Home Al-kisah Waliyullah Syekh Yusuf “Tuanta Salamaka” Almakassary albantany

Waliyullah Syekh Yusuf “Tuanta Salamaka” Almakassary albantany

Saudaraku yang budiman…

Jika kita menilik sejarah perkembangan Islam di Sul – sel, maka sosok beliau memiliki pengaruh yang mengakar kokoh dalam hasanah budaya, kultur,dan nilai –nilai islami dalam masyarakat, khususnya lingkungan yang nilai – nilai mistis adalah nafas kesehariannya.

Ini terjadi berangsur – angsur sejak 400 tahun silam – walaupun beliau tidak terlibat di dalamnya secara langsung – mengingat sebahagian besar usianya dihabiskan di Jazirah arab,Tanah jawa, Srilangka dan Afrika Selatan.

Beliau dilahirkan pada tahun 1626 (rahimallahu anhu) dari seorang ibu keturunan bangsawan Gowa dan berayah sosok tua sakti yang diyakini sebahagian besar pengikutnya adalah Nabi Khaidir AS. Dilahirkan di istana raja Tallo, mangkubumi kerajaan Goa yang bergelar Sultan Abdullah awalul islam (rahimallahu anhu). Yang tepatnya di Sinassara suatu tempat yang berarti “berpendarnya cahaya”. Tempat ini diberi nama demikian, karena menurut catatan istana (lontara billanga ri tallo) pada saat beliau dilahirkan mucul cahaya yang berpendar indah hingga beberapa kilo jauhnya dan mampu disaksikan mata kepala dari istana raja Gowa yang jaraknya cukup jauh ke timur. Kejadian ini di amini oleh dua sosok ulama sufi terkenal pada waktu itu yang digelari oleh rakyat “ Karaengta Dato’ ri Pagentungan” dan “Karaengta lo’mo ri Antang” (rahimallahu anhuma). Mereka berpesan kepada murid dan anak cucunya bahwa kejadian itu mengibaratkan bahwa telah lahir seorang anak manusia yang akan membawa pengaruh besar pada agama nusa dan bangsa. Dan hal ini terbukti dikemudian hari, bahwa beliau adalah salah satu sosok berilmu tinggi, gigih mengusir Belanda di Banten dan digelari oleh Nelson Mandella presiden Afrika Selatan yang terkenal itu dengan kalimat “Salah satu putra terbaik Afrika Selatan”.

Usia remaja beliau dihiasi dalam medan menuntut ilmu dari ulama-ulama besar saat itu di kerajaan Goa-Tallo. Dimulai dari Anrong gurutta Daeng Ri Tasammang yang digelari “Petta kali Goa” kemudian Syekh Al arifbillah Habib Jalaluddin Al –Aidit yang memperoleh gelar di masyarakat “Karaengta Dato ri Cikoang” (rahumallahu anhuma).

Umur 18 tahun beliau memulai safari perantauan dalam menuntut ilmu, dimulai dengan singgah sebentar di Kerajaan Banten, bersahabat dengan putra Mahkota Pangeran Surya yang kelak ketika menjadi raja bergelar “Sultan Ageng Tirtayasa”, serta singgah di Samudra Pasai untuk menuntut ilmu dari ulama besar pada saat itu Syekh Al arifbillah Nuruddin Arraniry (rahimallahu anhuma). Untuk memperoleh silsilah thariqat Qadhariyah.

Kurang lebih 20 tahun beliau habiskan usianya di jazirah arabiyah menuntut ilmu dari ulama – ulama tersohor pada waktu itu dari setiap cabang ilmu, terkhusus ilmu tasawwuf hingga mendapat izin menyebarkan ajaran sufi dari thariqah Naqsabandiyah,Qadariyah,Saadah​ Baalawiyah,Syatariyah, Maulawiyah, dll. Puncaknya saat beliau memperoleh izasah dari thariqah Khalwatiyah di Damaskus dari imam zaman pada waktu itu Saydina Syekh Abul Ayyub Albarakaty Alkhalwaty dan memperoleh gelar dari gurunya itu “Abul Mahasin Tajul Khalwatiyah” bermakna “sang pemilik sifat-sifat baik permatanya khalwatiyah”. (rahimallahu anhum).

Umur yang tersisa beliau gunakan untuk menyebarkan agama, menulis buku, berjihad dan merubah kultur masyarakat pada waktu itu dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam yang humanis. Itu terlaksana ketika beliau bermukim di kerajaan Banten dengan Rajanya Sultan Ageng Tirtayasa. Jejak pengaruh yang beliau tinggalkan masih dapat dilacak hingga kini mulai dari Sulawesi Selatan – Banten – Srilangka hingga Afrika Selatan. Salah satu contoh adalah pentas kesenian Debus di Banten.

Di Sulawesi Selatan pengaruh dan ajarannya tertanam secara tidak langsung oleh murid –murid beliau yang belajar dan berjihad bersama di Banten untuk mengusir Belanda, yang mana saling bahu – membahu dengan Sultan Ageng Tirtayasa, khususnya dua murid beliau yang terkemuka Syekh Abdul Basyir Arrafany dan Syekh Jamaluddin bin thalib Almakassary (rahimallahu anhuma).

Kedalaman ilmunya di bidang tasawwuf di akui oleh para ulama di jamannya hingga sekarang. Ini dapat kita warisi dari beberapa kitab buah tangan beliau – yang di belakang hari disatukan oleh Prof dr. Tudjimah dengan judul buku “Syekh Yusuf Makassar – Riwayat dan ajarannya” terbitan UI Press 2005 (semoga Allah membalas jerih payahnya dengan kebaikan).

Dalam dunia suluk untuk dapat memperoleh kedudukan pecinta sejati di sisi Allah beliau sangat menekankan metode zikir sepenuh hati terus menerus tak mengenal waktu dan tempat, selalu berbaik sangka kepada Allah,tidak berputus asa, berakhlak yang terpuji kepada semua makhluk, khususnya sopan santun dan tata krama yang baik kepada guru yang membimbing cara mensucikan jiwa dan hati agar siap untuk di isi dengan cahaya Ma’rifat dan Mahabbah kepada Allah.

Saudaraku yang budiman…

Suatu saat ketika sempat mampir ke Cape Town Afrika Selatan dan bila bertemu dengan penduduk setempat, siap – siaplah mendengar pertanyaan klasik dari bibir mereka,”Are you indonesian? Do you know Syekh Yusuf? Dengan raut wajah penuh hormat tuk menanti sebuah jawaban.
Disaat itu mungkin goresan pena ini akan bermanfaat bagi anda.. :)

Semoga Allah merahmati kita semua

Comments
  1. kokol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *