April 20, 2014
Home » mozaik » BELAJAR KEPADA SANTRI “KYAI” KUNO

BELAJAR KEPADA SANTRI “KYAI” KUNO

Dalam beberapa tahun pelatihan Hisab Rukyat yang dilaksanakan oleh lajnah falakiyah PWNU JATIM yang diikuti oleh para ustadz, santri, dosen falak se-Jawa Timur yang kebetulan kami termasuk team Nara Sumber tergerak hati saya untuk memperhatikan sosok salah satu peserta pelatihan yang kebetulan aktif, beliau dari sisi penampilan jauh berbeda dari kebanyakan peserta yang rata-rata masih muda, ganteng, dengan penampilan yang modis walau kebanyakan masih memakai “baju kebesaran” santri sebagai identitas yang melekat, tapi peserta yang satu ini sudah sepuh (70-an), berpenampilan sederhana dan cocok di identifikasi santri salaf dan kuno, berjenggot, dan tidak lupa rokok kretek yang selalu ada di jari tangan dan mulutnya.

Ketertarikan saya pada sosok ini bukan karena kecerdasan dalam menyerap materi yang disampaikan oleh nara sumber tetapi keseriusan dan ketekunan beliau dalam mengikuti pelatihan jauh melebihi peserta yang lain, saat saya bertemu dan berdiskusi dengan beliau yang berasal dari Jember, keterkejutan saya ternyata beliau seorang yang berbahasa jawanya sangat halus mirip orang Jawa Tengah dan bukan dialek Jawa Timuran Suroboyoan, karena beliau sendiri adalah keturunan dari Magelang, kebetulan beberapa daerah di Bayuwangi tempat kelahiran beliau ada masyarakat yang mayoritas masyarakat Jawa tengah, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, dan Blitar.

Dari hasil diskusi dan ngobrol ala santri di Pesantren saya diberi segepok folio lembar kerja garapan waktu sholat yang jumlahnya ratusan lembar yang ditulis sendiri dengan rapi dengan tulisan tangan memakai angka-angka arab, sepintas saya perhatikan beliau mengerjakan dengan menggunakan kitab Durusul falakiyah sebuah kitab magnum opus karya ulama pesantren yang disusun oleh KH. Maksum AliJombang (menantu Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari), beliau kyai ini mengerjakan perhitungan dengan tetap memakai rubu ‘(kwadran) dan dengan angka dari tabel pada kitab sejumlah 365 hari, dalam benak saya dalam modern ini kok masih ada orang mengerjakan sebegitu teliti, tekun dan secermat seperti ini, saya saja sudah tidak begitu peduli dan lebih suka dengan memekai calculator bahkan dengan program komputer, walau dahulu pernah belajar seperti sang kyai tadi.

Ternyata dalam obrolan santai tadi beliau banyak bertanya kepada saya tentang materi pelatihan tadi yang memang saya akui akan sangat sulit untuk dicerna para santri kuno karena perkembangan yang menuntut demikian, hamper semalaman saya ditanya diselingi dengan minum kopi dan menghabiskan rokok sebungkus, tidak rasa kesungkanan beliau dihadapan peserta yang lain yang masih dalam istirahat, saya sendiri harus kembali menjelaskan materi yang disesuaikan dengan pelajaran falak tempo dulu dan di korelasikan dengan waktu kekinian, obrolan kami dan diskusi kami semakin asyik sampai beliau Alhamdulillah sudah merasa puas akan diskusi kami, tibalah dalam benak saya diskusi akan berakhir namun tiba-tiba beliau meminta saya untuk berdoa sebagai rasa syukur atas “keterfahaman” beliau atas materi pelatihan sebelumnya, saya menjadi terkejut luar biasa kok bias beliau yang sepuh malah meminta saya yang masih “hijau” dari ilmu dan umurnya untuk berdo ‘a, dengan memaksa beliau meminta saya untuk berdoa sehingga “terpaksa” saya berdo’a menuruti permintaan beliau.

Akhirnya dalam batin saya berterimakasih kepada Pak Kyai tadi yang telah memberikan pencerahan pada saya luar biasa, dan “matur nembah nuwun MBAH YAI”.

 

BAPA’E OCHA


One comment

  1. Ah,sosok yg luar biasa…..engajar dengan kerendahan hati…pertanda baik mbah,insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>