mempersiapkan bala tentara di masa perang dengan harta dan raga, yang telah menghimpun Qur’an dalam suatu kitab tersusun. Semua umat Rassulullah SAW berdoa semoga Allah mengganjari engkau dengan ganjaran yang sebaik-baiknya. Ya Allah ridhailah dia, angkat tinggilah derajat martabatnya. muliakan kedudukannya dan tambah banyaklah pahalanya amien.

Bertawasul ketika menziarahi   Sayyidina Hamzah di Uhud.

Artinya : Assalamu’alaikum wahai sayyidina Hamzah bin abdul Mutthalib. Assalamu’alaikum wahai singa Allah dan Singa Rasulullah. Assalamu’alaikum wahai penghulu sekalian syuhada.

Kami ingatkan kembali bahwa  pada hakikatnya bertawasul adalah penghormatan, pengakuan keutamaan derajat mereka (yang ditawasulkan) di sisi Allah Azza wa Jalla dan rasa syukur kita akan peran mereka menyiarkan agama Islam sehingga kita dapat mendapatkan ni’mat Iman dan ni’mat Islam.

Bertawasul itu boleh kita ibaratkan ketika kita menyampaikan karya tulis atau skripsi yang diawali terlebih dahulu puji Syukur kepada Allah Azza wa Jalla dan sholawat kepada Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para keluarganya, Sahabatnya kemudian dilanjutkan penghormatan, pengakuan dan ucapan  terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung dan membantu  terwujudnya karya tulis / skripsi tersebut.

Selengkapnya tentang bertawasul telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.

com/2011/02/23/bertawasullah/

Jadi  pada zaman ini mereka tidak  bertawasul dengan Rasulullah karena Rasulullah telah wafat.

Bagi mereka Rasulullah pada saat sekarang ini tidak lagi mempunyai manfaat karena Rasulullah telah wafat.

Semua itu terjadi karena mereka memahami Al Qur’an dan Hadits menyandarkan kepada pemahaman secara ilmiah, secara logika atau ra’yu / akal pikiran mereka sendiri atau pemahaman secara dzahir.  Metode pemahaman seperti inilah yang dipengaruhi (ghazwul fikri) oleh pusat-pusat kajian Islam yang didirikan kaum non muslim, para orientalis yang dibelakang semua itu adalah kaum Zionis Yahudi. Padahal manusia mempunyai dua sisi yakni jasmani  (dzahir) dan ruhani (ghaib/bathin).

Orang-orang yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla yakni para Nabi, para Shiddiqin , para Syuhada dan orang sholeh-sholeh walaupun mereka secara dzhahir telah wafat namun mereka hidup dan ditempatkan oleh Allah Azza wa Jalla ditempat/kedudukan (maqom) yang dikehendakiNya

Anas bin Malik berkata, “Lalu dia menyebutkan bahwa dia mendapati pada langit-langit tersebut Adam, Idris, Isa, Musa, dan Ibrahim -semoga keselamatan terlimpahkan kepada mereka semuanya- dan dia tidak menyebutkan secara pasti bagaimana kedudukan mereka, hanya saja dia menyebutkan bahwa beliau menjumpai Adam di langit dunia, dan Ibrahim di langit keenam.” (HR Muslim)

Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=229&actio

n=display&option=com_muslim

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. ( QS Al Hujurat [49]:13 )

Tentulah tempat/kedudukan (maqom) yang paling mulia, paling dekat, di sisi Allah Azza wa Jalla adalah manusia yang paling mulia, sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Para Sahabat menyampaikan tawasul dengan orang-orang sholeh baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup ketika kita membaca doa tasyahhud bahwa “sesungguhnya jika kita mengucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih baik di langit maupun di bumi“. Perkataan ini dilukiskan dalam hadits pada http://www.indoquran.com/index.php?surano=60&ayatno=25&actio

n=display&option=com_bukhari

Hamba-hamba shalih yang di langit adalah hamba-hamba shalih yang secara dzahir sudah wafat namun mereka hidup di sisi Allah Azza wa Jalla sebagaimana para Syuhada, sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wa Jalla yang artinya.

”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan(sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Atas izin Allah Azza wa Jalla mereka yang mencintai Rasulullah dapat bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau bertemu dengan orang-orang yang disisi Allah Azza wa Jalla dengan cara/jalan yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla

Muslim yang mencintai Rasulullah maka mereka dapat merasakan secara bathin (ghaib) bahwa Rasulullah hidup di sisi Allah Azza wa Jalla ditempat yang paling agung dan mulia atau merasakan Rasulullah hidup di dalam hati dengan sikap mengagungkan dan memuliakan Rasulullah.

Selengkapnya tentang Rasulullah hidup walaupun secara dzahir telah wafat telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/rasulullah-hidu

p/

Wassalam

oleh Anggota WLML

Comments
  1. De' DuNye
    • mbahlalar
  2. alieN
  3. abu faiq
  4. abu faiq
    • mbahlalar
  5. saefullohkahfi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *